Membuat SIM C Baru di Polrestabes Bandung (2): Pengalaman Mengasyikkan, Lulus dengan Catatan

Apakah anda masih ingat dengan cerita saya ketika mengikuti ujian SIM C baru minggu lalu? Mungkin berbeda dengan pengalaman hidup anda, rasa-rasanya saya masih bermimpi untuk mendapatkan SIM C. Bagaimana tidak, dari rasa trauma mengendarai motor, kini saya sudah memiliki SIM C. Bahkan dalam jangka waktu yang relatif singkat.

Sebagaimana dijadwalkan sebelumnya, saya harus mendatangi kembali Polrestabes Bandung pada Sabtu, 7 Juni 2014. Tujuannya, untuk mengulang ujian simulator. Inilah ujian simulator yang kedua kali bagi saya.

Seperti biasa, saya pergi ke Polrestabes Bandung naik angkot: angkot Sarijadi-Stasiun Hall (Rp 3.000,-) dan dilanjutkan angkot Stasiun Hall-Gunungbatu (Rp 2.000,-). Turun di Balaikota Bandung dan berjalan kaki 100-200 meter menuju Polrestabes Bandung yang berada di Jalan Jawa No. 1 Kota Bandung.

Sebelum dan selama perjalanan, saya sudah merasa nothing to lose dan the show must go on untuk mengikuti ujian simulator dan/atau ujian praktik motor. (Silakan deh artikan sendiri bahasa asing tadi he he). Rasa tegang ketika mengikuti ujian teori tampaknya sudah terlewati. Bagi saya, gagal di ujian simulator dan/atau di ujian praktik motor, tinggal mengulang saja. Mungkin “kerugian” saya kalau bolak-balik “hanya” waktu, tenaga, dan biaya. Soal biaya? Ya, ongkos angkot-lah. Sebesar Rp 10 ribu untuk pergi-pulang. Alhamdulillah, sangat-sangat terjangkau.

Anehnya, setelah turun dari angkot, dalam perjalanan kaki menuju Polrestabes Bandung, saya merasa deg-deg-an juga. “Wah, saya mau ujian simulator lagi nih,” ujar saya dalam hati. Sesampainya di pintu gerbang Polrestabes Bandung, saya langsung masuk. Kalau pada Sabtu, 31 Mei 2014 lalu kan bertanya-tanya dahulu kepada ibu polisi yang menjaga “buku tamu” sehingga nama saya pun ditulisnya saat itu. Ternyata tidak ada prosedur tetap ya?

Setelah masuk, saya melihat salah seorang peserta yang sedang ujian praktik mobil. Sebagaimana diketahui dalam cerita minggu lalu, masuk di sini bukanlah masuk ke dalam ruangan kantor, tetapi ke halaman (lapangan) yang dipakai untuk ujian praktik mobil/motor. Di sini saya berdiri selama 5-10 menit. Setelah itu, saya me-rileks-kan diri guna mengikuti ujian simulator dan berjalan menuju ruang ujian simulator.

Pukul 08.55 WIB (karena dijadwalkan pukul 09.00 WIB), saya mendekati ruangan ujian simulator. Sebelumnya, saya melewati orang-orang yang sedang mendaftar dan/atau menunggu ujian teori. Wah, ternyata masih banyak juga. “Pak, mau mengulang ujian simulator,” ujar saya. “Ya, tunggu sebentar,” jawab petugas di sana.

Setelah menyerahkan selembar kertas (baca: catatan laporan “lulus” atau “tidak lulus”) yang dibawa pulang minggu lalu, petugas itu pun mulai memeriksa berkas-berkas lainnya. Rasa deg-deg-an saya agak menghilang. Ya, sudah-lah. Nothing to lose saja. Anda tentu mengetahui alasannya karena saya sudah menceritakannya minggu lalu.

Ya, saya lebih baik mengendarai motor di dunia nyata. Kalau belok, ya belok. Sementara kalau pakai simulator, belok tetap belok, tetapi beloknya seperti 2-3 kali lipat belokan. Sensitif. Tentu saja menabrak pinggir jalan. Berkurang deh nilainya. Saya pun sempat curhat kepada salah seorang petugas dan ternyata petugas itu pun mengakuinya dengan senyuman.

Karena lebih berkonsentrasi pada setang motor ketika berbelok, saya jadi lebih berhati-hati. Sayangnya, konsentrasi saya pada marka dan lampu sein sedikit buyar. Ingat loh, kesalahan tidak menyalakan lampu sein saja bisa mengurangi nilai. Apalagi dalam simulator itu, pergantian lampu hijau dan lampu merahnya terlalu cepat. Ketika lampu tiba-tiba menyala merah, peserta harus siap-siap mengerem laju motornya. Kalau sampai mati mesin, wah nilai pun berkurang. Saya sempat menyalakan mesin sebanyak tiga kali. Aduh, motornya pakai kopling tangan euy.

Oh ya, sebelumnya saya sempat menginjak atau memindahkan gigi bawah. Wah, petugasnya agak marah he he. Entahlah, mungkin perasaan saya saja. Saya kan tidak tahu. Mengapa saya menginjak atau memindahkan gigi? Karena ketika ujian simulator minggu lalu, motornya susah berjalan setelah digas. “Oh, mungkin giginya harus dipindahkan dulu,” pikir saya minggu lalu. Ternyata, tidak perlu.

Ujian simulator (kesempatan pertama) ini pun gagal. Layar komputer yang tadinya manampilkan “perjalanan motor” tiba-tiba ditutup oleh data peserta (saya). Saya sempat bertanya dalam hati, “Kok minggu lalu tidak seperti itu”.

Ya, minggu lalu, dalam ujian simulator (kesempatan pertama dan kedua), layar komputernya tidak “mati”. Malah dimatikan oleh petugasnya. “Sudah Pak, nilainya sudah melewati angka 55,” ujar salah seorang petugas ketika itu. OK-lah, saya memang tak bisa “mengendarainya”. Namun, yang aneh, justru ketika ujian simulator (kesempatan kedua). Karena gagal di kesempatan pertama, tentu saya jadi lebih berhati-hati pada kesempatan kedua. Saya melihat nilai saya masih 70. “Sudah Pak, mengulang lagi minggu depan ya?” kata salah seorang petugas. Entahlah, mungkin saya salah melihat. Saya memang gaptek. Apalagi “motor” saya sempat menabrak trotoar dan masuk “kebun” cukup lama he he. Setangnya benar-benar sensitif. Itu kesimpulan cerita minggu lalu.

Nah, dalam ujian simulator kali ini, saya gagal di kesempatan pertama. Layar komputer pun “mati” seperti yang saya ceritakan tadi. Lalu, petugas pun memberikan kesempatan kedua. Nothing to lose. Alhamdulillah, kejutan, saya lulus! Tentu dengan catatan.

Bagaimana ceritanya? Ya, saya “mengendarai” motor seperti biasanya. Konsentrasi tinggi he he. Ketika beberapa meter menjelang tempat parkir (sebagai tanda selesai), ada portal yang menutup jalan. Pada kesempatan pertama, saya menerobosnya. Tentu mengurangi nilai karena menabrak portal. Nah, pada kesempatan kedua, ketika saya mau menerobos portal lagi, petugasnya membelokkan setang motor saya. “Mau kemana. Belok. Masa perboden dilewat,” ujar salah seorang petugas sambil membelokkan motor saya dengan sigap. (Saya “terpaksa” berjalan lurus dan menerobos portal karena bingung tidak ada petunjuk belok atau lurus di layar komputer. Kalau di jalan-jalan yang lain diberikan petunjuknya :)]

Aneh, nggak nabrak pinggir jalan he he. Wah, jago dia. Saya salut karena petugas itu jarang memperhatikan layar komputer, tetapi justru sibuk dengan berkas-berkas yang digenggamnya. Mungkin karena sudah terbiasa di tempat itu. (Seperti tadi, saya menginjak gigi, dia kok bisa tahu?!) Akhirnya, beberapa meter setelah belok itulah, perjalanan motor saya tiba di tempat parkir. Lulus dengan nilai 80. (Cepat juga. Sampai-sampai saya sempat penasaran dan melihat jam menunjukkan pukul 09.03 WIB). Lega rasanya bisa melewati ujian “dunia maya”. Mending dunia nyata he he. Tapi, kalau dipikir-pikir, penting juga. Untuk latihan konsentrasi.

Setelah itu, petugas memberikan berkas-berkas saya dan disuruh menyerahkannya kepada petugas ujian praktik motor sambil menunggu peserta yang lain. Tampak serombongan peserta ujian praktik motor.

Di lapangan ujian praktik motor, semua peserta memakai rompi berwarna hijau kekuningan yang menyala. Petugas pun menyampaikan wejangannya. Katanya, ada dua ujian praktik motor, yaitu ujian praktik motor I di lapangan dan ujian praktik motor II di jalan raya. Itu diatur dalam peraturan perundang-undangan. Namun, untuk saat ini, di Polrestabes Bandung baru ada ujian praktik motor I di lapangan. (Ya, luas lapangannya memang terbatas). Itu pun hanya ada tiga (jalan lurus, angka 8, dan zig-zag) dari lima (jalan lurus, angka 8, zig-zag, rem reaktif, dan u-turn).

Saya memperhatikan, tampak ada 1-2 peserta yang segera membawa motor miliknya terlebih dahulu di tempat parkir. Mungkin kalau pakai motor sendiri dirasa enak karena sudah terbiasa meskipun akhirnya saya lihat ada juga yang tidak lulus. Lalu, bergiliranlah satu per satu. Diberi kesempatan dua kali. Meskipun saya sudah bisa pakai motor gigi, saya ingin memakai motor matik. Bukan apa-apa, motor gigi saja baru bisa, apalagi ini ujian. Karenanya, saya menegaskan pakai motor matik saja.

“Pak, bisa pakai matik?” ujar saya. “Boleh. Matiknya dibawa?” jawabnya. “Oh, nggak dibawa, Pak,” ujar saya lagi. “Kalau begitu, itu pakai matik saya,” ujarnya. Saya pun pakai motor Yamaha Mio. Saya memulai ujian praktik motor. Jalan lurus? OK! Angka 8? Menabrak patok beberapa kali! Zig-zag? OK! Rata-rata, hampir semua peserta seperti itu.

Saya pun melakukan kesempatan kedua. Hasilnya, sama. Mandeg di angka 8. Namun, rasanya masih bisa dikatakan bagus karena rekan-rekan yang lain justru gagalnya bukan hanya di angka 8. Namun, ada juga peserta yang berhasil dengan catatan: kakinya turun ketika melalui ujian angka 8. Biasanya kalau berupaya tidak turun, malah menabrak patok. “Ya, sudah, mengulang seminggu lagi ya? Tanggal 14 Juni 2014,” ujar petugas.

“Kok, beda sama Honda Beat ya Pak?,” konfirmasi saya. “Iya, kalau Mio memang begitu,” ujarnya. (Berarti sehati ya?). Setelah itu, kertas atau catatan laporan “lulus” atau “tidak lulus” diberikan kembali kepada saya untuk dibawa minggu depan. Seperti kebiasaan saya, saya mengobrol dengan beberapa rekan yang lain, terutama dengan peserta yang memakai Yamaha Mio juga. “Tadi gimana pakai Mio?” ujar saya. “Heu euh, seperti yang aneh,” jawabnya. (Kalau begitu sehati lagi ya he he he).

[Catatan: Perbedaan antara Honda Beat dan Yamaha Mio jangan dijadikan patokan. Mungkin saja apa yang dihadapi saya saat itu berbeda dengan pengalaman atau kemampuan anda. Saya bercerita tentang pengalaman orang lain (sesama peserta ujian saat itu) agar saya bersikap fair.]

Peserta yang lulus, pergi ke loket asuransi. Peserta yang belum lulus, pulang! Mengulang seminggu lagi.

Hampir 30 menit, saya tidak pulang. Saya ingin melihat peserta gelombang berikutnya yang ujian praktik motor. Seperti tadi, mereka diberikan wejangan. Pada saat itulah saya didekati oleh salah seorang petugas. “Sudah ujian?” tanyanya. “Sudah, Pak. Diulang minggu depan,” jawab saya. Dari situ dimulailah obrolan.

“Mau saya beri kesempatan sekali lagi?” tanyanya. “Nanti saja, saya mau pakai Beat. Bawa dari rumah,” jawab saya. “Pakai yang itu saja,” ujarnya lagi. Saya pun mempertimbangkannya karena petugas itu pun sedang sibuk mengurus berkas-berkas yang lain.

Dalam 5-10 menit kemudian, “Coba lihat KTP-nya”. Saya pun menyerahkan. Eng ing eng, saya mencoba lagi euy. Masih ada sedikit kesalahan di angka 8. (Kalau jalan lurus dan zigzag, selalu OK). Lulus! Benar-benar rejeki bagi saya. Saya pun diberikan berkas-berkasnya untuk dibawa ke loket asuransi sebesar Rp 30 ribu. Setelah membayar asuransi, berkasnya diberikan lagi kepada petugas ujian praktik motor dan disuruh mendatangi loket 6 (untuk difoto, sidik jari, dan tanda tangan) dan loket 7 (untuk pengambilan SIM).

Di loket 6 dan loket 7 yang saling berdekatan atau bersebelahan, saya menunggu giliran untuk dipanggil. Lumayan banyak juga. Hampir satu jam, saya pun baru dipanggil. Masuk ke loket 6 untuk difoto, tanda tangan, dan sidik jari. Setelah selesai, keluar dari loket 6 dan tinggal menunggu di loket 7. Akhirnya, SIM C pun sudah saya dapatkan.

Menjelang pukul dua belas siang, saya sudah pulang. Berjalan menuju Balaikota Bandung dan di sini naik angkot Abdul Muis-Ledeng. Turun di Karangsetra dengan ongkos Rp 3.000,-. Selanjutnya naik angkot Ciroyom-Sarijadi dengan ongkos Rp 2.500,-.

Ya, rejeki. Namun, rasa-rasanya saya masih bermimpi untuk mendapatkan SIM C. Lebih dari itu, ada amanat untuk mematuhi etika dan peraturan lalu lintas. Salam….

Baca juga:

Membuat SIM C Baru di Polrestabes Bandung (1): Ujian Teori Lulus, Ujian Simulator Tidak Lulus

Catatan Terbaru:

Soal Ujian Teori SIM C

Rahasia di Balik Pembuatan SIM C Baru. Dibawa piknik saja 🙂

Iklan

10 Comments »

  1. 1
    inafiah Says:

    Kalo mengulang gitu bayar lg 100rb ga ya? Kan yg pertama sudah bayar pas registrasi

  2. 3
    himan Says:

    mas kalo sabtu mulai pendaftaran dari jam berapa yah ??
    Hatur nuhun

    • 4
      novanherfiyana Says:

      Lupa. Antara pukul 07.00 dan 08.00. Saya sendiri tiba menjelang pukul 09.00. Diharapkan mendaftar sampai pukul 11.00 (ditutup). Karena saat itu, peserta ujian SIM membeludak 🙂

  3. kereeeen
    baru kena tilang di kircon
    dan besok mau bikin sim , tapi parno rasanya baca blog nya , abis saya panikan orangnya , mudah2an besok ga sulit

    • 6
      novanherfiyana Says:

      Kalau dibaca ya parno 🙂 Ini kan bacaan. Kalau komentar orang di radio, itu kan siaran (pendengaran) he he. Kalau sudah dicoba, lambat laun akan terasa berkurang ke-parno-annya. Cepat atau lambat, peserta uji akan memperoleh SIM. Daripada terlambat membuat SIM karena berpikir dengan alasan ke-parno-an, dalam setahun sudah 26-52 kali ujian ulang 🙂 Semoga lulus.

  4. 7
    nael Says:

    sama kayak pengalaman saya,saya harus ngulang tgl 30 nanti,yg tes simulator emang bikin gedeg tapi saya lulus di praktek pertama haha…saya cuma gagal di praktek zigzag.ada trik khusus nya ga om

    • 8
      novanherfiyana Says:

      Saya tidak punya trik untuk ujian praktik motor. Dijalanin saja. Apalagi saat itu saya nothing to lose saja 🙂 Saat itu, ketika saya membaca pengalaman orang lain tentang zig zag misalnya, jarak antarpatok terkesan sempit. Faktanya, bagi saya lumayan lebar. Jadi, saya bisa melewati zig zag dengan baik. Oh ya, bahkan ketika saya menonton ujian praktik orang lain (saat itu, saya sudah dinyatakan lulus), saya melihat satu peserta yang melewati jalan lurus saja sudah membuat kesalahan. Nabrak patok kedua. Baru dua patok loh. Bayangkan, itu jalan lurus dan bukan zig zag. Patok kedua lagi. Saat itu, saya tersenyum, ternyata ada orang lain yang seperti itu. Mungkin gugup ya? Atau? Ah, saya tidak tahu. Sampai-sampai petugasnya bilang (lebih kurang): “Hati-hati, itu (nabrak) orang!” (Mungkin maksud petugas, meskipun menabrak patok, itu dianggapnya sebagai orang). Terus, perihal angka 8, tampaknya hampir semua peserta, kakinya turun ke bawah, termasuk menabrak patok. (Mungkin tulisan “hampir semua” perlu dipertanyakan karena saya tentu tidak sering menyaksikan. Paling tidak, itu yang saya saksikan ketika di Polrestabes Bandung). Toh bagaimana pun, cepat atau lambat, mereka akhirnya punya SIM, seperti saya. Terlepas dari itu, ketika saya berada di loket 6 dan 7, saya melihat melalui jendela, ada seorang peserta (perempuan) yang berhasil melewati angka 8 secara sempurna. Mantap, bukan? Jadi, setiap orang punya “ilmu”-nya masing-masing. OK, terima kasih sudah berbagi. Semoga segera mendapatkan SIM-nya.

  5. 9
    Markus Liem Says:

    Kalau saya sampai dua kali masih dinyatakan gagal dan diminta datang lagi minggu depan untuk yang ketiga kali. Lebih menyakitkan lagi, karena sebelum tes ditawari apa mau bayar ekstra saja dan tidak perlu melakukan tes.

    • 10
      novanherfiyana Says:

      Saya juga pernah ditawari pascakegagalan ujian. Tapi, tanggung. [Terkesan ambigu ya dengan keputusan saya 🙂 ] Namun, tidaklah, karena sejak awal saya mau mencoba sehingga mengetahui ilmunya dari pengalaman langsung.

      Selama kita menganggapnya sebagai rekreasi, ya nikmati saja. Ikuti terus prosedurnya. Itu juga selama tidak mengganggu kesibukan anda. Bekerja misalnya. Namun, itu pun bisa dilakukan Sabtu, bukan? Tinggal bilang saja dan melakukan kesepakatan jadwal.

      Toh punya SIM atau tidak, soal ditilang itu, bagi saya, soal apes saja. Saya pernah beberapa kali dirazia, rileks saja. Soalnya sudah ada SIM he he he. Selain itu, saya masih senang bercerita tentang ikut ujian SIM secara normal. Ada rasa bangga meskipun tidak lebay.


RSS Feed for this entry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: