Perjalanan Wisata Menelusuri Rute Bandung-Pangalengan-Talegong-Cisewu-Rancabuaya

Bagaimana rasanya jika anda mengendarai motor seorang diri di kawasan hutan? Itulah pengalaman saya ketika jalan-jalan mengendarai motor melintasi jalur Bandung-Pangalengan-Talegong-Cisewu-Rancabuaya. Saya merasa bahwa saya salah jalan he he he. Bagaimana pun, ini perjalanan pertama saya menelusuri rute ini.

[Catatan: Saya menulis “jalan-jalan”, bukan “touring”, karena dilakukan seorang diri. Selain itu, saya juga heran mengapa orang-orang yang melakukan “touring”, mengendarai motornya cepat-cepat bak para pembalap. Apakah mereka sempat menikmati pemandangan? Terlepas dari itu, saya salut kepada mereka dengan keahlian mengendarai motornya.]

Namun demikian, hutan di sini bukan berarti hutan rimba. Hutan di sini tetap disinari matahari. Maksudnya, kawasan hutan tersebut tetap terbuka. Akan tetapi, jalannya kurang mulus. Beraspal, tetapi tidak rata. Garinjul. Saat itu, jarang terjadi lalu lalang orang. Namanya juga jalan desa (baca: bukan jalan utama). Syukurlah, sepanjang perjalanan di jalan desa itu terdapat 2-3 perkampungan. Bagaimana tidak, adanya di tengah-tengah perjalanan. Ada tulisan “Selamat Datang di Talegong”. Ada kehidupan gitu loh. Tampak pula warung, termasuk motor dan mobil di dalam garasi.

Perjalanan

Berangkat dari rumah pada pukul delapan lebih tiga puluh lima menit. Jalur yang sudah direncanakan yaitu Jalan Mohammad Toha. Kemacetan lalu lintas terjadi di setiap persimpangan: Jalan Mohammad Toha/Jalan BKR (Lingkar Selatan) dan Jalan Mohammad Toha/Jalan Soekarno-Hatta. Soalnya, di situ, ada “lampu merah” he he.

Beberapa meter sebelum belokan ke kanan menuju pintu tol Mohammad Toha, saya mengisi bensin di SPBU (di kiri). Full. Lalu, saya pun melanjutkan perjalanan hingga percabangan: ke kiri ke Bojongsoang atau ke kanan ke Banjaran. Nah, saya belok kanan ke Banjaran.

Lalu, setelah jembatan sungai Citarum, ada percabangan jalan lagi: ke kiri ke Baleendah atau ke kanan ke Banjaran. Pokoknya, ciri di tengahnya terdapat SPBU.

Setelah di Alun-alun Banjaran, termasuk Terminal Banjaran, saya belok kiri menelusuri Jalan Raya Banjaran-Pangalengan karena kalau lurus akan menuju Jalan Raya Banjaran-Soreang. Memerhatikan SPBU, tampaknya di Jalan Raya Banjaran-Pangalengan ini hanya tersedia dua SPBU. Itu pun di awal-awal. Saya kira, dua SPBU itulah merupakan SPBU terakhir sepanjang perjalanan Bandung-Rancabuaya. Selebihnya, penjual bensin eceran.

Melintasi Jalan Raya Banjaran-Pangalengan, jalannya berkelok-kelok. Terasa sulit untuk menyalip karena kelokannya pendek-pendek, termasuk blindspot. Meskipun demikian, saya berupaya menyalip kendaraan lain (terutama mobil) sesering mungkin. Namun, satu hal yang pasti, hampir semua kendaraan (motor) akan berjumpa lagi dalam waktu yang tidak lama. Jadi, sebagaimana pemahaman saya, bahwa persoalan waktu relatif tidak jauh berbeda.

Tibalah saya di ujung Jalan Raya Banjaran-Pangalengan: ke kiri ke Cibolerang atau ke kanan ke Talegong/Cisewu. Tidak jauh dari ujung jalan tersebut, ke kiri, terdapat Terminal Pangalengan.

Karena tujuannya menuju Rancabuaya, saya pun melintasi jalan ke kanan. Awalnya pemukiman, selanjutnya kebun teh. Jalannya mulus dengan aspal dan terlihat marka garis (utuh dan putus-putus). Seperti sirkuit he he. Melihat Situ Cileunca, airnya tampak surut. Kata orang yang pernah saya dengar sih masih kemarau. Sayang, saya tidak mengabadikannya.

Nah, sejak percabangan jalan (Cibolerang atau Talegong/Cisewu) yang melintasi jalan-jalan perkebunan teh, kira-kira 10-11 kilometer kemudian, terdapat percabangan jalan: ke kiri atau ke kanan. Jalan yang ke kanan tampak tulisan “Rancabuaya”, tulisan bercat putih di dinding (tebing). Pada saat itulah saya justru belok ke kiri. Saya agak ragu karena jalannya sepi. Itulah jalan hutan sebagaimana yang saya sebutkan tadi. Beruntung di awal perjalanan ada seorang bapak. Lalu saya bertanya apakah jalan menuju Rancabuaya ke arah sini? Terus yang ke kanan tadi ke mana? Bapak itu pun menjawab: “Oh ke sini (maksudnya ke kiri tadi), ujungnya tetap bertemu pada jalan yang sama. Akhirnya, saya pun mengikuti jalan ke kiri ini.

Awalnya agak sepi. Maksudnya, kok tidak ada lalu lalang orang atau pengendara motor. Kalau 2-3 pengendara motor sih ada, termasuk saat itu sebuah truk melintas. Namun, saya tetap mengikuti arus he he he. Tampak juga 2-3 perkampungan. “Oh berarti ‘ramai’ juga,” pikir saya. Sampai akhirnya saya bertemu dengan ujung jalan. Ada jalan lurus dan ada juga jalan ke kanan (ke atas). “Oh mungkin jalan ke kanan itu merupakan jalan yang dimaksud tadi,” pikir saya. Entahlah. Soalnya, tampaknya, tidak ada akses jalan yang lain.

Melintasi jalan lurus, beberapa rombongan touring melintas. Saya pun melanjutkan perjalanan hingga Rancabuaya. Oh ya, dari sekian persimpangan, satu-satunya yang jelas (maksudnya papan petunjuk berwarna hijau) terdapat tulisan “Bungbulang” ke kiri. Namun, saya belok ke kanan menuju Rancabuaya.

Akhirnya, tibalah saya di persimpangan (perempatan): lurus ke Rancabuaya, kiri ke Garut (salah satunya Pantai Sayang Heulang hingga ke Cikelet/Pameungpeuk, dan seterusnya), kanan ke Cianjur (salah satunya Pantai Cidaun), dan “belakang” ke Cisweu/Talegong/Pangalengan. Lalu, saya pun berjalan lurus menuju Rancabuaya. Jaraknya sih tidak jauh, kira-kira satu kilometer. Setengah kilometer dari persimpangan tadi, ada petugas wisata berseragam. Tiket yang dibeli pun Rp 5.000,- (Lima Ribu Rupiah). Jam sudah menunjukkan pukul 12.30 WIB. Istirahat sejenak.

Ternyata, kawasan wisata Pantai Rancabuaya tampak sepi. Hanya ada dua pengunjung yang baru datang saat itu. Duduk-duduk di “taman”. Selain itu, ada juga satu mobil berplat B yang hendak pulang. Tentu saja bukan sepi sesepi-sepinya. Pokoknya, apa yang dirasakan saya sebagai “wisatawan”, hal itu dirasa sepi saja. Tidak sebagaimana tempat wisata. Kalau orang-orang setempat sih ada.

Di Pantai Rancabuaya pun, hanya kurang dari tiga puluh menit. Namanya juga survey. Setelah itu saya mencoba menelusuri jalur Garut. Betul juga, tampaknya memang sepi. Mobil-mobil pun hanya beriringan satu-dua. Malah seringnya satu mobil. Tidak beriringan empat-lima mobil ketika saya melintas beberapa waktu lalu. Ya, ini memang kasuistis. Kira-kira jam satu siang.

Dari persimpangan tadi, saya melintasi jalan menuju Garut, lebih tepatnya menuju Cikelet/Pameungpeuk. Dari kejauhan di sebelah kanan tampak pantai. Saat itu, anginnya cukup besar. Bukan dari arah depan atau belakang, tetapi dari arah laut (samping kanan). Meskipun begitu, kecepatan motor saya bisa 70-80 km/jam. Bahkan sempat mencatat hampir 100 km/jam. Nge-tes saja he he. Soalnya, jalanan sepi, sebagaimana diceritakan tadi. Kalau dalam perjalanan saya dari Bandung tadi yaitu 40-60 km/jam. Bisa juga 20-30 km/jam. Sambil menikmati pemandangannya.

Selanjutnya, inilah perjalanan saya sejak persimpangan (di Rancabuaya) tadi: Rancabuaya-Pameungpeuk, Pameungpeuk-Bayongbong, Bayongbong-Cikajang, Cikajang-Garut Kota, Garut Kota-Nagreg, dan Nagreg-Bandung. Tiba di Bandung pada pukul 18.20 WIB. [Dari tadi, soal penulisan waktu sepertinya rekayasa ya? Terasa nge-pas. Namun, begitulah adanya he he he.]

Perjalanan menelusuri Bandung-Pangalengan-Talegong-Cisewu-Rancabuaya memang mengasyikkan. Aman dan nyaman. Soal bengkel dan bensin, tampaknya hampir 1-3 km sekali terdapat penjual bensin eceran. Namun, sejak memasuki Cisewu, POM Mini cukup banyak juga. Saya munghitung tidak kurang dari 10 POM Mini. Itu terjadi dari Cisewu hingga Rancabuaya. Dalam perjalanan kemarin, saya mengisi bensin sebanyak dua kali full tank (Honda Beat) untuk perjalanan Bandung-Garut-Bandung. Sayangnya, saya masih lebih berkesan melintasi jalur Bandung-Ciwidey-Naringgul-Cidaun yang dilakukan pada 18 Juli 2015 yang lalu.

Baca juga:

Perjalanan Wisata Menelusuri Rute Bandung-Ciwidey-Naringgul-Cidaun.

2016: Perjalanan Wisata Menelusuri Bandung-Ciwidey-Naringgul-Cidaun-Rancabuaya-Cisewu-Talegong-Pangalengan-Bandung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: