Haryoto Kunto dan Karya Ciptanya yang Pantas Dihargai Mahal

The true University in this World is a Collection of Books. (Abraham Lincoln)

Sekali tempo di awal tahun 1980-an, penulis sempat mampir mengunjungi kantor redaksi sebuah harian terkemuka di Jakarta.

“Nah, ini dia orangnya yang dicari-cari. Kebetulan minggu depan kita akan membuat liputan tentang hari kota Bandung”, kata Bung Redaktur. “Pak Kunto, coba tolonglah dibuatkan ulasan atau artikel pendek tentang Bandung”, pinta Bung Redaktur pula seraya menyodorkan mesin tik dan secangkir kopi panas.

Agaknya Bung Redaktur mengetahui kebiasaan penulis yang lebih senang menggunakan mesin tik ketimbang komputer.

Setelah satu jam ketrak-ketrik menyusun artikel, sambil dirubung dan diusik oleh para wartawan muda yang banyak bertanya, maka rampunglah order Bung Redaktur tersebut.

Sebuah amplop tebal berisi beberapa ratus ribu rupiah, segera diserahkan oleh Redaksi ketangan penulis disertai ucapan terima kasih atas bantuan sebagai responden atau nara sumber berita selama ini.

Tatkala seorang wartawan muda mengetahui honorarium penulis, langsung ia nyeletuk berkomentar: “Wah enak sekali Pak Kunto ini. Ketrak-ketrik satu jam, honornya lebih dari dua kali gaji bulanan saya”.

Dengan spontan penulis menjawab: “Memang betul, untuk menulis artikel ini cuma perlu waktu satu jam. Akan tetapi anda harus ingat, bahwa untuk mengumpulkan bahan referensi di otak, saya memerlukan waktu lebih dari 25 tahun untuk membaca!”

Dialog singkat tadi, mengingatkan kita pada perdebatan sengit dalam sidang pengadilan pelukis Inggris Turner yang dikecam tajam oleh kritikus Ruskin.

Menurut Ruskin, sang kritikus seni, lukisan karya Turner yang digarap Cuma beberapa hari, harga jualnya kelewat tinggi.

Lalu bagaimana sanggahan Turner mematahkan kritik pedas Ruskin? “Memang benar, aku cuma membutuhkan waktu satu dua hari guna menyelesaikan lukisanku. Namun untuk mampu melukis seperti ini, aku belajar melukis sepanjang hidupku”, ungkap Turner yang memenangkan perkara pelecehan nama baik itu.

Dari kasus tadi dapatlah disimpulkan, bahwa segala macam kegiatan yang dikerjakan dengan penuh ketekunan, seperti melatih menggambar atau membaca buku atau bahan literatur lainnya, niscaya dibelakang hari bakal menuai keuntungan. Kegiatan membaca di usia muda membuahkan khazanah ilmu pengetahuan yang mendalam, serta menumbuhkan sikap dan pandangan arif bijaksana di hari tua. Pengalaman seperti itu dapat kita jumpai dalam lembaran sejarah bangsa.

Catatan:

*) Bagian artikel ini diambil dari artikel berjudul “Perkembangan Perbukuan di Indonesia dari Masa ke Masa: Dalam Pandangan Seorang Pencinta Buku” karya Ir. Haryoto Kunto yang merupakan salah satu materi dalam buku panduan “Pameran Buku Nasional 1996”.

*) Selain bagian artikel tersebut, sesungguhnya ada kelanjutannya berupa subjudul-subjudul, yaitu Para Pendiri Bangsa, Dunia Buku di Indonesia, dan Buku Bacaan yang Baik.

*) Artikel yang saya (Novan Herfiyana) salin tidak dilakukan penyuntingan (editing). Jadi, dibiarkan apa adanya, termasuk soal EYD misalnya.

*) Dalam artikel tersebut, ditulis bahwa Penulis (Ir. Haryoto Kunto) adalah seorang Budayawan pencinta buku, lebih dikenal dengan sebutan “Kuncen Bandung”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: