Keras Kepala Ketika Menerbitkan Buku Persib

bukupersib-novanherfiyana-1Akhir tahun 2003 atau awal tahun 2004. Saya lupa, waktu tepatnya. Pada satu kesempatan dan beberapa kesempatan yang lain, saya berbincang bersama beberapa rekan kerja saya di sebuah perusahaan penerbitan buku di kawasan Jakarta Selatan. Dua di antaranya bersama Nino Oktorino dan Yoga P. Harto dalam kesempatan yang terpisah.

Sampailah pada pertanyaan itu. “Mengapa tidak mewawancarai nara sumber saja?” tanya Nino yang kini dikenal sebagai penulis buku sejarah yang produktif. Pertanyaan serupa disampaikan pula oleh Yoga yang kini menjabat sebagai wakil pemimpin redaksi majalah Stabilitas. Istilah “nara sumber” yang dimaksud mengacu pada tokoh (apa pun profesi dan jabatannya), pengurus, pemain, dan/atau mantan pemain sepak bola nasional, khususnya dari Persib Bandung, yang diwawancarai.

Saya tidak peduli apakah rekan-rekan saya itu masih ingat dengan obrolan ringan tersebut atau tidak, tetapi saya tentu saja mengingatnya. Hal itu wajar karena saya yang punya lakon dalam cerita kali ini.

Tanggapan saya, saat itu, saya masih belum fokus pada kegiatan wawancara kepada nara sumber. Itu tanggapan singkat saya.

Lebih dari itu, penjelasan yang hanya diketahui oleh diri saya sendiri tentu alasan ini: Saya masih fokus pada dokumentasi surat kabar sebagai sumber-sumber penulisan saya. Kalau pun ada pihak lain yang mau melakukan kegiatan wawancara, ya silakan saja. Lakukan saja. Itu hak dia atau mereka he he he. Paling tidak, saya menganggapnya sebagai “bagi-bagi tugas” para kreator. Artinya, saya punya karya dan dia atau mereka pun punya karya. Saya menyadari bahwa pada dasarnya setiap orang itu ingin berkarya apa pun bidangnya. Pada suatu saat, karya-karya itu akan berinteraksi. Terjadilah, irisan. Begitu pikir saya.

Kelak, saya pun akan melakukan wawancara meskipun belum tentu terjadi. Ini soal kesempatan saja. Cepat atau lambat. [Selain pemilihan antara “surat kabar” dan “nara sumber”, buku yang saya tulis bersumber pada koran Pikiran Rakyat meskipun masih ada (catatan) media-media lain yang saya koleksi. Suasana kebatinan saya saat itu ialah “inilah cerita Persib yang ditampilkan oleh koran Pikiran Rakyat”. Media lain (atau campuran media)? Ya, tunggu saja penerbitan berikutnya. Begitulah ceritanya.]

Namun, satu hal yang pasti, dalam buku-buku awal saya, saya akan mencantumkan catatan kaki (footnote). Khusus kepada Nino, saya mengatakan saat itu bahwa catatan-catatan kaki itulah yang akan menjadi jejak bagi pihak lain, siapa pun itu, untuk menelusuri informasi lebih lanjut. Saya sadar bahwa upaya penulisan yang saya lakukan mungkin masih keliru.

Itulah sikap keras kepala saya yang akhirnya pada 2009 menerbitkan buku sendiri berjudul “Persib ’86: Lahirnya Kembali Generasi Emas Persib” (buku pertama), “Persib 1990-an: Melestarikan Kejayaan Persib” (buku kedua), dan “Persib: Juara Liga Indonesia Edisi Perdana” (buku ketiga). Ya, buku sendiri.

Lalu, adakah hal aneh dengan istilah “buku sendiri”? Bukankah hampir semua penulis buku menulis bukunya sendiri? Maksud saya, istilah “buku sendiri” itu dimaknai sebagai proses: mencari dan menghimpun bahan tulisan, menulis, menyunting atau mengedit, mendesain grafis (layout), mencetak, dan memasarkan (menjual). Semua dilakukan sendiri, kecuali percetakan (karena memang saya nggak punya).

Selfpublishing dan Indie Label

bukupersib1986Apa itu selfpublishing? Apa pula itu indie label? Saya justru baru tahu kedua istilah itu belakangan. Saya mengenal selfpublishing pada 2000-an, sedangkan indie label pada 1990-an. Itu pun, indie label dalam dunia musik, bukan dunia buku. Saya mendengar konsep indie label ketika GMR (Generasi Muda Radio) 104.4 FM Bandung mengudara. Radio yang menyajikan musik rock sehingga berslogan “The Rock Station” itu tidak bersiaran lagi sejak pertengahan 1990-an. Ya, kira-kira pada 1994 lah.

Perihal dunia buku, begini ceritanya. Pada jaman dahulu kala, maksudnya pada pertengahan tahun 1987, ayah saya membeli tabloid BOLA dan tabloid Tribun Olahraga. Kedua media olahraga itu menyampaikan laporan utama bertema menjelang pertandingan babak final Piala Champions 1987. Khusus tabloid BOLA, dicantumkan pula daftar juara Piala Champions 1956-1986. Sementara tabloid Tribun Olahraga, saya masih ingat ketika mencantumkannya pada edisi sepekan berikutnya. (Saya masih ingat bahwa hari terbit tabloid BOLA ialah Jumat, sedangkan tabloid Tribun Olahraga pada Rabu. Jadi, mungkin, terbitnya tabloid BOLA dipercepat).

Setelah memerhatikan daftar juara Piala Champions itulah saya sempat mengirimkan surat pembaca untuk rubrik “Forum Pembaca” di tabloid BOLA meskipun tidak mengetahui dimuat atau tidak. Harap maklum, saat itu, di kompleks perumahan di mana saya tinggal belum ramai peredaran surat kabar sehingga saya sulit memantaunya. Surat saya itu berisi permintaan kepada tabloid BOLA agar memuat daftar juara Perserikatan sejak pertama kali diselenggarakan hingga 1987.

Hal itu ternyata menginspirasi saya untuk menyusun daftar juara berbagai cabang olahraga, bukan hanya sepak bola. (Kelak, saya mengenal “Buku Pintar”-nya Iwan Gayo). Anggaplah itu pikiran liar masa kecil saya. Dari pengalaman itu, saya ingin membuat buku sendiri. Ya, “buku sendiri”. Kelak, ternyata, “buku sendiri” itu dikenal sebagai selfpublishing. Soal buku sendiri berisi daftar juara, saya kira, mungkin saya terinspirasi oleh rubrik “Kamus Olahraga” yang menjadi salah satu sajian tabloid Tribun Olahraga. Imajinasinya yaitu sebagai buku referensi.

Berdasarkan imajinasi masa kecil saya, saya tidak mengerti mengapa saya tidak berpikir untuk membuat buku kepada sebuah penerbit. Pertanyaannya mungkin bukan mengapa, tetapi saya memang tidak berpikiran seperti itu. Pokoknya nggak kepikiran untuk menerbitkan buku kepada pihak lain. Mungkin pula saya masih berjiwa anak kecil. Tahu-tahu saya ingin menerbitkan buku dan bukunya sudah jadi, tetapi tidak paham prosesnya. Ya, sekali lagi, ini memang jiwa anak kecil.

Lucunya, imajinasi “buku sendiri” yang saya maksud saat itu justru apa yang kelak disebut indie label dalam dunia musik. Jadi, bukan selfpublishing. Bagaimana pun, itulah pengalaman masa kecil.

Pernahkah anda membayangkan sesuatu tetapi tidak mengetahui wujud yang dibayangkan itu apa? Saya kira, ini soal perbendaharaan kosa kata yang masih kurang saja. Ya, itulah indie label sebagai imajinasi saya.

Berkaitan dengan dunia buku, saya ingin membuat buku sendiri yang tentu saja diterbitkan sendiri. Ibaratnya memasukkan lagu sendiri ke dalam kaset oleh diri sendiri. (Sampai proses transfer atau rekamannya sendiri saya tidak mengerti he he he). Kelak, kalau dalam dunia musik, itu ternyata indie label.

Soal bahan tulisan, pada 1990-an, saya pernah mengirimkan surat ke FIGC (Italia) dan FA (Inggris). Surat itu berisi permintaan daftar juara Liga, daftar juara Piala Liga dan runner-up serta skornya (khusus Inggris dengan Piala FA), daftar pemain terbaik, daftar pencetak gol terbanyak, dan daftar olahragawan terbaik dari tahun ke tahun. Khusus olahragawan terbaik, saya terinspirasi pada pemilihan atlet putra dan putri serta pembina terbaik yang mulai diselenggarakan tabloid BOLA pada akhir 1980-an. (Pada masa itu saya memang sedang senang-senangnya berkirim surat. Saya pernah berkirim surat kepada Susi Susanti usai juara All England untuk pertama kali. Dalam surat itu saya meminta raket Susi Susanti yang dipakai ketika menjuarai All England untuk pertama kali. Surat itu pun tak terbalas. Mungkin terlalu banyak surat serupa dari para penggemarnya he he he).

Tadinya, saya pun hendak mengirimkan surat serupa ke hampir 16 federasi sepak bola sebagaimana alamatnya dimuat di tabloid BOLA dan tabloid Tribun Olahraga. Namun, belum terlaksana. Sayangnya, kedua surat (FIGC dan FA) yang ditulis dengan menggunakan bahasa Inggris seadanya itu belum dibalas. Sampai 2015 ini. Sudahlah, lupakan saja.

Singkat cerita, dalam waktu yang lama, impian pada karya cipta sejak masa kecil itu tidak terwujud karena saya sudah sibuk memikirkan hal yang lain, studi misalnya. Mungkin juga sudah dilupakan.

Gemar Media Cetak yang Menginspirasi Judul Buku Persib

bukupersib-novanherfiyana-2Dalam perkembangannya, terutama sejak awal 1990-an, saya ternyata memiliki kegemaran mengoleksi nama-nama merek media cetak (surat kabar) se-Indonesia. [Baca: NovanMedia] Disadari atau tidak, diakui atau tidak, tampaknya itu menjadi suasana kebatinan saya. Akhirnya, kira-kira pada 1993/1994, saya “menemukan” judul untuk buku saya berjudul “Persib dalam Penerbitan Pers”.

Adanya tulisan “…dalam Penerbitan Pers” tentu mengacu pada alasan tadi bahwa tulisan saya bersumber pada kliping atau catatan pers atau media cetak atau surat kabar (koran, tabloid, majalah, dan sejenisnya).

Pada 2009, setelah mengarungi lika liku samudera kehidupan (ah lebay), akhirnya saya mewujudkan cita-cita “keras kepala” saya untuk menerbitkan buku sendiri. Ya, ini memang soal idealis, bukan bisnis meskipun itu juga proses belajar bisnis. Terlepas dari itu, perwujudan cita-cita ini sebetulnya didorong oleh keinginan agar saya bisa tidur nyenyak. Plong rasanya setelah buku itu terbit. Itulah perwujudan ketiga buku saya.

Sebelum buku itu terbit, bagian-bagiannya sudah saya tulis. Jadi, saya “terpaksa” menuntaskannya pada 2009 itu. Pada Januari 2009, terbit buku “Persib ’86: Lahirnya Kembali Generasi Emas Persib”. Februari 2009, terbit buku “Persib 1990-an: Melestarikan Kejayaan Persib”. Lalu, Maret 2009, terbit buku “Persib: Juara Liga Indonesia Edisi Perdana”. Sementara buku “Persib dan Koleksi Gelar Juara Turnamen” yang direncanakan terbit pada April 2009 urung diterbitkan. Padahal, kalau mau, naskah buku itu sudah siap dicetak. Sudah siap terbit.

Mengapa bukan buku “Persib dalam Penerbitan Pers”? Karena perkembangan keadaan. Begini. “Persib dalam Penerbitan Pers”, saya maksudkan bahwa isinya akan membahas sejarah Persib sejak jaman dahulu hingga 2009 ketika Liga Super Indonesia (LSI) edisi perdana (2008/2009). Selain untuk ketenangan batin, saya menerbitkan buku saya itu juga untuk meramaikan kehadiran buku-buku Persib yang sudah terbit, yaitu buku “Lintasan Sejarah Persib” karya R. Risnandar Soendoro (Juni 2001) dan buku “Persib Aing” karya Dani Wihara dan Endan Suhendra (Mei 2007).

Namun, karena catatan Persib saya masih bolong-bolong, akhirnya saya harus membuat “strategi”. Bagaimana tidak, buku saya tipis-tipis. Artinya, satu naskah buku dibagi-bagi. Karenanya, terciptalah edisi tematis.

Setelah bingung memikirkannya maka jadilah ketiga buku saya tadi. Saya kira, sebagian dari anda sudah mengetahui keberadaan blog www.bukupersib.wordpress.com yang kini sudah dihapus. Bukan itu saja, emailnya pun bukupersib@yahoo.com. Kelak, Twitter-nya, @bukupersib. Namun, karena saat itu saya tak suka ber-Twitter-an, akun itu pun dihapus dan kini ada orang lain yang mendaftarkannya.

Blog BukuPersib itulah yang saya pakai untuk mempromosikan dan/atau menjual buku saya. Saya juga memasarkannya di warnet (warung internet) langganan saya. Ternyata ada pembelinya. Pembeli itu sudah melihat wujudnya. Namun, untuk “orang jauh” via online (email), tanggapannya masih sedikit karena saya masih maju-mundur mempromosikannya. Beberapa calon pembeli pun membatalkannya. Mungkin tampilannya yang tidak menarik karena sebelumnya saya sudah memperlihatkan atau mendeskripsikan buku saya. Tujuannya agar calon pembeli bisa mempertimbangkannya.

Sebagian dari anda mungkin ada yang pernah membelinya. “Menarik”-nya, buku pertama saya memiliki ketebalan 16 halaman yang terdiri dari satu halaman hak cipta, satu halaman pengantar, dan 14 halaman isi. Bagaimana dengan buku kedua saya? Lebih tipis lagi: satu, satu, dan sebelas halaman. Bahkan buku ketiga saya jauh lebih tipis, yaitu satu, satu, dan tiga halaman. Namun, buku ketiga saya memiliki lampiran 23 halaman. (Kelak, dalam edisi lux, pada 2012, saya menambahkan bonus “Insiden Mattoangin atau Tragedi Kuntadi”. Alasannya sih untuk “membantu” buku ketiga yang hanya menampilkan tiga halaman. Tadinya, bonus itu merupakan bagian dari edisi tematis “Kejurnas PSSI 1961”. Sebagaimana cerita tadi, sesuai dengan “strategi”, naskah buku saya kan “terpaksa” dibagi-bagi). Mana ada sih orang yang “berani” menerbitkan buku yang hanya memiliki tebal tiga halaman? Namun, saya tetap nekad. Suasana pikiran saya ketika menerbitkan buku Persib itu: “Ah, saya kira tiada yang salah”.

galamedia070309Namun demikian, dari ketiga buku itu, saya hanya mencetak beberapa eksemplar untuk buku pertama dan buku kedua. Akan tetapi, saya hanya menjual buku pertama saya sebesar Rp 20 ribu per eksemplar. Sementara penjualan buku kedua saya dimaksudkan sebagai daya tarik untuk buku pertama saya. Bagaimana dengan buku ketiga saya? Saya ragu untuk menjualnya karena buku ketiga tersebut hanya memiliki tiga halaman isi meskipun lampirannya jauh lebih banyak. Saya khawatir, pembeli akan merasa kecewa kalau tebal bukunya hanya tiga halaman. Bagaimana tidak, calon pembeli hanya mengetahui “tiga halaman” itu tanpa mengetahui isinya. Soalnya, buku saya berdasarkan print on demand. Tentu saja calon pembeli belum melihat isinya.

Meskipun begitu, dalam perkembangannya, sambutan datang dari Endan Suhendra, wartawan Galamedia. Kandungan materi buku saya dibahas ulang dalam tulisan berseri pada 7-31 Maret 2009. Ya, Maret dimaklumi sebagai ulang tahunnya Persib. (Debut pertemuan saya dengan Endan Suhendra terjadi dalam peluncuran buku “Persib Aing” pada 12 Mei 2007. Menurut ceritanya, Endan sempat mereka-reka wajah saya sebagaimana foto dan cerita saya yang pernah di-feature-kan oleh Mohamad Taufik di koran SEPUTAR INDONESIA edisi 1-2 Mei 2007 –kini Koran SINDO). [Baca: Saya Masih Tertarik Media Tradisional.]

Kalau dicermati secara saksama, mengapa saya masih berani menerbitkan buku yang tampilannya seperti itu? Sudah saya katakan bahwa saya memang keras kepala. Bagaimana tidak, buku-buku yang saya terbitkan jauh dari keinginan pasar. Akan tetapi, hal itu cenderung disengaja. Untuk sementara. (Kalau untuk sementara, mengapa lama ya? he he he).

Saya sengaja membuat buku yang tampilannya tidak lazim. Pikiran saya menerawang pada monografi. Buku laporan kegiatan. Modul. Proposal. (Ah, proposal jaman sekarang saja sudah bagus kok?). Terus, ini alasan utamanya, yaitu agar terkesan djadoel. Ternyata, karya saya itu memang kurang diminati ketika desain cover buku-buku pada umumnya menampilkan desain cover yang menarik. (Saya menyadari bahwa sebetulnya diminati atau tidaknya tergantung pada beberapa faktor. Terlepas dari itu, bayangan djadoel yang saya lihat dalam contoh ilustrasi di surat kabar, faktanya tidak sesuai dengan kenyataan pada wujud buku saya).

Bukan hanya itu. Coba perhatikan hal yang lain lagi. Buku saya diterbitkan oleh Novan Herfiyana. Bukan oleh “penerbit”-nya, sebutlah CV atau PT Novan Media. Sekali lagi, Novan Herfiyana sebagai nama seseorang. Ya, karena buku itu diterbitkan secara perseorangan. Dari pengalaman ini, di balik sikap keras kepala, saya masih ingin membuktikan bahwa seseorang pun bisa menerbitkan buku (meskipun tahun 2009 dianggap terlambat), bagaimana pun kualitasnya. [Tentu saja, saya pun memerhatikan peraturan perundang-undangan yang berlaku saat itu bahwa penerbit buku itu tidak harus berbadan hukum. Berbeda dari perusahaan pers yang harus berbadan hukum.]

Selain penerbitnya adalah seseorang, buku saya berukuran A4 memakai kertas HVS 80 gram agar tebal, layout-nya pakai MS Word, serta jilidnya dilakban dan/atau dispiral. Soal jilid, saya terinspirasi ketika membolak balik suplemen “Ruang Baca” Koran Tempo edisi No. 17, Juli 2005 yang menampilkan judul “Menerbitkan Buku itu Gampang”.

Meskipun tampilannya seperti itu dan mempromosikannya agak malu-malu, saya masih memiliki rasa PeDe (Percaya Diri) juga. Ya, promosi saya saat itu menggunakan tagline “buku ini sarat referensi dan layak dikoleksi”. Selain itu, saya mempromosikan kelebihan buku ini, yaitu “buku saya lebih kuat pada content (bukan tampilan)”. Itulah rasa PeDe saya. Buku itu pun saya promosikan satu kali di I-Radio (105.1 FM) Bandung berupa adlips. Diiklankan satu kali mana mempan he he he. Namun, dari situ, saya justru belajar hal lain lagi, yakni iklan radio.

Dalam perkembangannya, Maret 2009, saya mencoba menghubungi rekan saya. Dia adalah seorang layouter. Tujuannya, tentu saja untuk me-layout naskah buku saya untuk menjadi wujud yang berbeda. Itu hanya buku pertama saya. Ukuran A4 mungkin jadi A5 atau B5 agar bukunya menjadi lebih tebal. Selain itu agar desainnya bagus. Sayang, setelah naskah diberikan, ternyata tak kunjung dikerjakan. Padahal dana sudah disiapkan. Kecewa? Jelas!

Lalu, saya berpikir kembali. “Ya, sudahlah, kalau begitu tetap pakai versi saya saja,” gumam saya dalam hati menghibur diri. Selain mencetak buku sendiri dengan printer, saya pun mencetak di percetakan di Jalan Tamansari Bandung (dekat Unisba). Hal itu saya ketahui dari salah satu mailling list. Sebetulnya sih untuk membuat contoh saja. Tujuannya, agar buku saya lebih bagus karena wujudnya benar-benar seperti sebuah buku pada umumnya. Ya, percetakan di Jalan Tamansari itu bisa menerima satu eksemplar secara print on demand. Sayang, menurut saya, hasilnya kurang bagus. Wujudnya sih bagus karena seperti sebuah buku pada umumnya, tetapi bukunya menjadi lebih tipis karena setiap halaman dicetak bolak balik. Bagaimana tidak, 16 halaman menjadi 8 halaman.

Dalam perkembangannya, saya sudah menghubungi (via telepon) bagian pemasaran Gramedia yang di Jalan Merdeka No. 43 Bandung. Mbak-mbak yang di Gramedia itu pun tampak tertawa mendengar deskripsi buku saya. Namun demikian, ada pengharapan bagi saya ketika dia menanggapinya “dicoba saja”. Saya menelepon Gramedia karena jauh sebelumnya saya pernah melihat media massa (majalah) yang diterbitkan perseorangan yang dipajang atau dijual di Gramedia. Itu ketika awal-awal masa reformasi.

Kembali ke soal buku, katanya, minimal harus ada 10 judul buku. Kalau tiga, bagaimana? Gramedia itu pun masih berbaik hati dengan menunjukkan salah satu distributor buku. Dari situ, saya mempertimbangkannya. Mengapa? Karena kalau ada biaya distribusi dan diskon sebesar 50 persen, sungguh mahal harga jual buku saya yang tipis. Dikatakan tipis karena buku saya berukuran A4.

Setelah itu, senyap. Sepi. Beberapa email yang memesan buku saya malah membatalkannya setelah saya memberikan deskripsinya.( Kalau dipajang di Gramedia atau di mana pun mungkin calon pembeli akan mempertimbangkan buku saya, bagaimana pun kualitas dan harganya). Ya, saya lebih senang begitu daripada pembeli yang sudah menerima buku malah kecewa. Karena sambutannya seperti itu, beberapa email yang mempertanyakan keberadaan buku saya, saya menanggapinya: “Saya sudah tidak menjual buku lagi”. Selebihnya, ada alasan yang lebih masuk akal yaitu jauhnya lokasi bolak balik antara rumah saya dan percetakan. Apalagi, tukang foto kopi sebagai percetakannya sudah pindah entah ke mana. Terlalu jauh mencari penggantinya yang bisa melayani jilid spiral.

Sampai suatu saat, saya terpengaruh oleh kiriman beberapa email, seperti “Kapan ada buku Persib lagi?” atau “Kalau ada penjualan buku Persib lagi dikabari ya?”.

Dalam perkembangannya, saya mencetak buku lagi. Masih print on demand. Namun, kali ini, tampilan kertasnya lebih tebal: lux. Seperti majalah tanpa gambar, tetapi kertasnya lebih tebal daripada kertas majalah. Tentu saja biaya produksinya jauh lebih mahal. Kalau berbicara tentang selfpublishing yang “penerbit”, keuntungan saya mungkin setaraf dengan “penulis”. Kalah jauh dari biaya produksi he he he. Namun, hal yang lebih penting, fokus saya adalah buku saya masih tetap terbit. Soal keuntungan, berapa pun itu, saya teringat pesan Pak Bagir Manan pada satu kesempatan yang mengatakan bahwa hasil karya apa pun patut dihargai.

Kali ini, ada tagline baru dalam promosinya: “Buku ini cocok bagi anda yang terinspirasi untuk menerbitkan buku sendiri”. Karenanya, konsekuensinya, di dalam buku saya ini masih bertuliskan “Disusun dan diterbitkan oleh Novan Herfiyana”. Mana ada jaman sekarang yang menampilkan tulisan seperti itu he he he. Ya, jadi, targetnya bukan hanya bobotoh.

bukupersib-novanherfiyana-3Ya, begitulah. Bukunya dijual satu-kesatuan (baca: trilogi). Harga jualnya? Rp 100 ribu. Wow! Anda bisa membayangkan harga sebesar itu dengan buku-buku lain yang beredar luas di masyarakat (baca: toko buku). Mengapa trilogi? Untuk subsidi. Maksudnya, harga buku ketiga yang hanya tiga halaman plus lampiran begitu mahal. Namun, buku ketiga itu diharapkan bisa diimbangi oleh buku pertama dan kedua. Tentu saja, dalam edisi cetak generasi terbaru ini ditambah bonus kisah “Insiden Mattoangin atau Tragedi Kuntadi” sebanyak tiga halaman.

Saya tidak peduli dengan harga jual seperti itu. Siapa yang minat, silakan beli. Tidak minat, ya jangan beli. Silakan berpikir ulang. Hal yang penting bagi saya ialah saya sudah mendeskripsikan tampilan buku saya. Itu yang membuat saya merasa tenang dalam proses jual-beli. Ada akad di situ. Deskripsi itu pun saya muat dalam blog www.persibkuring.wordpress.com yang kini juga sudah dihapus lagi. Faktanya, memang masih ada yang berminat. Bisa jadi, ada pembeli yang membeli buku saya itu bukan materi Persib-nya, tetapi dunia perbukuannya. Entahlah.

Oh ya, sebelumnya, tampilan terbaru buku saya ini sebetulnya akan menarik loh. “Tukang Cetak”-nya sudah berbaik hati dengan membuat desain cover bergambar. Namun, saya menolaknya. Begitu pun pinggir covernya (berwarna putih kertas) yang dianjurkan untuk digunting. Akan tetapi, saya membiarkannya. Alasannya, dengan adanya pinggir cover berwarna putih yang tidak digunting menandakan bahwa itu adalah produk “selfpublishing”. Itulah sikap keras kepala saya.

Kini, sudah lebih dari setahun yang lalu, saya tidak berjualan lagi. Percetakannya sudah pindah.

Keras Kepala dan Terbuka

“Cenderung konservatif, tetapi masih terbuka dengan pemikiran modern”. Ibaratnya, meskipun proses pendaftaran itu sudah bisa dilakukan secara online, saya masih suka melakukan cara-cara manual selama hal itu bisa dilakukan dan nggak ribet.

Cerita tadi adalah soal sikap keras kepala. Namun, saya tentu punya alasan. Ya, saya ingin membuktikan bahwa seseorang pun bisa menerbitkan buku.Tentu, selama saya bisa atau mampu. Alhamdulillah, saya sudah mewujudkannya. Itu menjadi salah satu pengalaman hidup saya.

Kelak, soal 16 halaman, 13 halaman, dan 3 halaman memang janggal. Saya tahu bahwa standar baku sebuah buku itu di atas 49 halaman. Itulah standar baku UNESCO yang saya tahu dari Bambang Trim, seorang praktisi perbukuan. Selain itu, katanya, ada standar-standar baku jumlah halaman lainnya.

Tanpa bermaksud “menentang” pendapat UNESCO atau Bambang Trim, saya membahagiakan diri saya saja bahwa standar itu tidak ada yang baku karena standar itu dibuat oleh manusia juga. Kalau seperti itu terus maka saya tidak akan pernah mengalami menerbitkan buku sendiri. Bagaimana pun, itu merupakan pengalaman seumur hidup. Akhirnya, saya sudah pernah mengalaminya. “Beruntunglah” saya ketika membaca majalah TEMPO edisi khusus Kebangkitan Nasional 1908-2008 (edisi 19-25 Mei 2008) bahwa Mohammad Hatta pernah menerbitkan buku Demokrasi Kita yang “hanya” memiliki 36 halaman. Tidak standar toh? he he he.

Lebih dari itu, meskipun sejak kecil saya memiliki imajinasi “selfpublishing” dan “indie label” karena tidak kepikiran hal yang sebenarnya tentang istilah-istilah itu, saya tak pernah menjauhi perkembangan umumnya. Sebutlah, saya masih bisa membuat buku yang berhalaman tebal (300 halaman misalnya). Saya pun tak pernah menjauhi indie label yang digagas pihak lain. Bahkan saya ingin mencoba semuanya. Alasannya, saya ingin mempelajari dan/atau mengalami semuanya. Sebab, dalam pikiran saya, tiada standar baku selama itu ciptaan manusia. Semua tampak berubah.

Sebagai kolektor (pengoleksi) media cetak, saya tentu mengalaminya. Misalnya, dulu, harian itu berformat koran, mingguan itu berformat tabloid, dan bulanan itu berformat majalah. Namun, kini, terutama sejak era reformasi, ada harian berbentuk tabloid. Koran Tempo namanya. Soal isi, kini harian pun bisa berisi buku (maksudnya yang tak pernah basi). Sebutlah beberapa koran harian edisi khusus.

Saya juga bersama rekan-rekan pernah mengelola media yang memiliki tebal 4 halaman saja. Media itu pernah dijadikan bahan ujian akhir mahasiswa fakultas ilmu komunikasi. “Dikritik”. Alhamdulillah, katanya, nilainya A. Syukurlah. Saya pun berterima kasih karena itulah tinjauan ilmiah. Namun, sebagai penelusur media, bukankah pada masa lalu koran Pikiran Rakyat pernah memiliki ketebalan 4 halaman? Jadi, saya tidak “salah”, bukan? he he he. (Ah, ketawa aja dari tadi).

Dalam perjalanannya, buku saya direncanakan berformat tabloid. Mirip tabloid edisi khusus. Namun demikian, hingga kini, belum terlaksana: apakah akan diserahkan kepada major/indie label, dibuat dalam format tabloid, atau dibiarkan seperti wujud aslinya yang “ditumpuk” di gudang.

Ya, begitulah….

=====*****=====

Inilah isi blog http://www.persibkuring.wordpress.com tentang promosi-penjualan buku Persib. Khusus gambar, yang diberi tanda {…} dihapus karena menyangkut teknis. [INI SEKADAR BERBAGI CERITA. BUKAN IKLAN JUALAN BUKU. TERIMA KASIH.]

{Gambar cover ketiga buku Persib}

Anda tertarik dengan buku-buku Persib? Inilah buku-buku Persib “Generasi Kedua” yang saya susun dan terbitkan sendiri. Perihal buku Persib yang saya susun ini merupakan buku-buku yang diterbitkan selfpublishing secara POD (Print on Demand).

[Buku ini sarat referensi dan layak untuk dikoleksi Bukan hanya bagi masyarakat pencinta Persib, buku ini pun cocok bagi siapa saja (masyarakat pencinta sepak bola Indonesia) yang ingin “mencontoh” penulisan buku-buku sejenis.]

Agar tidak mengecewakan konsumen atau pelanggan, saya akan memberikan ciri-ciri buku saya.

Buku “Persib ’86: Lahirnya Kembali Generasi Emas Persib”:

{Gambar tampilan isi buku “Persib ’86: Lahirnya Kembali Generasi Emas Persib}

Ukuran halaman: A4

Tebal halaman: 14 halaman isi (content) + hak cipta + kata pengantar (belum termasuk jilid)

Jenis huruf: Times New Roman

Ukuran huruf: 10

Spasi: Satu (Single)

Jenis kertas halaman: Art Paper (150)

Jenis kertas jilid: Art Paper (210)

Tampilan: Seperti majalah (tanpa gambar)

Buku “Persib 1990-an: Melestarikan Kejayaan Persib”:

{Gambar tampilan isi buku “Persib 1990-an: Melestarikan Kejayaan Persib}

Ukuran halaman: A4

Tebal halaman: 11 halaman isi (content) + hak cipta + kata pengantar (belum termasuk jilid)

Jenis huruf: Times New Roman

Ukuran huruf: 11

Spasi: Satu (Single)

Jenis kertas halaman: Art Paper (150)

Jenis kertas jilid: Art Paper (210)

Tampilan: Seperti majalah (tanpa gambar)

Buku “Persib: Juara Liga Indonesia Edisi Perdana”:

{Gambar tampilan isi buku “Persib: Juara Liga Indonesia Edisi Perdana}

Ukuran halaman: A4

Tebal halaman: Hak cipta + kata pengantar + Isi (hlm. 1-3), para pencetak gol Persib (hlm. 4), hasil lengkap Liga Indonesia 1994/1995 (hlm. 5-27), dan bonus “Insiden Mattoangin” (hlm. 28-29) sebagai cerita yang berbeda dari yang pernah ditulis (baca: bandingkan dengan buku “Lintasan Sejarah Persib” karya R. Risnandar Soendoro).

Jenis huruf: Times New Roman

Ukuran huruf: 11

Spasi: Satu (Single)

Jenis kertas halaman: Art Paper (150)

Jenis kertas jilid: Art Paper (210)

Tampilan: Seperti majalah (tanpa gambar)

Untuk memastikan, silakan melihat contoh pada gambar.

Harga:

Buku “Persib ’86: Lahirnya Kembali Generasi Emas Persib”: Rp 35.000,- (Tiga Puluh Lima Ribu Rupiah)

Buku “Persib 1990-an: Melestarikan Kejayaan Persib”: Rp 35.000,- (Tiga Puluh Lima Ribu Rupiah)

Buku “Persib: Juara Liga Indonesia Edisi Perdana”: Rp 30.000,- (Tiga Puluh Ribu Rupiah)

Catatan:

Harga buku-buku tersebut, belum termasuk biaya kirim. [Ketiga buku tersebut dijual dalam satu paket sekaligus karena merupakan “trilogi”)]

Sebagai gambaran biaya kirim, ini merupakan informasi yang saya peroleh dan alami ketika menggunakan jasa TikiJNE:

Kota Bandung: Rp 7.000,- (1 hari) atau Rp 4.000,- (2-3 hari)

Kota Cimahi: Rp 7.000,- (1 hari) atau Rp 4.000,- (2-3 hari)

Kabupaten Bandung: Rp 5.600,- atau Rp 4.000,- (hanya ada untuk 2-3 hari).

Kota Jakarta: Rp 12.000,- (1 hari) atau Rp 8.000,- (2-3 hari)

Untuk kabupaten/kota lain, silakan cek di TikiJNE atau bertanya ke novanmedia@yahoo.com.

Jika anda berminat, silakan transfer uang sebesar harga buku dan ditambah biaya kirim (silakan cek di TikiJNE) ke {Dihapus}

Setelah mentransfer uang, silakan konfirmasi ke email: novanmedia@yahoo.com. Buku pun akan segera dikirim.

Catatan: Jika kondisi buku rusak, silakan beri tahu saya untuk diganti. Terima kasih atas kepercayaan anda.

=====*****=====

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: