Pengalaman Pertama Donor Darah pada Bulan Ramadhan

Hari ini, saya memperoleh pengalaman baru. Ya, Selasa, 1 Juli 2014, siang tadi, saya melakukan donor darah. Loh, kok donor darah dianggap sebagai pengalaman baru? Donor darahnya sih biasa, tetapi kalau dilakukan pada bulan Ramadhan ini merupakan hal baru bagi saya. Sebelumnya, selama ini, saya melakukannya di hari-hari di luar Ramadhan.

Sebetulnya, sehari menjelang Ramadhan 1435 H., saya sudah bersiap diri melakukan donor darah. Sayang, karena ada sesuatu, setelah memasuki halaman PMI Cabang Bandung di Jalan Aceh No. 79 Bandung, saudara saya malah mengajak balik he he. Terpaksa deh saya balik lagi.

Terlepas dari itu, paling tidak sampai saat ini, PMI merupakan salah satu dari tiga tempat yang paling saya senangi. Dua tempat lainnya, yaitu Perbankan dan Kantor Pajak. Mengapa? Karena di tiga tempat ini, petugasnya ramah-ramah. Saya pun merasa nyaman. Sementara di instansi/kantor pelayanan publik lainnya, petugasnya mungkin sudah bermaksud ramah. Namun, terkesan masih ada bedanya dibandingkan tiga tempat yang saya sebutkan. Sambutan dan senyumannya itu loh. Entahlah.

Bagaimana Cara Saya Melakukan Donor Darah?

Berangkat dari rumah naik motor pada pukul dua belas lebih. Empat puluh lima menit kemudian, saya sudah memasuki pintu gerbang dan halaman parkir PMI. Diparkir deh motornya. OK, cerita tadi tampaknya tak perlu ya he he?!

Memasuki ruangan depan, sudah ada petugas yang menyambut. Saya pun disuruh mengisi formulir yang sudah disediakan. Mirip-mirip di perbankan ketika kita hendak menabung atau menarik uang dan sebagainya. Isiannya tentang identitas pendonor, termasuk berat badan, dan riwayat penyakit.

Formulir yang sudah diisi itu kemudian diserahkan kepada petugas dan disertai kartu donor. [Kartu donor sebagai kartu identitas pendonor ini diberikan kepada kita ketika mendaftar dan melakukan donor darah untuk pertama kalinya.] Oh ya, untuk menimbang badan, di tempat ini tersedia timbangan badan. Bukan apa-apa, salah satu syarat pendonor darah, yaitu berat badan minimal 45 kilogram.

Setelah di ruang pendaftaran, saya disuruh ke ruang tunggu dan/atau ruang pemeriksaan yang jaraknya lebih kurang lima meter. Tidak lama kemudian, tibalah ibu dokter memanggil saya. Maklum, tadi tidak ada yang antre. Hanya saya saja. Sebelum dan sesudahnya tentu ada. Diperiksa dokter, umumnya tensi saja yang saya ketahui. “120/80. Sehat,” ujar bu dokter. Ya, pemeriksaan kesehatan ini merupakan hal favorit bagi saya. Minimal bisa empat kali dalam setahun.

Setelah keluar dari ruang pemeriksaan, saya memasuki ruangan. Lupa istilahnya. Pokoknya, darah saya diperiksa. [Pada masa lalu, pemeriksaan darah ini dilakukan di tempat paling awal sebelum ruang pemeriksaan dokter.] Setelah itu, juga tak lama kemudian, saya disuruh masuk ruang “pengambilan darah”. Tepat di sebelah ruangan ini yang kira-kira berjarak 3-5 meter.

Tampak ada seorang pendonor yang sedang diambil darahnya di salah satu tempat (kursi-tidur). Sementara saya berada di tempat (kursi-tidur) lain. Tak lama kemudian, setelah saya mendonorkan darahnya, ada dua orang pendonor lainnya.

Selesai diambil darah, saya pun memasuki ruangan lain. Jaraknya lebih kurang 10-15 meter. Di tempat ini, seperti biasa, saya memperoleh multivitamin & mineral, biskuit, dan minuman isotonik, termasuk kartu donor milik saya. Jika tak puasa, sebelum pulang, biasanya banyak pendonor yang menyantap kue-kue dan minuman yang tersedia di meja. Tadi pun masih tersedia. Mungkin bagi yang tak puasa, termasuk bagi penganut agama lain.

Setelah itu? Ya, pulang!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: