Rahasia di Balik Pembuatan SIM C Baru

Minggu, 7 Juni 2015, tepat setahun lalu (2014), tetapi hari Sabtu, saya dinyatakan lulus semua ujian SIM C. Ada ujian teori, ujian simulator, dan ujian praktik motor.

Sebetulnya, saya tidak sekadar mengikuti ujian SIM C. Tampaknya, ada sisi-sisi menarik bagi saya: riset. Ya, ada rahasia di balik pembuatan SIM C. Apa itu?

Pertama, untuk menjawab pertanyaan sebagian masyarakat: apakah membuat surat kesehatan dari dokter harus dilakukan oleh dokter yang ditunjuk Polri? Terkesan dimonopoli, begitulah kira-kira.

Meskipun Polri sudah membantahnya, saya ingin membuktikan dan meyakinkan diri bahwa hal itu memang tidak benar. Karenanya, saya memeriksakan diri dan meminta surat kesehatan dokter dari dokter puskesmas. Kalau tidak bisa, ya tinggal diperiksa di dokter yang ditunjuk Polri saja. Beres. Katakanlah ada dua surat kesehatan. Bahkan bukan soal biaya jasa dari dokter puskesmas yang lebih terjangkau. Tidak jauh berbeda kok. Apalagi perbedaan besarnya duit itu dipakai untuk sekadar jajan di sela-sela kita membuat SIM.

Kedua, apakah ujian praktik motor harus menggunakan motor dari Polri atau dengan kata lain, bagaimana kalau kita tidak punya motor?

He he, saya justru mencoba ke Polrestabes Bandung naik angkot.

Ketiga, apakah “benar” Polri menggagalkan peserta ujian itu agar membayar biaya-biaya secara berulang-ulang pula? Memperoleh “keuntungan”, begitulah kira-kira.

Itu hanya asumsi. Saya katakan pacenah-cenah tea. Ceuk cenah. Ceuk si eta. Faktanya, bayarnya hanya sekali meskipun ujian berulang-ulang sebelum lulus.

Keempat, apakah pelayanan pembuatan SIM dijadwalkan hari Senin sampai Jumat? Apakah pelayanan pembuatan SIM pada hari Sabtu buka?

Ha ha, saya coba saja pada hari Sabtu. Ternyata, buka.

Kelima, apakah peserta ujian SIM C harus pakai motor gigi atau motor kopling?

Katanya, setiap motor itu bergigi. OK-lah, itu tidak akan saya bahas. Awalnya, saya juga khawatir kalau-kalau kita memang harus pakai motor gigi atau motor kopling. Akhirnya, terbukti, saya bisa pakai motor matik ketika ujian he he he. Padahal saat itu, saya pun bisa dikatakan sudah mampu mengendarai motor gigi.

Nah, itulah rahasia di balik pembuatan SIM C baru yang saya lakukan. Alhamdulillah lancar.

Iklan

2 Comments »

  1. 1

    Walaupun dari pusat aturannya seperti itu harus mengikuti tes teori dan praktek dan membayar dengan tarif yg sudah ditentukan, tetapi faktanya dari pengalaman teman yg membuat sim di daerah yg berbeda itu beda alur dan tarif/biaya nya. Yaa mungkin sudah jadi rahasia umum ^.^

    • 2
      novanherfiyana Says:

      Yang saya tahu (dengar) dari cerita orang lain, khususnya di kawasan Bandung Raya, tampaknya kalau jalur resmi sama saja. Entah kalau yang di luar Bandung Raya. Perbedaannya hanya pada alur saja sejak pendaftaran. [Saya lebih cocok alur di Polrestabes Bandung :)] Jadi, soal tarif/biaya, saya kira, sama saja, kecuali mungkin biaya jasa dokter untuk surat kesehatan. Juga ada teori dan praktik. Itu yang resmi. Paling tidak, itulah yang saya tahu (dengar). Kalau tidak resmi, ya seperti pengalaman saudara saya itu. (Saya sudah menceritakannya).


RSS Feed for this entry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: