Sinetron Kesempurnaan Cinta

Bagaimana kelanjutan cerita sinetron Kesempurnaan Cinta yang ditayangkan Net TV? Ah, saya tidak tahu.

Libur lebaran pada hari kedua (Kamis, 7 Juli 2016) kemarin, saya berwisata ke kawasan Lembang (De Ranch dan Floating Market) hingga sore sehingga tidak sempat menyaksikannya. Sementara pada libur lebaran hari pertama (Rabu, 6 Juli 2016), edisi sinetron Kesempurnaan Cinta itu mengulang edisi pada hari terakhir bulan Ramadhan 1437 Hijriah (Selasa, 5 Juli 2016).

Terlepas dari itu, bagaimana pun, saya justru menginginkan agar sinetron Kesempurnaan Cinta itu tidak berujung meskipun penayangannya berakhir. Ya, saya memang senang berimajinasi. Bagaimana akhir ceritanya, biarlah saya yang “menentukan” he he he.

Sinetron Kesempurnaan Cinta ini mulai ditayangkan sejak awal Ramadhan 1437 Hijriah (Senin, 6 Juni 2016). Sejatinya, kebetulan saja sih saya memilihnya setelah beberapa kali memutar atau mengganti saluran televisi.

Meski sinetron Ramadhan, bagi saya, sinetron Kesempurnaan Cinta itu bagus. Maksudnya, cerita Ramadhan-nya dijadikan nuansa. Ya, mirip-mirip sinetron Para Pencari Tuhan-nya SCTV yang tahun ini telah memasuki jilid ke-10. Meski ditayangkan di bulan Ramadhan, cerita-cerita itu tidak hanya bernuansakan bulan puasa. Memang, dalam Kesempurnaan Cinta sih masih ada, tetapi bisa dikatakan “selingan”.

Bahkan, pada masa lalu, satu hal yang bagi saya membosankan untuk sinetron di bulan Ramadhan yaitu bulan Ramadhan dianggap sebagai bulan konflik dan permusuhan yang berakhir damai atau bermaaf-maafan di bulan Syawal atau Hari Raya Idul Fitri. Klise.

Lalu, mengapa saya menginginkan agar cerita sinetron Kesempurnaan Cinta itu tak berujung? Ya, sekali lagi, saya senang berimajinasi. Salah satu contoh dari imajinasi ini yaitu sinetronPreman Pensiun-nya RCTI dalam setiap adegan ceritanya.

[Saat itu (tahun 2015) ketika sinetron Preman Pensiun jilid pertama hadir, saya menduga bahwa sinetron ini tidak akan berlanjut seperti sinetron-sinetron pada umumnya meskipun sukses. Nyatanya, sinetronPreman Pensiun ini malah memasuki jilid ke-3 dan berakhir di edisi ke-3 tersebut. Apa alasan saya? Alasan saya (lebih tepatnya kesan saya) yaitu bahwa materi sinetron itu idealis, tidak peduli dengan tanggapan (positif) orang lain, dan tidak mau ikut-ikutan arus dunia persinetronan. Namun, saya tidak mengetahui apa alasan di balik “si pemilik” sinetron itu he he he. Tentu saja.]

Bagaimana tidak. Dalam konteks “cerita di kantor”-nya sinetron Kesempurnaan Cinta, saya justru kecewa dengan sinetron anak muda (remaja atau SMP/SMA) misalnya yang berpindah cerita ke anak kampus alias mahasiswa. Kalau pun tidak menjadi mahasiswa, ceritanya masuk ke “anak-anak tidak sekolah” (dalam arti di kehidupan keseharian) karena mungkin sudah lulus. (Ini terlepas dari apakah para pemainnya sudah dewasa atau bukan. Ini kan karakter. Si Doel saja berkuliah S1 pada usia dewasa he he he. Mungkin ini juga tidak mudah). Maksud saya menulis ini yaitu alangkah bagusnya cerita itu tetaplah berlatar belakang anak-anak sekolahan (SMP/SMA). Tentu banyak lagi cerita yang mesti digali. Kita lihat sajalah sinetron Tukang Ojeg Pengkolan-nya RCTI. Mereka, ketiga tukang ojeg, tetaplah tukang ojeg meskipun tokoh-tokoh baru lainnya di-muncul-kan.

Bagaimana pun, saya sebetulnya bukanlah penonton sinetron secara utuh. Saya hanya menonton sesekali. Namun, jika saya menulis beberapa judul sinetron tadi, hal ini mengindikasikan bahwa saya merupakan penonton rutin dari sinetron-sinetron yang disebutkan, kecuali sinetron Para Pencari Tuhan pada beberapa jilid terakhir. Ya, wajarlah, saya kan punya suka atau tidak suka juga. Mungkin juga soal waktu.

Jadi, bagaimana cerita sinetron Kesempurnaan Cinta selanjutnya? Ha ha, sekali lagi, saya menginginkan cerita itu tidak berujung. Maksudnya, jangan biarkan Satria memilih Hana atau Renata. Biar tetap seru atau deg-deg-an. Biar harap-harap cemas. Biarlah cerita di kantor (perusaahaan) dan di rumah digali terus oleh para kreator. Jika perlu, sinetron Kesempurnaan Cinta itu di-tamat-kan saja.

Bahkan untuk tahun-tahun berikutnya. Kalau perlu, jika tahun-tahun berikutnya dimunculkan sinetron lain (sampai audiens TV bosan dengan programnya), biarlah sinetron Kesempurnaan Cinta tidak pernah berujung. Toh dari sebuah contoh cerita (program apa pun), setiap orang memiliki pengalaman atau jalan kehidupannya masing-masing. Tidak mesti mencontoh atau mencocokkan hal yang sama.

Itulah tanggapan saya pada sinetron Kesempurnaan Cinta.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: