Bunyi Klakson yang Membuat Berisik

Kalau mengendarai kendaraan, berapa kali anda membunyikan klakson? Saya sendiri, rasa-rasanya jarang membunyikan klakson. Bahkan istilah “jarang” itu bisa dikatakan tidak tepat. Soalnya, rasa-rasanya, saya (hampir) tidak pernah membunyikan klakson. Sesekali mungkin iya, tetapi jarak waktunya cukup lama juga. Ah, rasa-rasanya dua kali, di luar iseng. Itu pun bisa dikatakan jarang. Saya termasuk orang yang jarang iseng ha ha ha. Anda tidak percaya? Ya, terserah anda. Ini kan cerita saya. [Ayooo siapa saja yang pernah dibonceng saya, apakah anda merasakan dan bisa membuktikannya…?]

Ya, rasa-rasanya, saya hampir tidak pernah membunyikan klakson. Rasa-rasanya tidak. Membunyikan klakson, biasanya kita (saya) berada di belakang. Nah, biasanya pula, kalau tidak bisa-bisa amat menyalip, ya sabar saja. Toh tidak akan selamanya. Sebetulnya tidak hanya persoalan tentang menyalip. Salah satunya menyampaikan pemberitahuan agar pengendara di dekatnya, lebih tepatnya di depan, berhati-hati. Namun, tampaknya, tidak perlu begitulah, kita sajalah yang berhati-hati.

Berkaitan dengan itu, saya justru merasa kesal bin jengkel jika ada pengendara lain yang membunyikan klakson. Sungguh tidak efektif. Bagaimana tidak, kita tidak tahu apakah bunyi klakson itu ditujukan kepada kita ataukah pengendara lain. Malah justru membuat gaduh saja. Malah bikin kaget. Jadi, kalau tidak bisa menyalip, ya sabar saja. Apalagi kalau macet. Tidak jarang, secara refleks, saya sering memandang pengendara yang “diduga” membunyikan klakson. Soalnya, kadang saya pun tidak tahu siapa yang membunyikan klakson. [Dalam keadaan tertentu, klakson memang memiliki fungsinya. Namun, rasa-rasanya tidak perlu-perlu amat sepanjang waktu. Saya jadi teringat kabar SEA Games di Myanmar bahwa kabarnya di sana sepi klakson.]

Dalam konteks lain, pernah pada suatu waktu di Jalan Raya Lembang ketika macet, spion motor saya menyentuh spion mobil. Eh, malah diklakson. Kan kaget. Saya pun memandang bahwa persentuhan antarspion itu tidak telak. Tersenggol sedikit karena sempit dan perjalanan pun sebetulnya sedang tidak cepat. Ibaratnya hanya melewat ketika jalanan tersendat. Namanya juga macet. Satu hal yang saya sadari bahwa ada kalanya pengendara mobil tersebut “terkontaminasi” (he he he, bahasanya) oleh pemikiran bahwa pengendara motor itu nakal-nakal, liar, tidak bertanggung jawab. Akhirnya, klaksonlah yang dibunyikan dan bukannya membuka pintu jendela sebagai tanda menegur atau sopan santun. Toh saya pun bisa meminta maaf. Tapi ternyata, ya begitulah. Ya, saya semacam katempuhan oleh cara pandang yang umum (baca: menggeneralisasi).

Selain itu, pernah pula di Jalan Grand Hotel Lembang ketika jalan macet. Eh malah diklakson. Memangnya mau kemana? Mau terbang? Seperti yang saya ceritakan tadi, secara refleks, seringnya saya memandang. Mobil itu pun terdiam. Mau kabur, mungkin bingung, jalan kan sedang macet he he he.

Begitulah cerita saya. Oh ya, satu-satunya bunyi yang klakson yang saya maklumi yaitu bunyi klakson sopir angkot. Meskipun berisik, itulah kebiasaan angkot ketika mencari penumpang. Ah ada-ada saja….

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: