Kenangan Saya di Gedung Miramar

novan-palaguna-nusantara

Tampak lahan kosong (bekas Gedung Miramar) di sebelah Gedung Palaguna-Nusantara. Kini, Gedung Palaguna-Nusantara pun sudah dirobohkan.

Apakah anda tahu dengan Gedung Miramar? Kalau kita menghadap ke arah timur, itu tuh suatu gedung di sebelah kiri Gedung Palaguna-Nusantara. Gedung Miramar dan Gedung Palaguna-Nusantara itu sendiri berada di Jalan Alun-alun Timur Kota Bandung.

Kedua gedung tersebut menempati lahan yang dibatasi Jalan Asia Afrika di sebelah utara, sungai Cikapundung (timur), Jalan Dalem Kaum (selatan), dan Jalan Alun-alun Timur (barat). Lebih tepatnya berhadap-hadapan dengan Mesjid Raya Propinsi Jawa Barat dan ditengahi oleh Alun-alun Bandung.

Sayangnya, kini, saya tidak bisa menunjukkan Gedung Miramar kepada anda. Kini, Gedung Miramar sudah dirobohkan. Jangankan Gedung Miramar, Gedung Palaguna-Nusantara yang berada di sebelahnya pun sudah rata dengan tanah. Kedua gedung tersebut dikenal sebagai pusat perbelanjaan di kota Bandung.

Sebagai orang Bandung, saya belum sempat mengunjungi Gedung Miramar pada era kejayaannya. Kalau sekadar melewati tentu pernah karena saya mengunjungi Gedung Palaguna-Nusantara. Sampai-sampai saya menyadari bahwa Gedung Miramar sudah tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Ya, pada awal tahun 2000-an, di halaman Gedung Miramar yang sudah dibentengi seng itulah berkumpul beberapa penjual buku bekas dan surat kabar. Khusus surat kabar, sebagai kolektor (pengoleksi) surat kabar, saya sering berburu di kawasan Alun-alun Bandung ini. Banyak merek surat kabar baru bermunculan. Boleh jadi karena kawasan ini dekat dengan Bursa Koran di Cikapundung.

Namun demikian, saya memiliki kenangan dengan Gedung Miramar ketika gedung tersebut sudah tidak bisa dikatakan sebagai pusat perbelanjaan lagi. Pertama dan sekaligus terakhir kali memasukinya.

Awal ceritanya, sebagai pemburu surat kabar, saya mencari-cari alamatnya di YellowPages. Salah satunya di Gedung Miramar. Kantor redaksi itu pun saya hubungi. Lalu berangkatlah saya ke Gedung Miramar. Tampak dari luar, gedung itu sudah “mati”. Namun, saya nekad memasukinya.

Di dalam Gedung Miramar, kalau tidak salah, ada 3-4 tingkat. Eskalator tidak berfungsi dan tampak berkarat. Di dalamnya tampak beberapa orang yang tertidur. Entah preman, entah anak jalanan, entah siapa. Sementara ruangan (toko) hampir semuanya tutup dan ditutupi kertas atau koran. Pokoknya “mati”.

Saya mengatakan “hampir semuanya” karena di dalamnya masih ada dua ruangan yang aktif. Meski aktif, tampak sunyi. Apa itu? Agen wisata dan Kantor redaksi yang saya tuju. Kedua ruangan ini menempati lantai teratas.

Di kantor redaksi, saya disambut dua cewek. Sepertinya resepsionis atau administratif. Nggak tahulah. Lalu saya pun mengungkapkan tujuan saya ke tempat ini. Akhirnya, saya pun mendapatkan satu merek surat kabar yang saya buru. Senangnya saya ketika di kantor redaksi itu juga tersedia dua merek surat kabar lainnya. Lumayan, ada tiga merek surat kabar sebagai tambahan koleksi saya. Setelah tujuan selesai, pulanglah saya.

Satu hal yang berkesan bagi saya yaitu saya tidak membayangkan hal-hal yang ganjil. Sebutlah kalau-kalau preman mengganggu saya. Atau kalau-kalau hantu mengganggu saya. Bagaimana tidak, di dalam Gedung Miramar tampak kumuh. Jangankah berpikiran negatif, saya merasa tenang-tenang saja. Tidak muncul bulu kuduk. Kalau muncul bulu kuduk, mungkin saat itu saya mempertimbangkan untuk memasukinya.

Kini, Gedung Miramar sudah tiada….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: