Mengurus Sendiri Kartu Keluarga di Kota Bandung

“Pak, mau ambil KK,” ujar saya. “Mangga. Nama (punya) sendiri?,” tanya petugas. “Bukan. (Punya) Saudara saya,” jawab saya. (Petugasnya terkesan “kecewa”, tetapi masih bisa tersenyum. Mungkin ia kecewa karena warganya tidak mengurus sendiri. Ya, saya juga begitu he he).

Demikian dialog saya dan petugas ketika mau mengambil KK (Kartu Keluarga) di kecamatan Sukasari, Kota Bandung, Kamis, 25 Juni 2015, tadi. Seperti biasa, pelayanannya baik, termasuk tidak ada biaya apa pun.

Namun, hari ini, ada permintaan: “Maaf, Pak, beli ini”. [Maksudnya, Tanda Terima Sumbangan Bulan Dana PMI Tahun 2015 (01 Juni 2015 s.d. 30 September 2015) Rp 2.000,- (Dua Ribu Rupiah)]. Ya, saya pun membelinya. Ini memang kasuistis.

Mengurus Sendiri Kartu Keluarga Orang Lain (Saudara Saya)

Lebih kurang dua pekan yang lalu. Berawal pada 9 dan 10 Juni 2015, saya mengurus kartu keluarga. Bukan kartu keluarga punya saya, tetapi saudara saya. Kebetulan, alamat rumahnya sama sehingga saya merasa nyaman mengurusnya. Mengapa? Karena kalau alamatnya berbeda, selain “ah ngapain”, juga khawatir saya dianggap calo. Kalau ketahuan, khususnya oleh petugas kelurahan dan/atau kecamatan, kan bisa dipertanyakan (meskipun jarang atau bahkan tidak mempertanyakan karena terkesan mereka percaya. Paling tidak, petugas pelayanan publik itu hendak membina warga masyarakatnya agar mengurus sendiri). Daripada dianggap calo, saya mending buka biro jasa saja sekalian he he he.

[Membuka biro jasa bukanlah cita-cita saya. Kalau pun membuka, saya menginginkan biro jasa itu dimanfaatkan bagi orang-orang atau klien yang “sangat supersibuk sekali”, bukan yang sekadar sibuk. Jadi, melalui biro jasa itu bukan karena takut atau ribet mengurus sesuatu. Asumsi atau bukan, itu terserah anda. Ini memang idealis, bukan bisnis he he he.]

Ada beberapa alasan mengapa saya akhirnya mengurus kartu keluarga “orang lain”?Pertama, merasa gatal saja karena kartu keluarganya tak kunjung diurus. Kedua, masih ada pernyataan ribet dan pertanyaan berapa duit. Ketiga, dalam waktu dekat akan mengurus paspor sehingga saya berupaya untuk menyelesaikan kartu keluarganya terlebih dahulu sebagai salah satu persyaratan. Keempat, saya ingin melakukan riset. [Alasan pertama dan kedua bisa jadi dilatarbelakangi asumsi. Hikmah riset ini, semoga bisa jadi contoh.]

Kartu keluarga yang saya urus kali ini berdasarkan pada alasan: perubahan (penambahan) anggota baru. Sebutlah kelahiran bayi. Jadi, inilah langkah-langkah saya ketika mengurus kartu keluarga saudara saya.

Pada Selasa, 9 Juni 2015, saya mendatangi ketua RT untuk mendapatkan surat pengantar. Nama resmi yang tercantum di suratnya sih “Surat Keterangan”. Surat keterangan itu berisi identitas pemohon (nama, tempat dan tanggal lahir, jenis kelamin, alamat, dan sebagainya) yang dilanjutkan dengan tulisan: “…bermaksud membuat surat: Kartu Keluarga Perubahan: (Tambah Anggota Keluarga)”. Di dalam surat keterangan itu, di bawahnya, dicantumkan kolom kosong untuk tanda tangan RT (kanan) dan RW (kiri). Karena langkah pertama yaitu mendatangi RT, tentu saja surat keterangan itu sudah ditandatangani RT dan dicap RT. Kalau tanda tangan/cap RW kan pastinya belum.

Selain surat keterangan, saya pun diberikan Formulir Permohonan Kartu Keluarga (KK) dan Formulir Biodata Penduduk Warga Negara Indonesia. Sebelum mendapatkan surat keterangan tadi, saya diberi blangko Formulir Biodata Penduduk Warga Negara Indonesia untuk diisi di rumah. Sesudah diisi dan diserahkan kembali kepada RT, tentu saja RT akan mengisinya ke lembaran yang baru dengan komputer.

Nah, ketiga lembar kertas [baca: surat keterangan, Formulir Permohonan Kartu Keluarga (KK), dan Formulir Biodata Penduduk Warga Indonesia] tadi diberikan kepada saya. (Dalam kasus saya, RT-nya yang mendatangi rumah saya).

Pada 9 Juni 2015 itu pula, saya mendatangi Ketua RW untuk mendapatkan tanda tangan dan cap RW di surat pengantar. Setelah itu, karena diurus pada malam hari, saya baru melanjutkan proses berikutnya pada esok hari.

Pada 10 Juni 2015, ketiga berkas tadi dibawa ke Kelurahan Sarijadi untuk mendapatkan tanda tangan lurah dan cap kelurahan. Selanjutnya, menuju Kecamatan Sukasari. (Tanda tangan dan cap camat/kecamatan dan/atau kepala dinas/dinas tentu saja belum).

Oh ya, tidak lupa untuk membawa akta kelahiran (selembar fotokopinya) dan kartu keluarga lama (asli dan selembar fotokopinya). Menyertakan akta kelahiran (fotokopi) karena kartu keluarga yang diurus kali ini bermaksud “penambahan anggota keluarga”, sedangkan kartu keluarga lama (asli dan fotokopi) sebagai bukti bahwa pengurusan ini merupakan “perubahan atau pembaruan”. Kalau bukan “perubahan atau pembaruan” kan harus menyertakan surat kehilangan dari kepolisian (Polsek) karena maksudnya “kehilangan atau kerusakan”.

Mengapa kartu keluarga lama harus menyerahkan asli dan fotokopinya? Karena kartu keluarga aslinya akan dibawa, sedangkan fotokopinya (yang dicap warna sehingga bukan warna fotokopi lagi) akan diserahkan kembali kepada pemohon. Sementara akta kelahiran asli akan diserahkan kembali kepada pemohon, sedangkan fotokopinya dibawa kecamatan/dinas.

“Iraha dicandakna, Pak?” tanya saya basa basi he he. “Dua minggon weh,” ujar petugas di kecamatan. Ya, keterangan jangka waktu itu memang sudah tercantum di kertas yang ditempel di dinding: untuk kartu keluarga 14 hari. Sesudah itu? Pulang! Lancar dan tanpa biaya. Memang begitu kok fakta dan aturannya.

Jadi, saya (atau saudara saya) akan mengambil kartu keluarga setelah 14 hari. Minimal tanggal 24 Juni 2015. Akhirnya, 25 Juni 2015, tadi, saya mengambil kartu keluarga saudara saya.

Alhamdulillah, riset “kecil-kecilan” saya ternyata berjalan lancar. Kelak, kalau ada urusan pelayanan publik lagi, diurus saja sendiri. Kalau punya saya, saya yang urus sendiri. Kalau punya “orang lain”, uruslah sendiri. Kan saya sudah mencontohkan he he he.

[Sebetulnya ada waktu, tenaga, dan biaya juga. Soal biaya, ya biaya BBM kalau naik mobil/motor sendiri atau ongkos angkot atau capek berjalan kaki.]

Sebetulnya, pada akhir 2014 dan awal 2015 (sebagai tanda jangka waktu 14 hari he he), saya pun sudah pernah mengurus kartu keluarga. Dengan demikian, kedua pengalaman ini sama: lancar dan tanpa biaya. Pokoknya sesuai dengan “iklan”-nya.

Sungguh beruntung saya menjadi warga kota Bandung dan berada di kota Bandung. Kalau di luar kota Bandung? Saya tidak tahu karena saya tidak mengalaminya. Semoga sama.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: