Yellow Box Junction dan Ujian SIM

Dalam sepekan terakhir ini, di beberapa persimpangan di kota Bandung terdapat yellow box junction (kotak kuning persimpangan). Nah, ternyata, yellow box junction ini mengingatkan saya ketika mengikuti ujian SIM C.

Jika anda sudah membaca “Soal Ujian Teori SIM C”, saya kira anda tahu dengan pengalaman saya dalam tulisan “Membuat SIM C Baru” ketika jawaban benar saya berjumlah 29 dari 30 soal. Ini bukan “hebat-hebatan” karena sesungguhnya standar minimalnya yaitu cukup 21 jawaban yang tepat. Begitu, bukan? Jangan jawab “bukan” ya he he he.

Sebetulnya, jawaban benar yang saya peroleh itu bisa dikatakan 29,5 dan bukan 29. Mengapa? Karena saya ragu menjawabnya. Saat itu, jawaban saya sudah mengarah pada “benar”, tetapi keburu memencet tombol “salah” karena ragu dan setelah memencet, saya “memukul” kepala saya sebagai tanda menyesal. Wah, dramatis amat he he he.

Pertanyaan apa sih yang salah? Nah, menurut hemat saya, itulah “yellow box junction”. Dalam “Soal Ujian Teori SIM C” itu saya menulis: “… Kedelapan, Gambar pengendara yang mengikuti kendaraan di depannya ketika melintasi persimpangan jalan yang memakai lampu lalu lintas…”.

Jawaban yang tepat yaitu perilaku tersebut “salah”. Artinya, pengendara tadi tidak membuntuti di belakangnya, tetapi menunggu kendaraan di depannya apakah sudah meninggalkan yellow box junction atau belum meskipun lampu lalu lintas masih berwarna hijau. (Dalam soal sih, maksudnya ketika video ditayangkan, tidak ada yellow box junction, kalau tidak salah melihat, tetapi hanya persimpangan saja. Karenanya, saya menulis “menurut hemat saya”).

Nah, keragu-raguan saya yang muncul ketika mengikuti ujian SIM C itu karena terjadi “dialog imajiner” antara teori dan praktik. Teorinya tentu begitu. Namun praktiknya, saya memerhatikan di lapangan. Agaknya sulit juga kalau demikian. Apalagi kalau lampu lalu lintas berwarna hijaunya hanya sebentar. Nunggunya lama . Ya, itulah hawa nafsu he he he.

Terlepas dari itu, saya kira, jauh-jauh hari kita sudah melatih keberadaan yellow box junction ketika lampu lalu lintas berwarna merah. Perhatikan, apakah kendaraan (terutama motor) kita menginjak zebra cross? Apakah mobil anda segera menginjak RHK (Ruang Henti Khusus) dengan harapan bahwa pengendara di depannya akan melaju cepat melintasi persimpangan? (Jika lampu lalu lintas segera berubah menjadi berwarna merah, tentu saja mobil itu “terjebak” di RHK. Kena deh!). Juga, apakah kendaraan (terutama motor) anda gemar melintasi palang pintu rel meskipun kereta api belum lewat? (Ingatlah pada salah satu film kartun ketika tokoh kartun menengok kiri/kanan ternyata tidak ada kereta api. Namun ketika melintas rel, ternyata kereta api pun melintas cepat dan menabrak tokoh kartun tadi. Ya, namanya juga film kartun he he he. Mau yang serius? Ketika kita mengikuti ujian simulator SIM, setiap melanggar aturan lalu lintas, dalam hal ini pengendara motor menerobos lampu merah maka nilai kita dikurangi. Nah, loh. Atau ini yang mengandung spiritual: niatnya lurus, caranya benar. Ketika niat kita lurus untuk mencari nafkah, tetapi caranya tidak benar (baca: melanggar), lalu bagaimana hayooo?.

Wah soal itu berat juga ya? Bagitu pun dengan yellow box junction. Ketika kita berhenti untuk menunggu kendaraan lain apakah sudah meninggalkan yellow box junction atau belum, kadang perasaan kita “malu” sendiri. Sok taat aturan, begitulah kira-kira. Maklum, orang edan ada di mana-mana. Jauh lebih banyak (?). Apalagi kalau di belakang kita sudah membunyikan klakson.

Itu soal yellow box junction. Coba saja soal lampu merah di beberapa persimpangan. Salah satunya di persimpangan Jalan Soekarno-Hatta/Jalan Babakan Ciparay (Caringin) yang mengarah Kopo. Bagaimana rasanya ketika anda berhenti di situ ketika lampu lalu lintas berwarna merah? Wow, terasa sendirian ditinggalkan para pembalap.

Akhirnya, untuk kasus-kasus seperti itu, memang diperlukan sistem yang baik. Sebutlah kalau kita melanggar aturan lalu lintas, mirip dalam ujian simulator, nilai kita dikurangi. Kalau di dunia nyata, ditilang.

Kalau dalam salah satu film, ada rekening bank pelanggar yang dikurangi saldonya. Saya berharap, saldo itu berpindah ke rekening yang taat aturan (lalu lintas). Maunya he he he.

Jangan lupa, saya memiliki kliping berita (foto) surat kabar Kompas edisi 1970-an yang melaporkan para peserta ujian SIM motor yang menjalankan ujian praktik motor di jalan raya. Di situ, di lokasi yang tersembunyi, ada para penguji. Nah, mirip ujian simulator, bukan? Itu proses ujian SIM loh, bukan tindakan Polantas terhadap para pemilik SIM. (Terlepas dari cerita itu, ketika sudah memiliki SIM dan melanggar, sebagian dari kita malah berujar bahwa itu “jebakan” polantas yang bersembunyi). He he he, lucu juga, mengapa kita ingin “dijebak”).

Oh ya, soal pelanggaran lalu lintas, kita pun pernah (sering?) melakukannya, termasuk saya. Namun, kalau massif, wah ancurlah. Kalau sekali-sekali, bolehlah he he he. Eitsss….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: