Perjalanan Wisata Menuju Pabrik Teh Bukanagara Melalui Jalur Maribaya-Subang

Perjalanan imajinatif. Itulah tema petualangan dan touring saya kali ini. Bagaimana tidak imajinatif, rute dan jarak perjalanannya tidak diketahui, meskipun tujuan akhirnya hampir dipastikan di Subang. Sampai-sampai untuk mengatakan “apakah bensin motor masih tersedia atau tidak”, saya iseng menjawab “ya berdasarkan imajinasi” he he he.

Berawal pada ketertarikan tema “Maribaya-Subang” yang digagas Komunitas Aleut pada Minggu, 17 Juli 2016, saya turut serta. Meskipun ditulis “Maribaya”, tadinya saya menduga bahwa perjalanan kali ini akan melintasi Jalan Raya Lembang-Tangkubanparahu-Subang yang beraspal mulus. Di kawasan ini kan banyak hamparan perkebunan teh. Namun, ternyata, dugaan saya meleset. Di situlah asyiknya. Itulah imajinasi dalam rute perjalanan.

Soal rute perjalanan yang ekstrem, saya tidak terlalu mengkhawatirkannya. Apalagi, perjalanan kali ini bersama rekan-rekan. Tidak seperti seorang diri ketika saya “nyasar” di Talegong. Maklum, “jalan hutan” sudah pernah saya alami ketika mencoba menelusuri jalur Ujungberung-Lembang yang melewati kawasan hutan Bukittunggul. Terakhir atau keempat kali, saya menelusuri jalur Ujungberung-Lembang ini ketika secara kebetulan menjadi saksi patung Dinosaurus di Alun-alun Ujungberung sedang diangkat traktor (dipindahkan) pada bulan Ramadhan 1437 H. Banyak penontonnya he he he. Saat itu, saya balik lagi ke Ujungberung karena ternyata jalan di kawasan hutan Bukittunggul sedang dibeton sehingga ditutup atau diportal untuk sementara. Saya balik lagi ke Ujungberung karena rute perjalanan yang harus dilalui “dibelokkan” ke “jalan hutan” menuju Pabrik Kina di Bukittunggul. Setelah melewati Pabrik Kina itu, saya balik lagi. Alasan utamanya sih jalan becek akibat hujan. Motor saya tergelincir dan tidak bisa jalan. Tidak ada yang menolong ha ha. Namun, ada juga pengendara lain yang berjalan dari arah sana sambil mendorong motornya. Nah, ternyata, jalan becek akibat hujan, saya alami lagi dalam perjalanan kali ini.

Mulai berangkat dari Kedai Preanger di kawasan Buahbatu, kota Bandung pada pukul setengah delapan lebih. Sebelumnya, sejak perjalanan dari rumah, motor Honda Vario yang saya naiki sudah diisi BBM lima belas ribu-eun. Barangkali saja cukup he he he. Sementara sebagian dari rombongan mulai mengisinya di SPBU Jalan Laswi. Dalam ngaleut “Maribaya-Subang” ini rombongan berjumlah 10 motor. Siapa di depan dan di belakang tentu sudah diatur. Istilahnya, siapa penunjuk rute dan siapa pula “penyapu” motor dari belakang seandainya ada peserta yang tertinggal.

Singkat cerita, rombongan memasuki Dago bengkok (perjalanan dari arah Jalan Cigadung Raya). Dari Dago Bengkok, rombongan pun tiba di Jalan Raya Maribaya.

Menelusuri Jalan Raya Maribaya, setelah turunan dan belokan yang melewati pintu gerbang Goa Pakar (kanan) dan Maribaya (kanan), berjarak 30 meter setelah jembatan sungai, rombongan belok ke kiri. Tampak jalan berupa tanjakan tajam. Lumayan juga sih, jalanan agak mulus. Lalu tampak perkebunan sayur. Jauh di depan, berhenti dan berfoto sejenak di dekat tower. Diterangkan, tampak dari kejauhan berupa patahan Lembang.

Di jalanan ini tampak perkebunan sayur dan perkampungan. Di sinilah rombongan melewati Desa Wangunharja dan Desa Cikidang di Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Sampai akhirnya rombongan tiba di tugu perbatasan Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Subang. Perbatasan daerah serasa di daerah pelosok. Sebelumnya, menjelang tugu perbatasan itu, motor saya sempat tergelincir karena jalan becek akibat hujan. Entah hujan yang kapan. Tugu perbatasan ini tentu saja menjadi objek pemotretan selain hamparan pemandangan yang indah selama perjalanan. Namun, jangan dilupakan, infrastruktur jalan benar-benar kurang layak.

Dari tugu perbatasan itu, jalan menurun. Bisa dikatakan curam juga. Kalau jalan mulus mungkin OK, tapi ini jalan berbatu. Untuk mengerem saja, tangan pegal (cangkeul). Nahan rem. Bagi pengendara warga sekitar atau yang biasa berlalu lalang di jalan ini tampaknya mengendarai motornya seperti tidak ada masalah. Ada juga pengendara mobil (sekali). Oh ya, ada lima atau enam motorcross yang lewat. Kenceng amat ha ha ha, kita ditinggalin. Menariknya, pemotor pembawa barang pun ada juga. Wuih, serasa mengangkat barang kebutuhan ke daerah pelosok.

Menjelang setengah dua belas siang, tibalah rombongan di kawasan pabrik teh Bukanagara. Sebelumnya, memang, tampak perkebunan teh. Seperti biasa, berhenti sejenak sambil mengabadikan tugu. Khusus saya pribadi, satu hal yang berkesan yaitu kabut yang mengerumuni gunung tampak dari kejauhan. Indah sekali. [Keun weh da setiap orang punya kesan masing-masing he he he.]

Memasuki perkampungan warga, rombongan beristirahat sejenak. Selepas itu, mungkin perkampungan di Desa Cipunagara, Kecamatan Cisalak, Kabupaten Subang, ini sepanjang satu atau dua kilometer saja. Setelah itu tidak ada perkampungan lagi hingga ujung. Perjalanan ini seolah tidak berujung. Namun, kalau tidak salah, hanya ada satu rumah yang terdapat di pinggir “jalan hutan”. Ada dua orang yang duduk di halaman rumah.

Dari perkampungan (baca: perumahan warga) tadi, saya kira perjalanan menuju Subang ini 2-3 kali rute perjalanan dari Pabrik Teh Bukanagara ke Maribaya. Entahlah, saya tidak tahu. Imajinasi he he he. Seluruh rute berupa turunan. Belokan. Jalanan berbatu. Selain itu, hujan pun turun sehingga jalanan menjadi becek. Licin. Tentu saja mempengaruhi waktu perjalanan sehingga terkesan jalan tak berujung.

Selama perjalanan itu, tampak satu goa Jepang (tertulis situs budaya) dan beberapa mata air yang memotong “jalan hutan”. Maklum, tebing di satu sisi dan jurang di sisi lain. Meskipun infrastruktur jalan kurang layak dan relatif sempit serta sepi karena berada di kawasan hutan, ternyata beberapa truk dan dua mobil biasa justru melintas. Ada pula yang berpapasan. Tentu saling berbagi jalan.

Terhambatnya perjalanan karena jalan licin akibat hujan, ditambah pula dengan tumbangnya pohon. Rombongan pun tertahan. Kebetulan, ada truk. Pengendara truk itulah yang menarik batang pohon yang tumbang itu sambil dibantu didorong oleh pengendara motor.

Sebelum rombongan melintas, salah seorang warga pengendara motor berujar bahwa beberapa saat sebelum lewat, ia melihat akan tumbangnya pohon. Sementara salah seorang rombongan kami (Mang Alexxx) justru balik lagi karena rombongan sudah agak lama tidak terlihat. Ternyata, ia sudah di depan ketika pohon itu belum tumbang. Sepanjang perjalanan itu pula, tampak gundukan tanah longsor. Ya, jalan yang kita lalui berupa tebing dan jurang di sisi yang berlawanan.

Setelah berpikir “mengapa perjalanan ini seperti tak berujung” (maklum tidak ada perkampungan satu pun yang dilewati lagi), akhirnya rombongan tiba di jalan raya. Benar-benar jalan raya: Jalan Cagak-Cisalak (Kabupaten Subang). Kami tiba di jalan raya ini pada pukul tiga belas lewat empat puluh lima menit. Tampak pula bus Wado-Sumedang-Bekasi.

Sebagai orang yang pernah beberapa kali melewati jalan raya di kabupaten Subang, saya belum pernah melintasi jalan raya ini. Betul saja, ternyata beberapa kilometer menelusuri jalan ini, saya tiba di persimpangan Jalan Cagak (Subang) yang dari arah utara. [Dari arah utara, saya pernah melakukan perjalanan Bandung-Purwakarta-Subang-Bandung dan Bandung-Sumedang-Majalengka-Indramayu-Subang-Bandung sehingga cukup hapal.] Sebelumnya, setelah keluar dari “jalan hutan” (persimpangan Jalan Cagak-Cisalak) tadi, rombongan melewati Pasar Kasomalang dan tentu saja mengisi BBM di SPBU. Sebelumnya pula, selain perkebunan teh, ada kawasan “Air Mineral” di Dermaga, Kabupaten Subang. Lalu tibalah di persimpangan Jalan Cagak atau marka bundaran berupa tugu buah nanas yang pernah saya lewati dari arah utara Subang.

Beristirahat sejenak. Perjalanan dilanjutkan menelusuri jalan raya ini: Jalan Raya Ciateur Subang. Saya kira, keadaan lalu lintas di jalan raya ini relatif sepi jika dibandingkan perjalanan sepekan yang lalu ketika saya melintasi jalan raya ini. Berhenti lagi di sebuah warung kopi pinggir kebun teh. Sesama peserta Komunitas Aleut pun saling berbagi (sharing) pengalaman untuk perjalanan “Maribaya-Subang” kali ini.

Selanjutnya, tentu perjalanan menuju Bandung yang tidak perlu saya ceritakan lagi. Kali ini melintasi Dago Giri (Jajaway) untuk menuju Jalan Cigadung Raya, Jalan Pahlawan, dan seterusnya. Benar-benar seru untuk menjalani petualangan imajinatif.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: