Perjalanan Misterius Menuju Sanghyang Tikoro, Sanghyang Poek, dan Sanghyang Heuleut

Minggu, 14 Agustus 2016. Saya (bersama Komunitas Aleut) melakukan perjalanan menuju Sanghyang Tikoro, sebuah wilayah yang “mengharuskan” kita memasuki kawasan Pusat Listrik Tenaga Air Saguling. Di dalamnya, tentu saja terdapat Sanghyang Poek dan Sanghyang Heuleut. Ini merupakan perjalanan pertama saya menelusuri jalan di kawasan ini yang mengingatkan saya pada film “Journey 2: The Mysterious Island”.

Kami memulainya di halaman KedaiPreanger yang berada di Jalan Solontongan No. 20 D Kota Bandung. Kami pun berangkat mulai pukul 08.19 WIB yang diikuti 19 motor, belum termasuk rekan yang menunggu di Kota Baru Parahyangan. Karena tujuannya menuju Sanghyang Tikoro, rute utama yang dilaluinya tentu saja Jalan Padalarang. Saya pun biasa menyebutnya Jalan Raya Bandung-Cianjur. (Bandingkan dengan Jalan Raya Bandung-Purwakarta yang ada “Cikalong Wetan”-nya).

Jalan-jalan di Kota Bandung yang dilalui yaitu Jalan Solontongan, Jalan Buahbatu, Jalan Soekarno-Hatta hingga Bundaran Cibeureum, dan Jalan Jenderal Sudirman hingga Tugu Batas Kota Bandung/Cimahi. Selanjutnya, memasuki Kota Cimahi, sepanjang Jalan Jenderal H. Amir Machmud, termasuk Jalan Gatot Subroto dan Jalan Lurah ketika “terpaksa” memutar di dalam kawasan Kota Cimahi. Setelah itu, rombongan motor pun memasuki jalan-jalan raya di Kabupaten Bandung Barat yang meliputi Cimareme, Ngamprah, Padalarang, Cipatat, dan Rajamandala. (Santai ya, kita ngobrol geografi dan otonomi daerah he he he).

Setelah melintasi Jalan Raya Bandung-Cianjur inilah, rombongan motor hendak belok kiri memasuki pintu gerbang (gapura) PLTA Saguling. Jika anda pernah atau bahkan sering melintasi jalur Bandung-Cianjur ini tentu akan melihat pintu gerbang tersebut secara jelas karena letaknya hanya beberapa meter dekat jalan raya. Beberapa meter sebelum belok, kami beristirahat sejenak di salah satu minimarket. Kegiatan ini dilakukan biasanya untuk memeriksa keberadaan peserta. Perjalanan naik motor sudah menghimpun waktu satu jam lima puluh menit.

Setelah belok ke jalan kawasan PLTA Saguling, kami menelusurinya. Beberapa saat di depan terdapat papan petunjuk berwarna hijau yang bertuliskan “Saguling 15 km” (ke kiri) dan “Indonesia Power 1 km” (ke kanan). Kami pun meneruskan perjalanan ke kanan.

Sanghyang Tikoro

Tidak lama kemudian, kami tiba di Sanghyang Tikoro. Tampak papan petunjuk berwarna hijau yang bertuliskan “Lokasi Wisata Sanghyang Tikoro”. Kira-kira 30-50 meter di depan, kami memarkirkan motor. Beristirahat sejenak.

Lalu, turunlah kami ke bawah dengan menuruni anak tangga. Sambil berbagi cerita tentang “Bandung Purba”, beberapa di antara kami memfoto-foto Sanghyang Tikoro. Di sini, di tempat ini, dijelaskan “Bandung Purba” dan “Citarum Purba”, termasuk beberapa daerah yang mengandung “air”. Sebut saja Ci, Balong, Bojong, dan Situ.

Oh ya, air sungai di Sanghyang Tikoro ini mengalir ke mana ya? Misterius (katanya sih begitu). Kalau melalui gua Sanghyang Tikoro, ya tentu saja. “Tikoro” ini kan diartikan sebagai tenggorokan atau kerongkongan. Nah, air sungai itulah yang memasuki tikoro, sebuah lorong yang gelap. Begitulah kira-kira.

Jika sejak Kota Bandung tadi melakukan perjalanan naik motor, kini rombongan berjalan kaki. Haaa…!!! Kami pun memasuki kawasan PLTA Saguling (baca: bukan bangunan kantornya). Di sekitar wilayah ini pun kabarnya tertutup. Hal itu tampak pula pada papan petunjuk berwarna merah yang bertuliskan “Daerah Tertutup”. Dari kejauhan tampak pipa-pipa besar berwarna kuning. Tampak menjulang ke atas bukit.

Menurut security, kawasan ini katanya memang tertutup karena sedang mengerjakan proyek pada hari biasa. (Perjalanan ini kan weekend alias Sabtu/Minggu sehingga tidak ada kegiatan pengerjaan proyek). Saya mengetahui hal itu karena saya sempat mengobrol dengan security. Saya yang berjalan kaki paling belakang memang menyadari bahwa saya hendak didekati dan ternyata ia pun mendekat. Saya mengatakan hal itu karena jika saya tidak mendekati, saya kira security itu pun tidak akan mendekati saya. “Sebetulnya ini tidak boleh, tetapi kalau di luar kawasan boleh,” ujar security memberi tahu. Ya, saya pun maklum karena saya (dan rombongan) tentu tidak hendak memasuki kawasan proyek.

Sanghyang Poek dan Sanghyang Heuleut

Menelusuri jalan setapak, beberapa saat kemudian, kami sudah menemui papan petunjuk berwarna putih yang bertuliskan “Gua Purbakala Sangyang Poek”. (Tanpa huruf “H” pada “Sanghyang”). Kami pun memasukinya.

Setelah itu, di ujung gua Sanghyang Poek, kami bertemu sungai. Tampak ada beberapa orang berpakaian pramuka. Juga beberapa orang berpakaian bebas. Hal itu untuk menunjukkan bahwa pihak-pihak yang sudah berada di sini bukan hanya kami. Di pinggir sungai, lebih tepatnya di sungai yang airnya agak dangkal, inilah kami menelusuri jalan hingga tiba di Sanghyang Heuleut. Perjalanan agak, atau bahkan sangat, lambat. Soalnya, sebagian besar peserta tidak mau kena air ha ha ha. Eh…, tetap saja kena. Asyiknya, biasalah, sambil berfoto-foto untuk wawasan.

Sampailah kami di suatu tempat. Kelak, saya menyebutnya sebagai “persimpangan”. Anggaplah begitu. Kelak, saya pun memperkirakan bahwa sejak dari Sanghyang Tikoro, ini sudah menghimpun sepertiga perjalanan menuju titik akhir. Di “persimpangan” inilah tampak warung dan jembatan bambu.

Setelah beristirahat sejenak, kami meneruskan perjalanan menuju titik akhir melalui jembatan bambu tadi. Kali ini terdapat jalan di pinggir sungai. Akhirnya, tibalah kami di titik akhir. Tampaknya masih ada warung. Kali ini, dua warung. Plus mushala berupa rumah panggung yang sederhana. Sayang, tiada air.

Sayang, air sungainya tampak kotor (berwarna coklat) sehingga sebagian besar di antara kami tidak ada yang mau nyemplung untuk berenang. (Ada juga rekan yang mengibarkan spanduk Komunitas Aleut sambil nyemplung ria). Saat itu, keadaan sungai sungguh berbeda dengan air jernih (berwarna hijau) sebagaimana digambarkan media massa atau media sosial (medsos).

[Seandainya ada air mancur atau mata air (seke) tentu lokasi wisata ini akan lebih nyaman. Bisa segerrr….]

Menjelang sore, kami pulang menelusuri jalan tadi. Namun, setelah jembatan bambu dan warung yang ditemui pertama kali tadi, kami menelusuri jalan yang berbeda. Karenanya, saya menyebutnya sebagai “persimpangan”. Perjalanan pulang ini bisa dikatakan lebih jauh. Mungkin karena jalanannya yang menanjak sehingga berkesan begitu. Napas ngos-ngos-an. Sampai akhirnya kami tiba juga di atas, di pipa-pipa besar berwarna kuning. Hal yang tidak saya bayangkan ketika berada di bawah tadi. Kali ini kami bisa melihat ke bawah, salah satunya bangunan kantor PLTA Saguling dari kejauhan.

Setelah berjalan menurun, ada juga yang memutar ke atas lagi karena memang terdapat beberapa jalan alternatif, kami tiba di sebuah jalan. Tibalah kami di tempat parkir antara pukul 17.00 WIB dan 17.30 WIB untuk kemudian menuju Kota Bandung dengan membawa wawasan “Bandung Purba”.

Salah satu hikmah lain dari perjalanan kali ini yang saya rasakan yaitu perjalanan kali ini mengandung olahraga (fisik). Hah heh hoh alias ngos-ngos-an itulah yang semoga membuat kita sadar pada kesehatan dengan cara “gaya hidup banyak bergerak”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: