Hobi Terobos Lampu Merah

Rabu, 2 April 2015, itu waktu sudah menunjukkan jelang pukul sepuluh. Saya baru saja tiba di rumah. Cuaca tampakceudeum. Mau hujan meskipun turunnya hujan terjadi setelah pukul dua belas siang.

Sesampainya di rumah, saya membuka Twitter. Wah, ada berita kecelakaan motor yang ditabrak kereta api karena menerobos. Saya pun mendengarnya melalui PRFM.

Kecelakaan itu tentu sungguh memprihatinkan. Namun, bagaimana lagi, mengetahui latar belakang ceritanya, itu akibat kelalaian kita sih.

Saya menulis cerita ini karena “dunia terobos peraturan” tampaknya sudah menjadi kebiasaan kita. Ya, dalam perjalanan berangkat sebelum pulang lagi ke rumah tadi, saya menyaksikan bagaimana para pengendara motor menerobos lampu merah.

Ketika di persimpangan Jalan Pasteur/Jalan Pasirkaliki, semua pengendara motor tampak tertib. Itu karena sistemnya bagus meskipun dalam kesempatan yang lain ada saja pengendara motor yang menerobos lampu merah. Namun, kalau macet, menjelang tempat (persimpangan) ini sering kali pengendara motor yang melintasi trotoar. Aya-aya wae, kan di depan mereka terhenti lagi karena lampu merah. Irrasional sebagai seorang pembalap he he he.

Soal menerobos lampu merah, itu terjadi di persimpangan Jalan Pasteur/Jalan Cipaganti. Semua pengendara motor menerobos lampu merah, kecuali saya dan seorang lagi di kanan. Lalu, di persimpangan Jalan Pasteur/Jalan Cihampelas, semua pengendara motor, termasuk seorang yang di sebelah kanan tadi, menerobos lampu merah. Bagaimana dengan saya? Saya tetap berada di tempat.

Terus terang, saya sebenarnya cukup merasa “tidak enak” ketika berada di belakang zebra cross sendirian. Ya, sendirian. Celingak celinguk. Sepertinya berbuat yang benar itu jadi aneh sendiri. Namun, tadi saya merasa tenang. Soalnya tidak diklakson dari belakang.

Saya pun sebetulnya tidak “lurus-lurus” amat. Paling tidak, ada upaya untuk berbuat benar. Bukan kebiasaan jelek yang massif. Bagi saya, mengendarai motor agar bermakna itu: niatnya lurus dan caranya benar. Itu saja.

Rambu Dilarang Parkir

Dalam kesempatan yang lain, saya mendengar acara Walikota Bandung Ridwan Kamil Ngabandungan di PRFM. Saat itu, ada SMS dari sopir taksi. Lebih kurang begini: “Minta ‘kelonggaran’ parkir di Jalan Djundjunan untuk cari penumpang”. Lalu Pak Ridwan Kamil menjawab: “Kan kita boleh parkir di mana saja, asal tidak ada rambu larangan parkir”.

Ibarat kata begini. Kita mengeluh atau “marah” kepada Pak Ridwan Kamil, tetapi sejatinya salah alamat. Rambu larangan parkir kan sudah aturan. Siapa pun walikotanya, rambu larangan parkir itu (mungkin) sudah ada sejak lama. Iya, kan?

Rambu U-Turn

Anda ingat rambu U-Turn di Jalan Djundjunan? Semua pengendara boleh memutar arah. Namun, mengapa ada Pak Ogah di situ? Ini soal ekonomi biaya tinggi he he he (meskipun pemberiannya secara sukarela). Bukankah setiap pengendara sudah pasti saling menghargai lalu lintasnya?

Saya menyebutnya negeri yang aneh….

Omong kosonglah bikin SIM itu sulit dan mahal. Dipersulit dan dipermahal. Andai naik motor di dunia nyata seperti itu, dijadikan sebagai ujian SIM kelak, alangkah sangat sulit dan sangat mahal untuk mendapatkannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: