Membuat Surat Keterangan Dokter di Puskesmas Sarijadi

Puskesmas. Pusat kesehatan masyarakat. Tampaknya sudah sangat lama saya tak pernah mengunjunginya lagi. Mengunjungi Puskesmas Sarijadi yang beralamat di Jalan Sariasih No. 76 Sarijadi, Kota Bandung. Lebih dari 15 tahun lalu. Bahkan lebih dari itu.

Ya, sejak kecil, saya memang takut disuntik he he. Pernah sih beberapa kali, tetapi saat itu tak berdaya untuk menolak. Kalau sudah besar, kan bisa menolak. Bahkan bisa kabur he he. Akhirnya, saya pun enggan untuk pergi ke puskesmas meskipun dalam keadaan sakit. Alhamdulillah, saya tak pernah sakit berat. Kalau sudah besar sih, sepertinya tak perlu takut lagi kalau-kalau perlu disuntik. (Rasanya, kalau tidak darurat, nggak mau juga sih he he). Semoga saja tetap sehat. Amin.

Lalu, mengapa saya mengunjungi Puskesmas Sarijadi pada hari Jumat, 30 Mei 2014? Ya, pagi tadi, kira-kira pukul setengah sembilan lebih, saya mengunjungi Puskesmas Sarijadi. Tujuannya, untuk meminta surat keterangan dokter. Untuk apa? Untuk pembuatan SIM C baru. [Itu merupakan salah satu persyaratan yang saya tahu dari peraturan perundang-undangan lalu lintas dan beberapa sumber lain (seperti radio dan searching).]

Sebelum mengunjungi Puskesmas Sarijadi, saya masih mengingat-ingat cara masuknya. Maklum, sudah terlalu lama. Namun, tampaknya masih sama. [Kalau melewati Puskesmas Sarijadi sih terhitung sering.]

Setelah memasuki Puskesmas Sarijadi, saya mendatangi loket pendaftaran. Di sini, warga yang mendatangi Puskesmas Sarijadi menulis nama dan alamat di buku/lembar pendaftaran. Seperti buku tamu. Setelah itu, mereka dimintai uang pendaftaran Rp 3.000,- sebagaimana tercantum dalam kertas yang ditempel di dinding.

“Bu, mau minta surat sehat dari dokter,” ujar saya. “Untuk apa?” tanya petugas. “Untuk membuat SIM baru,” jawab saya. Ternyata, berbeda dari pengunjung yang lain, saya tidak harus menulis di “buku tamu”. Petugas itu pun menyodorkan kertas kecil yang mengharuskan saya menulis nama, umur, dan alamat sambil meminta uang pendaftaran Rp 3.000,-. Saya pun menyerahkannya kembali lembar kertas itu kepada ibu petugas tadi.

“Tunggu ya, nanti dipanggil,” ujarnya. Antrean saya, yaitu nomor 62. Sambil menunggu giliran, saya pun menunggu untuk memasuki ruang pemeriksaan. Di ruang tunggu itu, saya mengobrol dengan ibu-ibu. Cari keterangan terbaru. Maklum, saya sudah lama tak mengunjungi tempat ini. Sebetulnya saya tak perlu bertanya-tanya karena keluarga besar saya pun sudah beberapa kali bolak balik ke Puskesmas Sarijadi. Ya, ini hanya ngobrol sambil lalu saja.

“Nanti di dalam, bayar lagi nggak, Bu?” tanya saya. “Oh, nggak. Gratis, termasuk nanti ambil obat di ruang sebelah,” jawabnya. Ya, saya maklum karena Puskesmas adalah “rumah negara”. Saya pun maklum, mungkin nanti saya akan dikenakan biaya administrasi karena kepentingan saya ialah meminta “jasa lain”. Paling tidak, itu yang pernah dialami orang lain yang saya ketahui ceritanya.

Tibalah giliran saya dipanggil dan masuk ke ruang pemeriksaan. Ditanya tinggi badan dan berat badan. Sebelumnya, saya telah mengukurnya di rumah. Di ruang itu pun ada timbangan badan. Lalu, diperiksa tensi darah. “110/70. Bagus,” kata ibu dokter. [Saya mengetahui bahwa tekanan darah yang normal, yaitu 120/80.] Setelah itu, dites buta warna dengan menyebutkan angka-angka dalam buku. Pemeriksaan pun selesai.

“Biaya administrasinya Rp 10 ribu ya, Pak,” ujarnya. Saya pun menyerahkan uang sebesar itu. “Surat dokter untuk apa?” tanyanya. “Untuk membuat SIM baru, Bu,” jawab saya.

Catatan pemeriksaan yang dicantumkan pada lembaran kertas ketika di loket pendaftaran tadi diserahkan kembali kepada saya. “Bawa ini ke loket pendaftaran lagi ya?” ujarnya. “Baik, Bu,” jawab saya.

Saya pun keluar ruangan itu dan mendatangi loket pendaftaran. “Ini Bu,” kata saya sambil menyerahkan lembaran kertas tadi. Petugas itu pun menyalinnya pada lembaran kertas yang baru. “Ini untuk apa, Pak?” ujarnya. “Untuk membuat SIM baru,” jawab saya. Setelah itu, selesai, dan saya pun pulang meninggalkan Puskesmas Sarijadi kenangan saya. Akhirnya, surat keterangan dokter sudah saya dapatkan.

Dari Trauma Mengendarai Motor hingga Berupaya Memiliki SIM

Saya kira, mengendarai motor merupakan kegiatan yang mudah bagi anda. Namun, tidak, bagi saya. Meskipun di rumah sudah lama ada motor, saya masih takut untuk sekadar belajar mengendarainya. Entahlah, saya tak tahu istilahnya apakah trauma atau bukan. Kalau phobia, tampaknya bukan.

Namun, kini, saya sudah tidak merasa takut lagi. Kini, saya sudah bisa mengendarai motor. Bisa dikatakan, saya bisa kebut-kebutan he he. Bisa menyalip kendaraan yang berada di depan saya. Itu semua karena motor matik. Anehnya, setelah bisa mengendarai motor matik, saya malah tidak takut lagi untuk belajar motor gigi (meskipun, katanya, setiap motor itu bergigi).

Ya, pada masa lalu, ketika SMA, sebetulnya saya sudah bisa mengendarai motor. Berlatih singkat di Jalan Perintis, Sarijadi, Kota Bandung. Ketika hendak pulang, saya nekad mengendarai motor. “Awas, De, sama saya saja,” ujar saudara saya yang mengajari saya naik motor. “Nggak apa-apa. Saya bisa kok,” timpal saya sambil membonceng saudara saya. Saya pun mengendarainya dan selamat sampai rumah.

Sesampainya di gang dekat rumah, saya mencoba mengendarai motor lagi. Satu balikan, jalan lurus. Berangkat, OK. Balik lagi, juga OK dan berhenti di tempat semula. Namun, 2-3 detik kemudian, prakkk, menabrak orang. Kata saudara saya, “Kalau mau berhenti, giginya dinormalkan dulu”. Ya, saat itu, ketika berhenti, saya secara tidak sengaja menekan gas. Tentu saja motornya maju dan menabrak orang (karena ada orang he he) meskipun tidak keras. Saya baru tahu. Namanya juga baru belajar. Baru bisa. Sejak peristiwa itu, disadari atau tidak, tampaknya menjadi bibit ketakutan saya ketika hendak mengendarai motor.

Beberapa hari kemudian, saya hendak belajar motor bersama teman saya. Dia punya motor Vespa. Seingat saya, pakai kopling tangan. Sebelumnya, kami sudah mengisi bensin terlebih dahulu. Lalu, kami hendak pergi ke suatu tempat untuk berlatih. Saat itu, saya dibonceng oleh teman saya. Motor Vespa pun melaju. Secara tak sadar, kaki saya berada di bawah rem kaki. Nah, ketika motor Vespa melaju, tiba-tiba angkot Sarijadi-Ciroyom berhenti mendadak. Teman saya yang hendak menginjak rem, tidak bisa. Remnya tidak “berfungsi” karena kaki saya yang berada menyelip di bawah rem kaki, “menahannya”. Agar tak menabrak mobil (angkot), motor pun dibelokkan. Prakkk, nabrak trotoar. Saya pun jadi membayangkan hal yang tidak-tidak, seperti seandainya motor Vespa tadi melaju kencang menabrak kompor gas dari tukang gorengan. Di depannya memang ada tukang gorengan. Walah. Sejak kejadian itu, meskipun sempat mencoba belajar motor lagi, saya jadi takut. Dalam waktu yang cukup lama. Lama.

Hidup adalah perjalanan. Dalam setiap kesempatan, tidak jarang saya berada dalam sebuah “suasana baru”. Dari situ, diharapkan selalu muncul hal-hal yang “luar biasa”. Karenanya, saya berupaya untuk berada pada suatu tempat. Sampai akhirnya, tercipta hal yang “luar biasa” bagi saya. Ya, sebuah tuntutan yang harus membuat saya bisa mengendarai motor. Terlepas dari itu, ya kapan lagi kalau tidak sekarang. Mengapa saya menganggap hal yang “luar biasa”? Ya, ada rasa nyaman untuk menjalani. Mungkin kalau dari aspek agama semacam “hidayah”.

Sejak itu, saya mencoba belajar motor matik. Tinggal memutar rem dan gas he he meskipun awalnya takut-takut. Tidak lama kemudian, saya sudah bisa. Relatif singkat. Bahkan setelah itu saya mencoba berlatih mengendarai motor gigi. Hasilnya, bisa, meskipun masih mengendarainya di kompleks perumahan. Kalau di jalan raya, masih khawatir mesinnya mati ketika berada di persimpangan lampu lalu lintas berwarna hijau-merah he he.

Kini, saya sedang berupaya untuk memiliki SIM (Surat Izin Mengemudi) C. Mudah-mudahan lancar. Amin.

Baca juga:

Membuat SIM C Baru di Polrestabes Bandung (1): Ujian Teori Lulus, Ujian Simulator Tidak Lulus

Membuat SIM C Baru di Polrestabes Bandung (2): Pengalaman Mengasyikkan, Lulus dengan Catatan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: