Perjalanan Menuju Dusun Bambu

Tahun 2015 sudah memasuki bulan April. Tanggal pertama lagi. Ya, Rabu, 1 April 2015, siang tadi, saya berkunjung ke Dusun Bambu. Biasalah, maksudnya, ini cerita perjalanan saya.

Saya berangkatnya naik motor. Berangkat dari rumah di kawasan Sarijadi menjelang pukul setengah satu siang. Selama kurang dari empat puluh menit, saya sudah berada di Dusun Bambu. Perjalanannya sih santai saja. Nggak perlu cepat-cepat. Kebetulan, siang tadi itu, lalu lintas lancar.

Untuk menuju Dusun Bambu, sebetulnya ada 7-9 akses jalan alternatif. Itu kalau dari arah barat, selatan, dan timur. Kalau dari arah utara, saya belum pernah mencobanya. Nah, perjalanan saya dari selatan (baca: Sarijadi) ini melintasi Cihanjuang sebagai salah satu akses. Inilah jalan-jalan yang saya lintasi: Sarijadi, Jalan Sariasih, Jalan Terusan Gegerkalong Hilir, Jalan Sariwangi, Jalan Cihanjuang, dan Jalan Cihanjuang Rahayu, sampai mentok di Jalan Kolonel Masturi. Di sini (mentok di Universitas Advent), saya belok kiri melintasi Jalan Kolonel Masturi. Di Jalan Kolonel Masturi terdapat sungai (untuk Curug Cimahi). Sungai ini merupakan perbatasan antara kecamatan Parongpong dan kecamatan Cisarua. Jalan (Desa) Sariwangi, Jalan (Desa) Cihanjuang, dan Jalan (Desa) Cihanjuang Rahayu itu sendiri merupakan bagian dari kecamatan Parongpong.

Di Jalan Kolonel Masturi, setelah jalanan menurun dan melewati sungai itu tadi, tampak CIC (Ciwangun Indah Camp) di sebelah kanan, lalu menanjak dan bertemu Curug Cimahi/Terminal Cisarua, dan akhirnya menemukan percabangan jalan ke kiri/kanan. Jika ke kiri kita akan terus melintasi Jalan Kolonel Masturi menuju Cimahi atau Ngamprah atau Padalarang maka ke kanan kita akan menuju Dusun Bambu. Sebetulnya, masih di Jalan Kolonel Masturi sih, tetapi bukan “jalan raya”.

Setelah menelusuri jalan menuju Dusun Bambu, kita memasuki pintu gerbangnya. Harga tiketnya Rp 10 ribu per orang. Motor? Bayar juga he he he. Untuk parkir Rp 10 ribu juga. Baik orang maupun motor, ada karcisnya juga loh.

Melintasi jalan di kawasan Dusun Bambu sejauh 100-200 meter menuju tempat parkir, kita sudah melewati pintu gerbangnya di sebelah kiri. Namun demikian, perjalanan saya pun menuntaskannya sampai tempat parkir (bus, mobil, dan motor).

Karenanya, saya harus kembali lagi ke pintu gerbang tadi. Lumayanlah, 70-100 meter di antara 100-200 meter tadi. Di pintu masuk, tiket diperiksa. Digunting sedikit. Akhirnya, masuk deh.

Jika orang lain menaiki mobil wisata untuk menuju puncak, saya berjalan kaki saja. Melihat pemandangan. Yang naik mobil wisata juga sebetulnya begitu he he he. Kalau pun naik mobil wisata, itu gratis. Pelayanannya tampak sigap. Jadi, dua orang pun langsung berangkat.

Naik ke puncak, ah sepertinya jaraknya “hanya” 200-300 meter kok. Di situlah terdapat tempat-tempat wisata.

Pulang, bawa belanjaan. Oleh-oleh. Jalan kaki lagi ah…. Tapi, akhirnya, naik mobil juga. Tiba di bawah, santai dulu di sawah. Di saung. Di mana-mana, sejak tadi, ada yang berfoto ria.

Oh ya, ada tulisan ini loh: dilarang membawa makanan/minuman dari luar. Kena denda Rp 250 ribu hihihi.

Keluar pintu gerbang, saya menuju tempat parkir. Lalu naik motor 100-200 meter menuju pintu gerbang utama. Setelah melintasi jalan yang dekat Dusun Bambu tadi, saya pulang menuju Padalarang. Jauh amat ya? Namanya juga jalan-jalan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: