Memastikan Jalur Perjalanan Lembang-Ujungberung

Menuntaskan rasa penasaran. Itulah perasaan saya sebelum ini. Ya, saya merasa penasaran untuk mengetahui perjalanan dari Ujungberung menuju Lembang. Sebelumnya saya mengetahui bahwa jalur dari Lembang, maksudnya Jalan Maribaya menuju kawasan Bukittunggul, bisa tembus ke Ujungberung.

Saya sudah tahu kawasan Bukittunggul karena kawasan ini pernah menjadi tempat opspek bagi saya (meskipun tadi ketika melewatinya lagi tampak pangling). Jauh sebelumnya, saya sudah mencoba untuk mendekati kawasan Bukittunggul untuk menuju Ujungberung. Namun, terakhir kali, ketika mendekati pintu gerbang kawasan Bukittunggul, saya mengurungkan niat. Maklum, saya harus memasuki kawasan hutan dan belum mengetahui rute perjalanannya.

Sampai akhirnya, hari Kamis, 10 Juli 2014, siang tadi, saya mencoba alternatif lain, yaitu dari Ujungberung ke Lembang dan bukan dari Lembang ke Ujungberung. Tujuannya, agar saya bisa memastikan dimana pintu masuk di Lembang-nya. Dan ternyata, tepat dugaan saya.

Berangkat dari rumah dengan menaiki motor pada pukul 12.27 WIB, saya berjalan hingga Ujungberung pada pukul 13.12 WIB. Lama atau sebentar, itu relatif. Soalnya saya berkeliling dulu dan tentu saja mengisi bensin. Maklum, saya khawatir kalau-kalau kehabisan bensin dan di sepanjang perjalanan tidak ada SPBU. Namun, kalau cuma “SPBU”, ternyata masih ada, yaitu kios atau tukang bensin. Itupun terdapat di awal-awal pusat kota dan bukan di kawasan hutan. Mengapa saya bilang kawasan hutan? Ya, karena perjalanan kali ini saya akan melintasi kawasan hutan. Meskipun mencoba jalur, tentu saja saya sudah memiliki persiapan, antara lain melihat peta.

Memasuki kawasan Ujungberung, yaitu Cigending, saya melihat waktu. Saya pun memulai perjalanannya pada pukul 13.12 WIB. Di awal-awal, jalannya dalam keadaan bagus. Masih ramai dengan lalu lalang mobil dan motor, termasuk truk-truk. Begitupun dengan perumahan di sepanjang pinggir kiri-kanan jalan.

Lalu masuklah ke jalan yang relatif bagus, tetapi tampak rusak atau bolong-bolong. Di sepanjang jalan ini kadang muncul perumahan dan kadang hanya berupa lahan-lahan perkebunan. Beberapa waktu ke depan, saya sudah berada di kawasan perbukitan. Hamparan rumah-gedung kota cukup bagus terlihat dari kejauhan.

Setelah itu, saya memasuki kawasan hutan. Jalan-jalan yang berkelok-kelok dengan pinggir kiri atau kanan merupakan jurang. Di sini, ketika saya melintasinya, keadaan lalu lintas cukup jarang. Kadang muncul 1-2 motor dari petani. Maklum, petani era sekarang sudah gaya: pakai motor. Kadang ada pejalan kaki atau bahkan pengendara motor seperti saya (maksudnya bukan petani). Kadang juga terdapat perumahan meskipun agak jarang. Sepi. Bisa lama atau sebentar tergantung pada lalu lintas orang dan kendaraan.

Perjalanan selanjutnya, yaitu memasuki kawasan hutan. Jalannya berupa tanah kerikil. Di sini kadang ada pengendara motor yang lewat. Masih ada perumahan meskipun sesekali. Beruntung, tadi ada TNI yang sedang latihan sehingga ada yang menemani saya he he.

Beradaptasi dengan keadaan jalan yang berubah, sejak dari Cigending, saya mengendarai motor dengan kecepatan 20-40 kilometer per jam. Sebelum berakhir, di tengah kawasan hutan terdapat papan bertuliskan tiga jalur: Ujungberung/Wisata Kebun Kina/Lembang. Kalau tulisan Wisata Kebun Kina sih sebelumnya sudah beberapa kali terpampang di tebing pinggir jalan. [Soal percabangan jalan, sebetulnya sering saya jumpai ketika masih berada di kawasan Ujungberung. Namun, saya tetap melintasi jalur utama saja.]

Sampai akhirnya, saya tiba di pintu gerbang kawasan Bukittunggul seperti dugaan saya. Saat itu, waktu menunjukkan pukul 13.56 WIB. Setelah itu, saya pun melintasi Jalan Maribaya sebagaimana biasa ketika saya melakukan perjalanan Bandung-Maribaya/Lembang pergi pulang, termasuk Terminal (pangkalan) angkot Lembang-Maribaya.

Rasa penasaran melintasi jalur Lembang-Ujungberung pun tuntas. Jalur yang saya kuasai pun sudah pasti ujung-pangkalnya. Satu hal yang perlu kita pikirkan ialah ketika mencoba pakai mobil. Keberadaan jalan yang sempit tentunya akan menyulitkan arus mobil dari dua arah meskipun hal itu masih bisa diupayakan. Jalannya sempit he he.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: