Mengunjungi Dua Museum Bandung dalam Sehari

Sejak “kegagalan” memasuki Museum Sri Baduga pada hari Senin, 3 September 2012 yang lalu, keponakan saya selalu menagih janji untuk mengunjunginya kembali. Akhirnya, Kamis, 13 September 2012 siang tadi, kami kembali mengunjungi Museum Sri Baduga. Jika anda mengetahui alasannya mengapa kami “gagal” masuk ke Museum Sri Baduga pada waktu itu, maka anda akan tahu jawabannya, yaitu bahwa Museum Sri Baduga tidak buka pada hari Senin dan hari libur nasional. Dalam agendanya, Museum Sri Baduga ini buka Selasa-Jumat pada pukul 08.00 WIB s.d. 15.30 WIB dan Sabtu-Minggu pukul 08.00 WIB s.d. 14.00 WIB. Paling tidak, informasi itulah yang tertulis pada kaca loket tiket/karcis untuk memasuki Museum Sri Baduga.

Ya, setelah memasuki lobi utama Museum Sri Baduga, di sana sudah terlihat loket tiket. Tiket masuk Museum Sri Baduga untuk saat ini, Rp 1.500,- (seribu lima ratus rupiah) untuk anak-anak dan Rp 2.500,- (dua ribu lima ratus rupiah) untuk dewasa.

Dalam kunjungan siang tadi, tampak anak-anak sekolah yang hadir. Jumlahnya lumayan. Dari bincang-bincang sejenak, kedatangan anak-anak sekolah ke Museum Sri Baduga dalam rangka memenuhi pelajaran Bahasa Indonesia. “Untuk studi pengamatan,” ujarnya.

Sebelum ke Museum Sri Baduga, sebetulnya kami mengunjungi Museum Konperensi Asia Afrika lebih dahulu. Alasannya, agar naik angkutan umumnya lebih efektif. Soalnya, dari Museum Asia Afrika yang berada di Jalan Asia Afrika ke Museum Sri Baduga yang berada di Jalan BKR (seberang Lapangan Tegallega), kami cukup naik bus kota DAMRI trayek Cicaheum-Leuwipanjang saja yang ke Leuwipanjang. Lalu, tinggal turun di Tegallega.

Bagi orang-orang baru, masuk ke Museum Konperensi Asia Afrika yang berada di Jalan Asia Afrika mungkin tampak membingungkan. Mengapa? Ya, karena pintunya kadang terbuka dan kadang tertutup. Namun, jika pintu dalam keadaan tertutup, kita cukup membukanya saja. Soalnya, berdasarkan pengamatan saya, meskipun Museum Konperensi Asia Afrika ini berada di Jalan Asia Afrika, pintu “terbuka” biasanya berada di Jalan Braga. Sebutlah, pintu samping Gedung Merdeka. Namun, terlepas dari itu, pintu depan dan pintu samping sama saja. Saya hanya ingin menceritakan kesan saja. Namanya juga museum. “Aneh”. “Ke-aneh-an” itu pula yang membuat calon pengunjung merasa segan untuk mengunjungi museum. Menurut pandangan saya, itulah salah satu alasan mengapa beberapa museum di antaranya sering kali sepi. Segan dan “takut” pada pandangan pertama.

Kembali ke cerita saya tentang Museum Konperensi Asia Afrika. Setelah memasuki Museum Konperensi Asia Afrika, setiap pengunjung “digiring” untuk menulis buku tamu. Ya, buku tamu ini seolah tanda bahwa museum itu gratis. Dalam kunjungan siang tadi, selain anak-anak sekolah yang juga untuk memenuhi pelajaran bahasa Indonesia (dari obrolan sejenak), tampak dua wisatawan asing yang baru datang meskipun dari buku tamu yang ada sudah terisi beberapa nama-nama pengunjung untuk hari tadi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: