Membuat SIM C Baru di Polrestabes Bandung (1): Ujian Teori Lulus, Ujian Simulator Tidak Lulus

Bagi saya, jangankan memiliki SIM (Surat Izin Mengemudi), untuk mengikuti ujian SIM saja sudah dirasa “luar biasa”.

Ya, anda boleh-boleh saja merasa aneh membaca pernyataan saya tersebut. Rasa-rasanya (mungkin) “sepele” bagi anda. Namun, tidak, bagi saya. Saya kira, saya sudah menceritakan alasannya dalam bagian tulisan berjudul: “Membuat Surat Keterangan Dokter di Puskesmas Sarijadi”.

Bagaimana Cara Saya Mengendarai Motor?

Sebelum menceritakan bagaimana pengalaman saya ketika membuat SIM C, saya akan menceritakan terlebih dahulu bagaimana cara saya mengendarai motor, baik berdasarkan “otodidak” maupun peraturan perundang-undangan lalu lintas.

Pertama, Sebagai pejalan kaki dan penumpang angkot, ketika mengendarai motor, saya lebih berempati kepada mereka. Artinya, ketika melihat orang di pinggir jalan dari kejauhan, apalagi kalau terlihat hendak menyeberang, terlebih di zebra cross, saya mulai memperlambat laju motor. Tentu dengan mencermati keadaan belakang, samping kiri, dan samping kanan. Ya, betapa sulitnya kita (saya) ketika hendak menyeberang jalan.

Kedua, Saya berupaya mengendarai motor di jalur dan di lajurnya. Artinya, di jalur kiri dan di lajur kiri. Jika akan mendahului kendaraan yang berada di depannya maka saya mencermati keadaan (depan, belakang, samping kiri, dan samping kanan), menyalakan lampu sein (kanan), dan mulailah mendahului di sebelah kanan. Kalau pengendara lain yang berada di depannya sudah menyalakan lampu sein (kanan) juga, saya mengalah. Lebih dari itu, saya “tidak percaya” ketika pengendara mobil/motor –umumnya motor– menyalakan lampu sein (kiri/kanan) akan berbelok ke arah kiri atau kanan. Soalnya, dalam praktik, kadang mereka salah. Mungkin lupa. Misalnya, ketika lampu sein menyala di kanan yang berarti hendak berpindah/berbelok ke kanan, nyatanya pengendara itu berpindah/berbelok ke kiri. Begitu pun sebaliknya. [Kecuali berbelok, mungkin saya pernah lupa tidak menyalakan lampu sein kiri/kanan ketika hendak berpindah lajur.] Dalam keadaan tertentu, misalnya lalu lintas sedang macet, saya mendahului kendaraan lain di sebelah kiri. Tentu saja dengan mencermati keadaan. Diupayakan tidak sering zigzag he he. Di lajurnya saja.

Ketiga, Saya mencermati rambu-rambu lalu lintas. Ini pelajaran yang saya suka sejak kecil.

Keempat, Saya mencermati marka jalan, misalnya garis utuh dan garis putus-putus. Jika ada garis putus-putus maka pengendara boleh melewatinya, sedangkan jika ada garis utuh maka pengendara tidak boleh melewatinya. Mengapa? Karena berbahaya. Perhatikanlah garis utuh itu biasanya berada di tikungan. Perhatikanlah hampir di setiap tikungan di Jalan Setiabudhi-Lembang. Umumnya bergaris utuh. Meskipun jalur kanan tampak kosong, saya jarang melewati garis utuh tersebut. Mengapa jarang (seharusnya kan tidak boleh)? Kebiasaan buruk he he. Namun, bisa dihitung dengan jari sampai akhirnya sadar lagi. Karena berbahaya. Ya, begitulah. Meskipun pengendara mobil/motor yang berada di arah berlawanan tersebut hampir pasti mewaspadainya. Namun, bagaimana pun, kita pun patut menghargai lalu lintas sebagai milik bersama.

Kelima, Ketika mendekati zebra cross, saya memperlambat laju motor. Ketika mendekati lampu lalu lintas (merah), motor saya selalu di belakang garis. [Saya masih heran dengan pengendara lain. Kok melebihi zebra cross. Seperti bersiap-siap balapan. Saya sering berpikir mengapa mereka melakukan itu. Kalaupun cepat, waktunya kan tidak seberapa. Kalau ada bonus waktu selama 30 menit atau bahkan satu jam, nah baru saya berperilaku seperti itu he he. Kalau bedanya 1-5 menit, ah ngapain.]

Keenam, DAN LAIN-LAIN.

Bagaimana Cara Saya Mengikuti Ujian SIM C?

Tampaknya sudah menjadi pendapat umum bahwa membuat SIM itu sulit. Dampaknya, mereka melakukannya melalui jalan pintas. “Ah orang lain juga begitu,” katanya. Meskipun Polri sudah memperketatnya, hal itu masih saja terjadi.

Kejadian itu pula yang saya alami. Saat itu, awal tahun 2014, saya dan saudara saya sempat ditawari untuk membuat SIM melalui jalan pintas. Orang itu pun meminta berkas-berkasnya, seperti kartu identitas pribadi (KTP). Biayanya Rp 350 ribu s.d. Rp 400 ribu. SIM saudara saya pun jadi. Mantap! Tentu saja saudara saya tetap mengikuti ujian teori, ujian simulator, dan ujian praktik motor, tetapi secara formalitas.

Lalu, saya bagaimana? Saya tidak mau. Ada rasa tidak puas kalau saya membuat SIM dengan cara seperti itu. Bukan sok idealis, tetapi saya ingin mencoba. [Wah, kalau bicara idealis, malu rasanya untuk jaman sekarang ini.]

Begitulah saya ketika hendak berurusan dengan pelayanan publik. Soalnya, kalau “bergaya” seperti itu terus, saya bisa melakukan apa pun secara instan pula pada aspek-aspek lainnya. Kebiasaan karena terbiasa. Akhirnya, asumsi-asumsilah yang ditumpuk. Ceuk cenah. Pacenah-cenah tea he he he.

“Hukum selalu berguna bagi orang yang berpunya dan menyusahkan bagi mereka yang tidak punya apa-apa.” Demikian Jean-Jacques Rousseau (1712-1778), filsuf Swiss. Saya suka sekali pada kalimat tersebut. Entahlah apa yang dimaksud oleh Jean-Jacques Rousseau. Namun, bagi saya, “berpunya apa-apa” dimaknai sebagai “ilmu”. Ilmu itu pula yang saya pelajari dari pengalaman orang lain, hukum (peraturan perundang-undangan), dan lain-lain.

Saya sadar. Berdasarkan pengalaman orang lain yang mengikuti ujian SIM, ada yang bilang gagal karena sulit. Bahkan ada yang gagal mengendalikan motor padahal yang bersangkutan bisa dikatakan “pembalap liar”. Akan tetapi, ada juga yang langsung sukses. Ya, namanya juga ujian. Selalu ada kemungkinan bagi setiap orang: sukses atau gagal, lama atau sebentar. Kalau sukses, ya senang. Sebaliknya, kalau gagal? Ya, tinggal mengulang lagi. Nggak ada waktu libur? Ya, Sabtu. Sabtu-nya nggak libur? Ya, terserah anda. Capek bolak balik? Sekali lagi, ter-se-rah! Ada banyak alasan untuk itu.

Nah, karenanya, saya mulai membuat SIM C dengan mempelajari ilmunya terlebih dahulu. Untuk itu, saya mencoba mencari tahu pengalaman orang lain, termasuk peraturan perundang-undangan lalu lintasnya. Namanya juga studi banding. Dari situ diketahui persyaratannya dan tentu saja biayanya. [Sebetulnya tanpa mempelajari ilmunya terlebih dahulu juga bisa. Namun, hakikatnya tetap mempelajari. Anda yang membaca cerita saya ini saja merupakan pembelajaran bagi anda. Nah, yang dimaksud “tanpa mempelajari” itu ialah tanpa belajar peraturan perundang-undangan lalu lintas. Jadi, anda tinggal datang, tinggal ujian. Kalau langsung sukses, ya senang. Kalau gagal? Ya, tinggal mengulang. Asal kuat mental. Lalu, materi yang diujikan itu diingat-ingat dan dipelajari kembali. Ketika mengikuti ujian lagi, saya kira anda bisa lulus.]

Jadi, ini peraturan perundang-undangan lalu lintas yang saya pelajari: UU No. 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, PP No. 43 tahun 1993 tentang Prasarana dan Lalu Lintas Jalan, PP No. 50 tahun 2010 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku pada Kepolisian Negara Republik Indonesia, dan Perkapolri No. 9 tahun 2012 tentang Surat Izin Mengemudi. Itu intinya. Kalau mau mempelajari peraturan perundang-undangan (lalu lintas) yang lain sih masih banyak. Namun, menurut hemat saya, beberapa peraturan pelaksanaannya sudah dirangkum dalam UU No. 22 tahun 2009. Jadi, sebetulnya, cukup mempelajari UU No. 22 tahun 2009 saja, kecuali soal biaya yang diatur dalam PP (kini PP yang berlaku, yaitu PP No. 50 tahun 2010) dan rambu-rambu lalu lintas/marka jalan yang terdapat dalam PP No. 43 tahun 1993.

Hal-hal yang harus diperhatikan:

Membawa KTP asli dan selembar fotokopinya. [Bagi orang yang baru menginjak usia 17 tahun (itu syarat usia minimal dalam pengajuan SIM) harus dilengkapi dengan Kartu Keluarga. Tanpa itu, yang saya amati di loket pendaftaran, tampaknya tidak bisa. Saya mengamati, hal ini cukup tegas. Sepertinya diperketat.]

Membawa Surat Keterangan Dokter. [Bisa diperoleh dimana saja. Tentu dari dokter. Juga, tentu ada biayanya. Pengalaman saya Rp 10 ribu karena diperiksa di Puskesmas, sedangkan pengalaman orang lain Rp 40 ribu karena di dokter lain. Saya kira, di setiap tempat berbeda-beda karena dokter itu melayani jasa, seperti notaris atau advokat.]

Biaya pembuatan SIM C baru Rp 100 ribu. [Biaya sebesar itu mulai berlaku sejak 30 hari setelah PP No. 50 tahun 2010 diundangkan pada 25 Mei 2010.]

Asuransi Rp 30 ribu.

Selain mempelajari tata cara berlalu lintas (seperti melalui UU No. 22 tahun 2009), kita pun mesti mengetahui tahap-tahap Ujian SIM: ujian teori, ujian simulator, dan ujian praktik motor. Ketika kita sudah mengetahui tahap-tahapnya maka sebagian “medan tempur” sudah kita kuasai.

Jadi, mudah, bukan? Nggak ribet.

Perjalanan Saya Ketika Membuat SIM C

Sabtu, 31 Mei 2014. Pagi itu, saya sedang bersiap-siap berangkat menuju Polrestabes Bandung untuk mengikuti ujian SIM C. Tepatnya, Satpas Polrestabes di Jalan Jawa No. 1 Kota Bandung. Dahulu, sebelum tahun 2010, namanya Polwiltabes.

Surat Keterangan Dokter sudah dimiliki. Menurut pengalaman orang lain, jika anda sudah berada di Polrestabes Bandung dan belum memiliki Surat Keterangan Dokter, petugas di sana akan menunjukkan anda kepada dokter yang berada di dekat lokasi. Katanya, di Jalan Nias. “Kok katanya,” mungkin itu pertanyaan anda. Ya, saya kan tidak mengalami. Katanya pula, biayanya Rp 40 ribu.

Saya sendiri, sehari sebelumnya (Jumat, 30 Mei 2014), sudah memiliki Surat Keterangan Dokter dari Puskesmas Sarijadi. Tujuannya, agar di Polrestabes Bandung tidak bolak balik. Lumayan, ternyata biayanya Rp 10 ribu.

Selain Surat Keterangan Dokter, KTP asli dan selembar fotokopinya serta pulpen sudah disiapkan. Maklum, pulpen sering kali dibawa ketika ada urusan. Anda mungkin sering mendengar: “Ada yang punya pulpen?”. He he, tampak realitas. Sementara saya membawa fotokopian (selain tahu sudah menjadi persyaratan) karena aneh saja. Jaman e-KTP kok masih memberlakukan fotokopian. E-KTP memang kartu yang aneh.

Jauh-jauh hari, saya sudah mempelajari ujian teori, ujian simulator, dan ujian praktik motor. Tentu berdasarkan bacaan dan pengalaman orang lain. Dari ketiga ujian itu, tampaknya ujian teori menjadi beban bagi saya. Khawatir tidak lulus meskipun kalau tidak lulus, saya bisa mengulanginya lagi. Namun, kalau saya tidak lulus ujian teori, wah bisa gempar dunia persilatan he he he. Sementara kalau ujian simulator dan ujian praktik motor, saya kira, anda sudah tahu alasannya dalam cerita saya sebelumnya.

Mulai berangkat dari rumah pada pukul setengah delapan lebih. Naik angkot Sarijadi-Stasiun Hall (Rp 3.000,-) dan angkot Stasiun Hall-Gunungbatu (Rp 2.000,-) dengan ongkos Rp 10 ribu pergi-pulang. Turun di dekat Balaikota Bandung dan berjalan kaki 100-200 meter menuju Polrestabes Bandung. Tiba di Polrestabes Bandung hampir pukul sembilan.

Jalan Jawa sudah pernah saya lewati. Tapi tampaknya tegang juga ketika saya/kita punya urusan. Salah masuk. Di pintu gerbang Pos I, “Pak mau bikin SIM,” tanya saya. “Di sana, Pak,” tanggap petugas. “Terima kasih, Pak” tanggap saya lagi. Di pintu gerbang Pos II, pertanyaan dan jawaban serupa terjadi. Kali ini ada tambahan informasi, “Sudah punya Surat Keterangan Dokter,” tanya petugas. “Sudah, Pak,” jawab saya.

Di pintu gerbang Pos III? Nah, ini dia. “Bu, mau bikin SIM,” tanya saya. “Di sana,” jawab Ibu petugas. Sebelumnya, saya mencatat (lebih tepatnya, dicatat oleh petugas) nama di buku tamu. [Oh ya, yang dimaksud dengan pintu gerbang itu belum tentu besar sebagaimana biasanya pintu gerbang. Pintu gerbang di sini saya maksudkan sebagai pintu masuk menuju halaman Polrestabes Bandung. Pokoknya ada arus keluar-masuk orang.]

Setelah memasuki pintu gerbang dan halaman Polrestabes Bandung, tampak lapangan untuk ujian praktik mobil/motor. Saya pun menyaksikan para peserta ujian praktik motor yang sedang berbaris. Saya mencoba membayangkan bagaimana saya melakukan ujian praktik motor nantinya. Ada jalan lurus, zigzag, dan angka 8. “Tampaknya jalan lurus dan zigzag relatif mudah,” gumam saya dalam hati.

Saya menyaksikan para peserta ujian praktik motor karena sambil melihat-lihat dimana tempat loket pendaftaran. Soalnya untuk pertama kalinya saya datang ke tempat ini. Selain itu, untuk memahami rasa gugup ketika kelak ujian praktik motor. “Wah, benar kata orang lain. Pantesan gugup. Gugupnya ditambah oleh para pengunjung yang duduk-duduk di kantin yang berada di pinggir lapangan,” pikir saya.

Ketika hendak melintas menuju loket pendaftaran, saya menyaksikan salah seorang peserta ujian praktik motor yang berbaris tadi sudah menjalankan ujian praktik motornya. Jalan lurus, OK. Angka 8, prakkk, menabrak patok. Zigzag, nggak sempat lihat karena saya sudah melintas menuju loket pendaftaran. Namun, ketika salah seorang peserta ujian praktik motor menabrak patok tadi, saya sempat mendengar obrolan seseorang dan petugas, “Rata-rata ujian mah gugup nya?”. Petugas itu pun tampak memaklumi.

Lalu, saya pun melanjutkan perjalanan sambil melihat-lihat lapangan. “Pak, mau bikin SIM,” tanya saya. “Oh, di sana,” jawab petugas. Ternyata, ketika saya melintas lapangan tadi, saya bertanya di loket penguji ujian praktik motor. Sampai akhirnya, ketemu juga dengan tempat yang dituju.

Mendekati loket pendaftaran, sudah banyak orang. Penuh. Mungkin hari Sabtu. Diperhatikan, di ruangan itu tampak beberapa loket: pendaftaran, BRI, ujian teori, ujian simulator, arsip, dan asuransi. “Pak, mau bikin SIM,” ujar saya. “Ada Surat Keterangan Dokter, KTP asli, dan fotokopi KTP,” tanya petugas. Saya pun menyerahkannya di loket pendaftaran. Lalu, petugas memberikan formulir untuk diisi. Saya pun hanya mengisi nama dan alamat serta memilih SIM apa (cukup dibulati). Setelah itu menyerahkan kembali ke loket pendaftaran untuk memperoleh nomor registrasi.

Setelah menunggu panggilan agak lama, saya mendapatkan kembali formulir tadi yang sudah diberi nomor registrasi. Lalu saya melangkah ke BRI yang jaraknya lebih kurang “hanya” 10 meter untuk membayar Rp 100 ribu. Setelah membayar Rp 100 ribu, formulir tersebut diserahkan oleh petugas ke ruang sebelah. Saya pun memperoleh panggilan dari ruang sebelah tadi dan mendapatkan formulir untuk diisi. Setelah itu dipersilakan duduk untuk mulai mengisi nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, alamat, dan sebagainya.

Wow, mengisinya pakai pensil. Saya tidak bawa pensil karena tidak tahu. Tapi, tenang, petugas sudah menyediakan kok. Saya dan beberapa rekan di sana pun mengalaminya. Pensilnya dibalikin lagi ke petugas ya. Ketika saya sudah mengisi formulir, saya baru tahu juga ada ibu-ibu yang kelihatannya menjual pensil. Entahlah.

Setelah menyerahkan formulir kepada petugas, saya pun menunggu panggilan kembali untuk mengikuti ujian teori. Kali ini lebih lama. Para pendaftar baru pun makin bertambah. Bahkan ketika loket pendaftaran sudah ditutup pada pukul 11.00 WIB. Ada seorang perempuan yang mendatangi petugas karena belum dipanggil juga. Dalam situasi seperti ini, mungkin berkasnya tertumpuk. Jadi, jangan sungkan untuk mempertanyakannya kepada petugas. Ini kasuistis.

Akhirnya, tibalah giliran rombongan saya (25 orang) dipanggil. Sebagaimana yang saya tulis tadi, ujian teori merupakan periode menegangkan bagi saya. Terkesan jadi beban bagi saya daripada ujian simulator dan ujian praktik motor.

Setelah masuk, di ruang ujian teori, petugas menyampaikan tata caranya. Peserta pun disuruh mencoba memijit tombol yang berada di depan sebelah kanan kita. Di kotak itu terdapat dua tombol: tombol A untuk jawaban salah (di sebelah kiri) dan tombol B untuk jawaban benar (di sebelah kanan).

Lalu, kita memperhatikan gambar asli dan gambar animasi tentang perilaku pengendara motor. Apakah perilaku itu benar atau salah? Setelah itu, jawaban pun langsung diberikan setelah semua peserta menjawabnya sambil menjelaskan jawabannya. Kita pun melangkah ke pertanyaan kedua hingga ke-30. Dari jawaban benar atau salah secara satu per satu itu, kita pun bisa mengira-ngira berapa nilai kita. Agar lulus, kita harus memiliki minimal 21 jawaban yang tepat.

Pada awalnya, saya merasa tegang. Setelah mencapai 30 soal, ke-25 orang memperoleh nilai akhir dan ditampilkan di layar. Ternyata ada seorang yang tidak lulus. Alhamdulillah, ujian teori saya lulus. Dunia persilatan pun tidak jadi gempar he he. Saya memperoleh nilai 29. Ketika mengamati layar, saya mencari tahu peserta lain yang memperoleh nilai 29 atau 30. Ternyata tidak ada. Yang ada nilai 28 ke bawah. Wow, saya yang tertinggi di antara rombongan saya. Peserta yang lulus pun langsung ke ruang ujian simulator.

Rasa tegang itu, sudah lewat. Sudah nyaman kembali. Ujian simulator/praktik motor? Nothing to lose. Ikut ujian saja masih dirasa “luar biasa” bagi saya.

Sebelum menjalankan ujian simulator, petugas menyuruh peserta ujian memakai rompi berwarna biru. Lalu disampaikan pula pengarahan dan tata caranya. Menurutnya, setiap pengemudi motor harus bisa memakai motor kopling. (Ah masa sih?). Sebelum mulai ujian simulator, setiap peserta diberikan nilai 100. Katanya, nilai awal tersebut tidak boleh kurang dari 60. Peragaan pun dicontohkan petugas. Motornya motor “asli” yang sudah dimodifikasi, tetapi kita melihat laju motornya di layar komputer. Ya, seperti main games di mal. “Wuih, biasa pakai matik, ini pakai kopling tangan lagi. Jangankan kopling, motor gigi saja baru bisa,” gumam saya dalam hati.

Motornya, sensitif. Maksudnya, ketika setang motor dibelokkan, tidak seperti motor beneran. Baru dibelokkan sedikit saja, motor melaju dan mengenai trotoar. Wah, nilai berkurang. Bukan itu saja, lampu lalu lintas berwarna merah dan hijaunya terlalu cepat. Jadi, kalau merah, “motor” kita harus segera dihentikan. Persoalannya, kalau tak biasa memakai motor kopling tangan, mesin motornya akan mati sehingga nilai kita pun berkurang lagi. Ya, ujian simulator ini memang cocok untuk menguji konsentrasi di jalan raya.

Ujian simulator, tidak lulus. Saya pun turun dari “motor”. “Eh, sekali lagi,” ujar petugas. Saya pun mengikuti ujian simulator kesempatan II. Masih tidak lulus. Bukan saya saja sih yang nggak lulus. Memang aneh “motor”-nya. Sensitif. “Mengulang kembali minggu depan ya?” ujar petugas. Saya pun harus mengulang pada Sabtu, 7 Juni 2014 mendatang. (Kalau naik “motor” yang seperti ini, tampaknya kita baru bisa ketika ujiannya berkali-kali pada waktu itu. Jadi, kalau hanya dua kali bisa dikatakan kurang. Salut bagi anda yang bisa langsung lulus. Mantap!).

OK, saya pulang dan segera berjalan kaki menuju dekat Balaikota Bandung. Di sini naik angkot Sadangserang-Stasiun Hall (Rp 2.000,-) dan Stasiun Hall-Sarijadi (Rp 3.000,-). Hmmm, sebuah pengalaman yang menakjubkan.

Di rumah, saya sempat berpikir. Sepertinya ujian teori harus lebih ditekankan kepada para pengendara motor/mobil. Lihat saja perilakunya ketika berada di jalan raya. Kalau ujian simulator dan/atau ujian praktik motor, tidak terlalu ditekankan meskipun itu harus dilakukan sebagai bahan pengetahuan reaksi/respek misalnya. Itu kan termasuk keterampilan (skill) mengemudi juga.

Mengapa tak efektif? Sebutlah dalam ujian simulator tadi, berbeloknya motor asli dan motor simulator kok berbeda. Lain dari kenyataan. Juga, dalam ujian praktik motor, sebagaimana diceritakan oleh orang lain, hampir semua orang sudah “jago”. Bukan dalam arti menganggap enteng. Akan tetapi, dalam angka 8 misalnya, kaki tak turun ke bawah (tidak menabrak patok) tampaknya lebih berbahaya. Kenyataannya, kalau kaki turun ke bawah, kita justru terhindar dari menabrak patok, eh orang atau mobil di sampingnya he he. OK, sampai jumpa di ujian ulangan saya.

Baca juga:

Membuat SIM C Baru di Polrestabes Bandung (2): Pengalaman Mengasyikkan, Lulus dengan Catatan

Catatan Terbaru:

Soal Ujian Teori SIM C

Rahasia di Balik Pembuatan SIM C Baru. Dibawa piknik saja 🙂

Iklan

16 Comments »

  1. 1
    Anonim Says:

    Gan, akhirnya berhasilnya gmana tes simulator?

    • 2
      novanherfiyana Says:

      Ini kan baru cerita bagian 1. Nah, lulusnya ada di cerita bagian 2. Sebetulnya ada triknya juga 🙂

  2. 3
    Anonim Says:

    panjang teuing dongengna cape macana tapi eusina cemen

    • 4
      novanherfiyana Says:

      Nuhun. Terima kasih. Thank you.

      Dongeng memang sengaja diperpanjang. Jadi, itu bukan kesalahan mata anda. Tujuannya, agar detail. Semakin detail, pihak-pihak yang mencari via Googling menjadi terbantu. Terbukti, banyak “kata kunci” yang dicari (dan mengarah pada blog ini) ternyata merupakan pertanyaan yang mudah dan sederhana. Toh mereka tetap Googling juga 🙂

      • 5
        Anonim Says:

        Detail ga gitu juga kali, yg ga penting ga usah di publikasikan juga, bikin sakit Mata yg baca nya gan kasian, pasti bnyk yg kasih kritik ini, klo kaya gini agan mendingan privasi nya dibikin pribadi aja, niat bantu eh tau nya malah bikin bnyk orng jadi kesel soal nya ini lebih mengarah ke egoisan bukan membantu wkwkwkwk

      • 6
        novanherfiyana Says:

        Terima kasih kepada pengunjung (pembaca) yang sudah berkunjung (membaca) blog ini. Sekali lagi terima kasih untuk masukan (kritik)-nya. (Bisa dipertimbangkan untuk cerita-cerita selanjutnya). Ini konsep saya dan tidak setiap orang mesti menyukainya. [Bandingkan dengan gaya penulisan artikel saya di surat kabar.] Dalam hal media cetak, ada orang yang menyukai buku tebal dan ada pula yang menyukai buku tipis. Tinggal dicari dan dipilih.

  3. 7
    Indra setiaji Says:

    Mantap cerita nya , detail ..
    Jadi penasaran cerita selanjutnya huhu
    Soalnya saya juga mau bikin nih

  4. 8
    Andrew Says:

    Gw baru hari ini mau buat sim di polrestabes Bandung, tadi gw juga gagal di ujian simulator, gw gagal karena saat ngerem, mesinnya mati terus… 😂😂 susah pisan, ada juga yang gagal sampe 3 kali, dia sampe frustasi…

    • 9
      novanherfiyana Says:

      Terima kasih sudah curhat dan berbagi pengalaman 🙂 [Pengalaman saya dulu, setiap mendekati persimpangan, selalu menekan kopling dan gas secara bersamaan sehingga jika lampu hijau langsung ngacir he he he. Malah hampir tidak memerhatikan rem. Rileks saja, toh komputer ini. Jadi, aman 🙂 Detailnya lupa lagi. Tapi, akhirnya kan finish juga di tempat parkir.]

  5. 10
    yogie Says:

    Iya gan saya juga gagal di simulator apa itu gak mutu masa suruh maen game dari cara gasnya beloknya tengkep kupling pun beda bgt sama yg aslinya klo trs seperti itu yg jago maen game dota misalnya blm tentu bisa klo pertama nyoba..ibaratnya kita pgn bisa motor ya belajar simulator pun seperti itu klo ada saya mau rental per jam nya brp dan dmn ya gan rental game simulator ??

  6. 11
    anggi elno Says:

    gan itu kalau gagal percobaan selanjutnya harus bayar lagi ga?? mohon info nya gan

  7. 13
    heddy h Says:

    kalo melalui calo bayar berapa yah?soalnya saya udh umur 61 thn,suruh maen game simulator…mending kalo simulatornya normal…rem kaki ngga ada kopling ganti jd tuas kalo ngidupin motor panel sein tinggal besi nya,keras lg…lampu stopan dari ijo langsung merah…hayaaaa riweuh oeh…ada yg tau alamat calo ?yg harga 400lah…ini tlp saya 082115384730 ,kan tinggal ujian simulator sm praktek

  8. 14
    boy Says:

    Hari ini ane gagal simulator motor gan… Coba lagi minggu depan… Rossi juga bakal gagal klo motornya gitu… Di gas harus dalem… Giliran lepas kuplit malah kenceng… Ujung2 oleng gan uy… Gagal… Mana udah cape ngantri seharian…

  9. 15
    Anonim Says:

    kayak cerpen

    • 16
      novanherfiyana Says:

      Upaya sadar. Memang disengaja. Tadinya mau puisi karena tutorial sudah ada. Tidak semua orang MAMPU menulis. Bahkan tidak semua orang MAU menulis. (Karena [mungkin] kisahnya dianggap “ringan”). Terima kasih sudah searching dan terdampar di blog ini.


RSS Feed for this entry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: