Perjalanan Wisata Menelusuri Bandung-Ciwidey-Naringgul-Cidaun-Rancabuaya-Cisewu-Talegong-Pangalengan-Bandung

Ini merupakan cerita perjalanan wisata terbaru saya ketika mengunjungi Cidaun dan Rancabuaya pada tahun 2016. Ya, Minggu, 10 Juli 2016, pagi hingga sore tadi, saya berwisata melintasi jalur Bandung-Ciwidey-Naringgul-Cidaun-Rancabuaya-Cisewu-Talegong-Pangalengan-Bandung. Satu hal yang paling berkesan dalam perjalanan kali ini, ternyata penjual BBM, dalam arti Pertamini, sudah banyak. Dalam tulisan terdahulu, saya sebut “satu gentong” 🙂

Menikmati kawasan pantai selatan Jawa Barat memang mengasyikkan. Sebelumnya, Sabtu, 9 Juli 2016, saya mengamati kawasan pantai utara Jawa Barat dengan melintasi Bandung-Sumedang-Majalengka-Indramayu-Subang-Bandung. [Baca juga: Khawatir Keindahan Pemandangan Jalur Pantai Selatan Jawa Barat Sirna]

Berangkat dari rumah pada pukul delapan lewat sembilan belas menit. Jalan-jalan yang dilintasi, antara lain Jalan Oto Iskandar Di Nata dan Jalan Kopo, cukup lengang. Kawasan tersebut biasanya macet oleh aktivitas warga. Bagaimana tidak, pagi/siang tadi, kecepatannya sering 60 kilometer per jam. Jarang-jarang ya? Namun, memasuki Soreang, Ciwidey, dan Rancabali, keadaan lalu lintas cukup padat. Perjalanan pun tersendat.

Rute perjalanannya tidak jauh berbeda dari perjalanan terdahulu. Setelah kota Bandung, saya melewati Soreang, Ciwidey, dan Rancabali. Itulah nama-nama kecamatan di kabupaten Bandung yang dilintasi. Sejak di percabangan jalan ke kiri (Naringgul) dan ke kanan (Situ Patenggang) pada pukul sepuluh lewat tiga puluh tiga menit, saya menikmati perjalanannya. Pelan-pelan saja. Kecepatannya 20-40 kilometer per jam. Sesekali 40-60 kilometer per jam.

Awalnya, perkebunan teh di kecamatan Rancabali. Pemandangannya begitu indah. Banyak pengendara mobil/motor yang beristirahat di pinggir jalan sambil berfoto-foto. Oh ya, ternyata ada beberapa warga yang membuka tempat usaha makanan/minuman. Semacam warung dadakan? (Ini di luar tempat-tempat wisata semacam Rancaupas, Kawah Putih, Cimanggu, Walini, dan Situ Patenggang). Sebagai orang yang jarang melintasi kawasan ini, saya mengatakan hal itu sebagai sesuatu yang “baru”. Tidak lupa mobil elf trayek Ciwidey-Cidaun (berwarna pink) yang mengarah Ciwidey.

Sampailah di perbatasan kecamatan Rancabali (kabupaten Bandung) dan kecamatan Naringgul (kabupaten Cianjur). Saya memasuki kawasan hutan di Naringgul. Pengendara mobil tampaknya harus hati-hati ketika melintasi Naringgul. Ada beberapa tanjakan dan turunan yang sangat curam. Hidup di antara tebing dan jurang. Ada juga jalan yang sempit. Keadaan mobil/motor harus benar-benar segar bugar. [Dalam pengamatan saya tadi, ada kalanya warga yang membantu menyetop sementara laju kendaran karena harus bergiliran. Semacam buka tutup. Biasanya mereka meminta imbalan seikhlasnya. Artinya, ada yang memberi dan ada pula yang tidak. Umumnya sih pengendara mobil. Ya, mirip-mirip di lokasi perbaikan jalan. Cukup membantu juga.]

Setelah melewati kawasan hutan dan perkebunan atau persawahan itu, singkat cerita, saya tiba di Cidaun. Dari kejauhan tampak lautan. Beberapa meter ke depan, di sini ada persimpangan atau pertigaan: ke kanan (ke Sindangbarang, Cianjur), ke kiri [ke Pantai Jayanti Cianjur (4 km) dan ke Pantai Rancabuaya, Garut (28 km)], dan ke belakang (jalur yang saya lalui yaitu Bandung). Saya pun mengunjungi Pantai Jayanti Cianjur dengan tiket Rp 2.000,- (pengendara motor). Tidak lupa parkir motor Rp 5.000,- [Saya baru tahu bahwa di seberang jalan menuju Pantai Jayanti sudah berdiri SPBU. Padahal, setahun yang lalu (18 Juli 2015), di tempat itu masih kosong. Saya lupa apakah suatu kawasan hutan/perkebunan atau bukan. Benar-benar cepat perkembangannya sebagaimana saya ceritakan tadi banyak Pertamini di sepanjang perjalanan.]

Setelah beristirahat sejenak di Pantai Jayanti, saya melanjutkan perjalanan menuju Pantai Rancabuaya. Di dalam kawasan Pantai Rancabuaya ini, ada juga Pantai Cidora.

Melintasi jalan di pantai selatan Jawa Barat, tibalah saya di persimpangan atau perempatan: ke kiri (ke Cisewu/Talegong/Pangalengan), ke kanan (ke Pantai Rancabuaya sejauh 1 km), lurus (ke Pameungpeuk Garut), dan ke belakang (ke Cidaun). Baik di Pantai Jayanti maupun di Pantai Rancabuaya banyak pengunjung dalam liburan kali ini. Singkat cerita, saya meninggalkan Pantai Rancabuaya pada pukul lima belas lewat delapan menit.

Kini, pulang ke Bandung melalui jalur Cisewu-Talegong-Pangalengan. Terjadi hujan sejak jalan di kawasan pantai selatan Jawa Barat. Meskipun demikian, tidak secara keseluruhan. Artinya, hujan, kering, hujan, kering, dan seterusnya hingga Pangalengan. Pada awalnya, kecepatan motor saya tidak kurang dari 60 kilometer per jam. Asyik karena jalan mulus seperti sirkuit he he he. Lama sekali. Namun, jauh di depan terdapat antrean mobil sehingga perjalanan pun tersendat. Pada umumnya, pengendara mobil itu memberikan jalan kepada para pengendara motor ketika di tanjakan. Tanjakannya memang curam, tetapi jalanan mulus. Hal ini berbeda ketika di Naringgul tadi.

[Oh ya, anda masih ingat dengan cerita saya ketika “nyasar” di Talegong? Ceritanya di sini. Ternyata, dugaan saya tepat. Ya, akhirnya saya melintasi “jalan yang benar” he he he. Ada Alun-alun Talegong yang keren loh. Wah, banyak yang foto-foto tuh.]

Dengan perjalanan pulang yang tersendat itu, saya tiba di Pangalengan pada pukul tujuh belas lewat empat puluh lima menit. Kira-kira 15 km menuju Pangalengan, saya tidak menyalip kendaraan lain (mobil) lagi. Soalnya, berkabut. Hal itu berbeda dari pengendara motor yang lain. Meskipun demikian, ternyata beberapa di antara mereka bertemu lagi dengan saya di depan he he he.

Memasuki jalan raya Banjaran-Pangalengan, eh Pangalengan-Banjaran, saya hanya mengikuti alur. Jarang menyalip, kecuali di akhir-akhir. Maklum, hari sudah gelap. Saya tidak tahu medan terkini. Apalagi, tidak jarang, beberapa pengendara motor dari arah yang berlawanan tampak tidak memakai lampu utama. Wah, sungguh berbahaya. Tiba di persimpangan atau pertigaan lampu merah (Kamasan) pada pukul delapan belas lewat tiga puluh delapan menit.

Singkat cerita, perjalanan dari Banjaran ke Bandung, saya tiba di rumah pada pukul sembilan belas lewat lima puluh dua menit. Perjalanan tersebut tentu bukan hanya jalan-jalan, tetapi juga diselingi beberapa kali istirahat. Apalagi pemandangannya sangat indah. Sungguh mengasyikkan.

Jarak

Berapa kilometer jarak dari Ciwidey ke Cidaun atau jarak dari Pangalengan ke Rancabuaya? Silakan searching atau Googling saja. Namun demikian, silakan hitung sendiri berdasarkan speedometer (motor) yang saya (upayakan) mencatatnya. (Catatan: Hitungan jam diabaikan saja karena hal itu tergantung pada kecepatan/kelambatan motor, termasuk istirahat sejenak).

 

Bandung (Rumah): Berangkat jam 08.19 WIB: 20637[2]

Percabangan Jalan (ke Naringgul/ke Situ Patenggang): Berangkat jam 10.33 WIB: 20693[6]

Pantai Jayanti: Datang atau tiba jam 12.44 WIB: 20748[6]

 

Jalan-jalan dan menikmati Pantai Jayanti. Pulang. Menelusuri jalan raya sepanjang kawasan pantai selatan Jawa Barat dari Pantai Jayanti ke Pantai Rancabuaya lupa dicatat. Apalagi saat itu, saya beristirahat cukup lama karena hujan.

 

Pantai Rancabuaya: Berangkat jam 15.08 WIB: 20782[0]

Pangalengan: Datang atau tiba jam 17.45 WIB: 20855[5]

Banjaran (Kamasan): Datang atau tiba jam 18.38 WIB: 20877[4]

Bandung (Rumah): Datang atau tiba jam 19.52 WIB: 20904[0]

Baca juga:

2017: Perjalanan Wisata Bandung-Cipatujah via Pangalengan.

Perjalanan Wisata Menelusuri Rute Bandung-Ciwidey-Naringgul-Cidaun

Perjalanan Wisata Menelusuri Rute Bandung-Pangalengan-Talegong-Cisewu-Rancabuaya

Iklan

6 Comments »

  1. 1
    ricky ramdhan Says:

    Wah referensi nih buat jalan jalan asik hehe terimakasih telah berbagi

  2. 3
    Anonim Says:

    Kang Novan, saya berencana ke pameungpeuk via ranca bali pake mobil, kondisi jalannya gimana dari ranca bali ke pameungpeuk? bagus atau banyak yang rusak kang?

    • 4
      novanherfiyana Says:

      Ketika saya melintas ya bagus dan relatif bagus. Enaklah untuk dilintasi kendaraan (mobil). Hal yang perlu diperhatikan mah di kawasan hutan (perbatasan Bandung-Cianjur). Jalannya sempit, berkelok-kelok, dan menanjak-menurun yang curam. Kalau dari Bandung tentu jalannya menurun. Jadi, mobil harus benar-benar fit jika mengerem ketika berpapasan dengan kendaraan dari arah Cidaun yang menanjak. Umumnya saling menunggu karena alasan tadi: sempit, berkelok-kelok, dan menanjak-menurun yang curam. Sebelum dan sesudah kawasan itu, nyaman.

  3. 5
    Anonim Says:

    ok kang nuhun infonya


RSS Feed for this entry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: