Cerita Tahun 2015 yang Tertinggal: Mengunjungi Perpustakaan Ajip Rosidi

Rabu, 19 Agustus 2015. Saat itu, saya mengunjungi Perpustakaan Ajip Rosidi di Jalan Garut No. 2 Kota Bandung. Ini merupakan kunjungan saya yang pertama ke Perpustakaan Ajip Rosidi. Wajarlah, Perpustakaan Ajip Rosidi kan baru diresmikan pada Sabtu, 15 Agustus 2015.

Sebetulnya, saya sudah mengetahui kabar akan diresmikannya Perpustakaan Ajip Rosidi pada Selasa, 14 Agustus 2015, malam, melalui twitter. Namun demikian, saya baru berkesempatan mengunjunginya pada 15 Agustus 2015.

Berangkat dari rumah pada pukul sepuluh tepat, saya sudah tiba di halaman Perpustakaan Ajip Rosidi tiga puluh lima menit kemudian. Setelah memarkirkan motor, saya segera memasuki ruangan Perpustakaan Ajip Rosidi.

Bingung he he he. Kok tidak ada “sambutan”? Maksudnya, kok tidak ada meja untuk menulis daftar pengunjung? (Di ruang yang berada di lantai pertama sih sudah ada tiga orang. Sepertinya mereka sudah saling kenal. Salah satu di antaranya menyambut saya sambil menunjukkan ruang perpustakaan yang berada di lantai dua).

Di lantai satu, tampak beberapa lukisan atau ilustrasi yang dipajang di sekeliling ruangan. Setelah memerhatikan sebentar, saya bergegas menuju lantai dua. (Di lantai satu sebetulnya terdapat 2-3 ruangan. Di salah satu ruangannya tampak ada seseorang. Mungkin peneliti. Maaf, sepertinya saya pernah hafal tetapi tidak tahu namanya).

Saya pun menaiki tangga untuk memasuki ruang perpustakaan. Sempat merasa aneh juga ketika saya masih memakai jaket dan tas. Kok tidak diperiksa atau disuruh menyimpan? Wah beruntung saya orangnya baik hati dan tidak sombong sehingga buku-buku yang ada di sini tidak hilang dimasukkan ke dalam tas saya he he he.

Setelah beberapa waktu lamanya, saya didekati oleh seorang ibu. Kemudian kami mengobrol, termasuk pertanyaan saya: “Mengapa jaket dan tas tidak disimpan?”. Ya, ternyata, keberadaan segala sesuatunya baru mulai ditata. Belum rampung. Namanya juga masih baru.

Dari obrolan itu, kelak, perpustakaan ini akan dibuka setiap hari, kecuali Senin dan tanggal merah. Wah, seperti museum ya meskipun museum pun belum menerapkan semua.

Beberapa saat kemudian, saya pun disodori buku “daftar pengunjung”. Wuih, nomor pertama ha ha.

Memerhatikan koleksi Perpustakaan Ajip Rosidi tampaknya relatif lengkap. Saya pun berkeliling dari rak ke rak. Akhirnya menjelang dhuhur, saya sudah meninggalkan Perpustakaan Ajip Rosidi.

Iklan

2 Comments »

  1. 1
    Irfan TP Says:

    Tah mang kami ge kantos ka Perpustaakan Ajip Rosidi, mengkhawatirkan kondisina 😦 http://wangihujan.blogspot.co.id/2015/09/beberapa-kepiluan-di-perpustakaan-ajip.html

    • 2
      novanherfiyana Says:

      Via wangihujan.blogspot.co.id : “Pemilik buku ini, yaitu Pak Ajip, tidak memperbolehkan buku-bukunya untuk dipinjam keluar, kata beliau takut hilang,” begitu terang si petugas.

      Biasanya itu tipe kolektor. Biasanya pula dipicu oleh pengalaman (buruk), yaitu si peminjam tidak mengembalikan.


RSS Feed for this entry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: