Perjalanan Wisata Bandung-Cipatujah via Pangalengan

Met Lebaran ya! Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438 Hijriah! Ke mana saja liburan Lebaran anda tahun ini? Asyik ya, liburan Lebaran tahun 2017 ini panjang. Sepekan. Dari hari Minggu ke hari Minggu.

Dalam kesempatan kali ini, saya ingin menceritakan perjalanan wisata saya menuju kawasan selatan Tasikmalaya. Biasalah, masih seputar pantai selatan Jawa Barat. Perjalanannya pun masih melalui “jalan yang tak biasa” yaitu kali ini melalui Pangalengan. Kelak atau bahkan saat ini, “jalan yang tak biasa” itu tampaknya “sudah biasa” karena banyaknya pihak yang kini melintasinya. Jadi, rute perjalanan saya kali ini yaitu Bandung-Pangalengan-Talegong-Cisewu-Rancabuaya-Cikelet-Pameungpeuk-Cibalong-Cipatujah.

[Catatan: Jika diperhatikan, sebetulnya setelah kota Bandung itu terdapat nama-nama kecamatan yang dilalui yaitu Dayeuhkolot, Pameungpeuk, Banjaran, Cimaung, dan Pangalengan. Begitu pun Rancabuaya yang bukan merupakan nama kecamatan.]

Oh ya, perjalanan saya kali ini tampaknya hanya menikmati perjalanannya saja. Maksudnya, saya tidak berkunjung ke lokasi wisata pantainya. Tampaknya perlu waktu banyak untuk menikmati setiap pantai di sepanjang pantai selatan Jawa Barat. Perlu menginap. Lebih dari itu, sebetulnya, saya ingin menikmati suasana arus mudik atau arus balik yang dilakukan orang-orang he he he.

Rabu, 28 Juni 2017, saya melakukan touring menuju kawasan pantai selatan Jawa Barat di kabupaten Tasikmalaya. Berangkat dari tempat tinggal saya di kawasan utara kota Bandung menjelang pukul setengah tujuh, saya tiba di Alun-alun Banjaran pada pukul 07.20 WIB. Jarak dari rumah ke Banjaran ini sudah mencapai lebih kurang 25 km dihitung berdasarkan speedometer motor yang saya pakai. Tentu tidak dihitung dari Km 0 Kota Bandung ataupun via Google. Begitulah kira-kira.

Saat itu, suasana jalan raya di kota Bandung masih lengang. Saking lengangnya, ada beberapa pengendara motor (dan satu mobil sedan mewah) yang menerobos lampu merah. Itu memang bukan kejadian yang aneh dalam keseharian. Saya menceritakan hal itu untuk mengesankan bahwa pagi itu lalu lintas sangat lengang. Hal yang perlu dicatat ialah bahwa peristiwa seperti itu belum tentu menguntungkan. Terbukti, mereka masih bisa dilewati oleh pengendara lainnya, termasuk oleh saya. Waktu tempuh Bandung-Banjaran selama kurang dari satu jam itu bisa dianggap prestasi. Maklum, jika macet, biasanya saya bisa mencapai 1,5-2 jam. Sampailah saya di Alun-alun Banjaran.

Beberapa meter kemudian, saya sudah berada di persimpangan (pertigaan) “lampu merah”. Saya pun belok kiri menuju Jalan Raya Banjaran-Pangalengan karena jika lurus akan melintasi Jalan Raya Banjaran-Soreang. Jalan Raya Banjaran-Soreang inilah yang di depan akan menuju Ciwidey atau bahkan balik lagi menuju kota Bandung melalui Jalan kopo.

Karena tujuannya menuju Pangalengan, tentu saya melintasi Jalan Raya Banjaran-Pangalengan. Saat itu, sejak persimpangan “lampu merah” dan hampir di sepanjang kiri jalan tampak beberapa rombongan pemotor. Perkiraan saya, ada rombongan keluarga dan ada pula rombongan komunitas/klub. Rombongan itu biasanya sambil menunggu kawan-kawannya sesama rombongan. Namanya juga touring. Banyaknya rombongan itu sering tampak di sepanjang perjalanan saya hingga pulang ke rumah. Artinya, banyak pihak yang melakukan touring. Hari itu jalanan memang cenderung padat. Sungguh ramai.

Dalam perkembangannya, saya pun tiba di Pangalengan pada pukul 08.06 WIB. Saya menyebutnya marka bundaran Pangalengan yang di dekatnya terdapat Terminal Pangalengan. Sebelumnya atau tidak jauh dari sini sudah terdapat papan petunjuk jalan berwarna hijau: Cisewu/Rancabuaya (ke kanan) dan Cibolang/Malabar (ke kiri).

Dari marka bundaran Pangalengan, kira-kira 5 km di depan, saya sudah melewati pintu gerbang Situ Cileunca (di kiri). Sebelumnya, “tempat wisata” lain yang berjejer pun sudah berdiri semacam DAM Pulo. Ya, semacam kios atau rumah makan di Punclut (Bandung Utara) yang di sini pemandangan (view)-nya ke situ (danau). [Saya memperhatikan bahwa tempat-tempat yang memiliki potensi ekonomi ini memang sudah dimanfaatkan warga. Misalnya, pemandangan perkebunan teh dan kemudian pemandangan pantai di sepanjang pantai selatan.]

Sebelum dan sesudah kawasan Situ Cileunca itu diwarnai oleh perumahan dan perkebunan teh, selain jalannya yang berkelok-kelok. Hingga akhirnya saya bertemu persimpangan ke kiri dan ke kanan. Di persimpangan ini ada Polsek Talegong. Ini kenangan. Saya selalu mengingat persimpangan ini karena pengalaman pertama saya pernah nyasar he he he. [Ceritanya ada di sini.]

Lalu, 3 km dari Polsek Talegong, tibalah saya di Alun-alun Talegong. Ketika saya melintas, wah sudah ramai tuh yang berfoto-foto. Kesan saya, Alun-alun Talegong ini merupakan Alun-alun yang berada di tengah “leuweung”. Jadinya unik. Namun, tampaknya, ada gong raksasa dan tulisan “Alun-alun Talegong”. Kira-kira begitulah ya?!

Melintasi wilayah Talegong dan Cisewu, kita disuguhi pemandangan perkebunan teh, perkebunan biasa, persawahan, jembatan sungai, jalan yang berkelok-kelok, bukit dan lembah, termasuk tanjakan/turunan yang curam. Jalannya sih bagus, beraspal mulus, meski ada juga yang tidak rata. Satu hal yang patut diapresiasi ialah ketika warga mengatur lalu lintas di tanjakan/turunan curam. Jika tidak, kendaraan (terutama mobil) bisa tersendat dari dua arah. Biasanya mereka menyediakan kencleng seikhlasnya meskipun ada yang memberi atau tidak. Ya, seperti di lokasi mana pun, umumnya begitu. Mobil terbesar, yang saya perhatikan, bisa jadi truk colt-diesel Mitshubishi Tiga Berlian. Bus besar mah tampaknya belum bisa! Apalagi dua arah. Entahlah, karena saya belum pernah melihatnya.

Dalam perjalanannya, hampir di setiap “rumah makan”, beberapa rombongan tampak menunggu kelengkapan jumlah peserta. Itu perkiraan saya. Sekali lagi, namanya juga rombongan touring.

Kira-kira 57 km dari marka bundaran Pangalengan tadi, saya sudah tiba di persimpangan yang menempatkan papan petunjuk berwarna hijau: Bungbulang (ke kiri) dan Rancabuaya (ke kanan). Saya kira, hingga perjalanan saya saat ini, inilah persimpangan satu-satunya yang memiliki papan petunjuk. Sebelumnya hanyalah persimpangan biasa. Di persimpangan ini, saya tiba pada pukul 10.18 WIB. Bukan soal cepat atau lambat, jalanannya memang tidak mudah, khususnya area belokan blindspot dan mobil (umumnya) yang berada di depan. Kalau memakai mobil, tampaknya bisa lebih lama lagi karena mengantre. Tidak mudah untuk menyalip.

Pantai Rancabuaya

Setelah persimpangan ini, jalan hingga Rancabuaya sangat bagus. Beraspal mulus. Seingat saya, tidak ada yang rusak. Pokoknya mirip sirkuit. Kalau mau, kecepatan bisa tinggi karena jalanan masih lengang. Dikatakan lengang, mungkin saja iring-iringan mobil yang saya atau pengendara motor lain lewati masih tertinggal jauh. Saya bisa melihat pemandangan ke segala arah. Apalagi jika berada di atas bukit, pemandangan benar-benar terhampar luas, termasuk pemandangan laut lepas ketika perjalanan hendak berakhir di persimpangan Rancabuaya. Saya pun tiba di persimpangan Rancabuaya pada pukul 10.45 WIB. Singgah dulu di minimarket. Suasana Lebaran, benar-benar ramai.

Inilah persimpangan (perempatan): ke belakang (Cisewu/Talegong/Pangalengan), ke kiri/timur (Cikelet/Pameungpeuk), ke kanan/barat (Pantai Jayanti/Cidaun/Sindangbarang atau bisa balik lagi ke Bandung via Cidaun/Naringgul/Ciwidey), dan lurus/selatan (Pantai Rancabuaya). Bergerak ke Pantai Rancabuaya yang berjarak lebih kurang satu kilometer, saya singgah di sini selama 40 menit.

Pameungpeuk

Bergerak dari persimpangan Rancabuaya pada pukul 11.23 WIB, saya menuju Cikelet dan Pameungpeuk. Setiap kali melintas ke arah sini, saya masih ingat, semoga tepat, kita akan melewati 13 jembatan sungai yang beratap dan 11 jembatan sungai yang tidak beratap. “Beratap” dan “tidak beratap” itu istilah saya. Sungai-sungai itu tentu bermuara ke laut. Ya, di sepanjang perjalanan itulah kita disuguhi pemandangan pantai dan laut lepas. Seperti biasa, perjalanan saya (dan juga pengendara lain) dialiri angin dari laut (di kanan). Sementara di arah kirinya terpampang pegunungan.

Ketika saya melintas saat itu, tampaknya kita harus berhati-hati setiap melewati jembatan. Ada beberapa jalan yang rusak. Bagaimana tidak, kita merasa nyaman mengendarai kendaraan di jalur yang bagus dengan kecepatan yang relatif tinggi, tiba-tiba terdapat jalan rusak yang tidak terlihat di awal jembatan. Maklum, jembatan itu berada di lembah sehingga awal dan akhir jembatan itu tentu berupa tanjakan dan turunan. Wah, kendaraan (motor) saya hampir kena. Ternyata, ada rombongan yang berhenti di sekitar jembatan itu. Saya kira, salah satu atau beberapa motor di antara mereka mengalami “kekagetan” itu pada motornya. Ya, mereka melihat pada motornya. Bagaimana pun, itu dugaan saya. [Semoga pihak yang berwenang bisa segera memperbaiki jalan yang rusak itu.] Oh ya, ada juga bus besar trayek Pangandaran-Sindangbarang yang lewat.

Menjelang Pameungpeuk, jalanan menjadi macet di kedua arah. Maklum, mungkin libur Lebaran. Kemecetan itu disebabkan, antara lain oleh persimpangan Pantai Sayangheulang dan persimpangan Pantai Santolo. Selain itu, Pameungpeuk ibarat kota. Ramai. Diiringi pepohonan dan persawahan, tampak banyak permukiman dan rumah makan.

Satu-satunya tujuan saya di sini yaitu masuk SPBU Pameungpeuk. Inilah satu-satunya SPBU yang saya temui sejak dari Pangalengan. Kalau POM Mini sih banyak! [Satu SPBU lagi di Pantai Jayanti, tetapi kali ini saya tidak melewatinya karena via Pangalengan, bukan Ciwidey.] Sejak dari rumah, saya sudah mengisi bensin penuh (full). Ketika di SPBU Pameungpeuk pun sebenarnya, bensin motor saya baru setengahnya. Namun, saya bersiap-siap untuk perjalanan menuju kawasan selatan Tasikmalaya.

Hari itu benar-benar padat. Ramai. Perjalanan dari Rancabuaya ke Pameungpeuk (SPBU) sepanjang lebih kurang 35 km. Oh ya, saya antre menunggu giliran di SPBU itu mencapai 30 menitan.

Bergeser dari SPBU Pameungpeuk dan kemudian Alun-alun Pameungpeuk, saya melanjutkan perjalanan. Beberapa meter setelah melewati jembatan sungai, saya tidak lurus melintasi jalur Pameungpeuk-Cikajang sebagaimana perjalanan terdahulu, tetapi belok kanan ke Cibalong. Ada persimpangan di sini. Persimpangan ini benar-benar padat karena memang seperti kota. Juga marka “benang rafia” he he he.

Dari Cibalong ke Cipatujah

Cibalong merupakan nama kecamatan di kabupaten Garut, sedangkan Cipatujah merupakan nama kecamatan di kabupaten Tasikmalaya. Kecamatan Cibalong dan Kecamatan Cipatujah itu menjadi batas antara kabupaten Garut dan kabupaten Tasikmalaya.

Kali ini, saya memasuki jalan raya kecamatan Cibalong kabupaten Garut. Jika perjalanan di Pameungpeuk mengalami kemacetan, saya benar-benar dimanjakan oleh jalan kecamatan Cibalong. Saat itu, keadaan jalan tampak lengang. Jalannya lebar. Bus besar bisa lewat dari kedua arah. Saya melihat terdapat bus Pangandaran-Sindangbarang yang lewat. Ada permukiman warga dan pusat keramaian. Di kanan/kiri tampak persawahan. Kering. Saya kira, habis panen. Tampak dari kejauhan, kira-kira satu kilometer berdasarkan optik penglihatan saya, tampak laut lepas. Wuih, anginnya kencang. Motor bisa digeber 60-80 km/jam. Bahkan bisa lebih, kalau mau. Namun, nikmati saja pemandangannya. Tanpa ada “perlawanan”, ini ibarat sirkuit milik sendiri he he he. Sungguh mengasyikkan. Selain lebar, apalagi tidak ada area blindspot sebagaimana jalur Pangalengan-Talegong-cisewu.

Setelah menikmati jalan yang panjang, saya memasuki wilayah perkebunan Miramare. Di kanan/kiri tampak hutan. Pepohonan. Khusus di jalan perkebunan Miramare ini tidak ada pantai yang terlihat. Juga tidak ada permukiman warga, kecuali “kantor perkebunan”. Bisa dikatakan, jalan dibiarkan sepi. Namun, saya semakin dimanjakan jalan raya. Jalannya tetap lebar. Dibeton dan beraspal. Juga marka garis lurus dan terputus-putus. Berbeda dengan jalan Cibalong tadi yang dibeton saja. Mungkin belum? Entahlah. Sekali lagi, ketika saya melintas saat itu, ini ibarat sirkuit milik sendiri. Perhatikan saja jalan tol, tanpa blindspot! Anda pernah main game balapan mobil/motor? Begitulah kira-kira kita memandang layar monitor ke depan. Motor dan mobil yang jarang dari arah berlawanan pun tampak menikmatinya. Namun, di sepanjang jalan yang mantap dan panjang ini, saya tidak melihat bengkel atau penjual BBM. Ya, karena sepi itu tadi. Alhamdulillah, perjalanan saya lancar. Kalau rombongan kan ada kawan hi hi hi.

Ups, namun kita tetap harus berhati-hati. Saking nyamannya, kita bisa saja terlena. Menikung dan sekaligus menurunnya cukup enak. Saat itu, di depan, ada pemotor (berboncengan) yang terpeleset jatuh ketika menikung ke kiri. “Beruntung” mengenai rumput. Ya, pinggir jalannya memang tanah dan/atau rumput, bukan pinggir jalan yang berbatu itu loh. Saya pun berhenti sejenak. Bertanya, “tidak apa-apa?”. Setelah agak lama, mungkin masih shock, kedua orang itu menjawab “tidak!”. Ya, saya hanya melihatnya pegal-pegal, tidak luka-luka. Mungkin karena jatuh di rumput. “Saya duluan ya…”. [Semoga selamat!]

Setelah dimanjakan jalur Ciramare yang mulus, saya memasuki Cipatujah. Pemandangannya indah. Ada perbukitan di sisi laut. Jalannya masih bagus, beraspal, tetapi ada beberapa yang bolong-bolong sepanjang perjalanan. Ada beberapa pantai di sini, tetapi saya tidak mengunjunginya. Di sini masih jam 2-an siang.

Tibalah saya di persimpangan: Tasikmalaya/Simpang/Karangnunggal (ke kiri) dan Pantai Pamayang (ke kanan/lurus). Nah, saya ke kiri, ke Tasikmalaya. Maksudnya, ingin pulang ke Bandung.

Saya melintasi jalur Cipatujah-Karangnunggal, Karangnunggal-Sukaraja, dan Sukaraja-Pusat Kota (Tasikmalaya). Di pusat kota, saya benar-benar bingung. Tidak tahu jalan. Apalagi ada persimpangan (perempatan) yang ditutup memakai benang rafia seperti halnya di Bandung. Tentu saja saya harus memutar arah sambil mencari-cari celah. Ah, pokoknya ikuti saja arah Pusat Kota Tasikmalaya, yang penting nanti setiap ada petunjuk “Bandung” saya ikuti. Akhirnya, benar, saya sudah berada di jalan raya untuk jalur mainstream (menurut ukuran saya): jalur Bandung-Pangandaran via bus he he he.

Mulai jalur Gentong, jalan raya sudah dipadati kendaraan (mobil) terutama ke arah barat (Bandung). Cuaca hujan. Jas hujan tinggal dipakai. Tampak arus mudik/balik, plus wisatawan. Mobil-mobil tersendat. Berhenti. Namanya motor, tentu saja bisa masuk ke daerah kosong ketika macet. Bisa di kiri atau di kanan. Jika di kanan, tentu saja ketika jalanan relatif kosong karena mungkin ada pengaturan alur dari arah Bandung. Bisa juga berpapasan dengan kendaraan dari arah berlawanan (dan tetap harus berhati-hati).

Saya melintasi jalur Gentong ini pasca-ashar. Hari sudah sore. Alur mudik/balik sangat panjang (kadang terputus) hingga memasuki persimpangan Nagreg. Berarti sepanjang Tasikmalaya-Garut-Bandung. Kalau motor, tentu sudah sampai Bandung meskipun ikut macet juga. Saya tidak terbayang kapan mobil akan tiba di Bandung? Bisa jadi dini hari atau bahkan subuh.

Singkat kata, saya tiba di rumah, pada pukul 21.16 WIB. Saya telah mengendarai motor dari Bandung ke Bandung sejauh lebih kurang 389 km. Terima kasih sudah menyimak perjalanan saya kali ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: