Perjalanan Wisata Menikmati Jalur Rel Kereta Api Bandung-Padalarang-Cianjur

Sabtu, 7 Januari 2012. Pagi itu, langit masih agak gelap. Mengiringi datangnya mentari pagi, saya pun segera naik angkutan kota (angkot) trayek Sarijadi-Stasiun Hall. Nama resminya sih tampaknya angkot Stasiun Hall-Sarijadi. Angkot ini berwarna biru telur asin strip biru-hijau. Kalau kita perhatikan, corak warna seperti ini sama dengan corak warna pada angkot Halteu Andir-Cibogo Atas (dahulu Cibogo-Elang) dan angkot Sederhana-Cimindi. Berdasarkan angka jam di handphone saya, angkot yang saya naiki berangkat pada pukul 05.22 WIB dengan tujuan Stasiun (Hall) Bandung.

Ya, hari itu, saya memang telah berencana untuk jalan-jalan ke Kabupaten Cianjur. Tujuan sebenarnya ialah untuk menikmati jalur rel kereta api lokal trayek Padalarang-Cianjur. Sebelumnya, kereta api lokal ini melayani trayek Ciroyom-Lampegan-Sukabumi. Namun, kini, tinggal trayek Padalarang-Cianjur saja.

Setibanya di Stasiun Bandung pada pukul 05.54 WIB, saya bergegas untuk membeli tiket/karcis untuk tujuan Stasiun Padalarang. Saya mendapatkan tiket/karcis Kereta Rel Diesel (KRD) Ekonomi trayek Cicalengka-Padalarang dengan tulisan “Bandung-Padalarang” seharga Rp 1.000,- (seribu rupiah).

Di dalam Stasiun Bandung, ternyata sudah tampak dua KRD Ekonomi yaitu KRD Ekonomi Padalarang-Cicalengka dan KRD Ekonomi Cicalengka-Padalarang. Sesuai jadwal kereta api per 1 Desember 2011, KRD Ekonomi Cicalengka-Padalarang yang berangkat dari Stasiun Cicalengka pada pukul 05.05 WIB memang dijadwalkan tiba di Stasiun Bandung pada pukul 05.53 WIB. Sementara dengan jadwal yang sama, KRD Ekonomi Padalarang-Cicalengka yang berangkat dari Stasiun Padalarang pada pukul 05.25 WIB dijadwalkan tiba di Stasiun Bandung pada pukul 05.58 WIB. Karena tujuan saya kali ini akan menuju Stasiun Padalarang, akhirnya saya pun menaiki KRD Ekonomi Cicalengka-Padalarang. Tepat pada pukul 06.05 WIB, KRD Ekonomi Cicalengka-Padalarang yang saya naiki mulai berangkat.

Seperti biasa, di dalam kereta api sudah ada para penjual makanan/minuman dan barang kebutuhan lainnya yang hilir mudik. Seorang penyapu sampah pun tidak ketinggalan. KRD Ekonomi Cicalengka-Padalarang yang saya naiki ini berhenti di setiap stasiun, kecuali Stasiun Andir. Stasiun-stasiun itu adalah Stasiun Ciroyom (pukul 06.11 WIB), Stasiun Andir (06.19), Stasiun Cimindi (06.23), Stasiun Cimahi (06.30), Stasiun Gadobangkong (06.36), dan terakhir di Stasiun Padalarang (06.45). Padahal, menurut jadwal, KRD Ekonomi Cicalengka-Padalarang yang berangkat dari Stasiun Cicalengka pada pukul 05.05 WIB ini direncanakan tiba di Stasiun Padalarang pada pukul 06.33 WIB.

Sesampainya di Stasiun Padalarang, saya segera mendekati loket tiket/karcis untuk membeli tiket/karcis Kereta Api Lokal Padalarang-Cianjur. Namun, petugas mengatakan belum bisa melayani karena saat itu masih melayani tiket/karcis KRD Ekonomi Padalarang-Cicalengka yang dijadwalkan berangkat pada pukul 07.30 WIB. Untuk mengisi waktu, saya berkeliling Stasiun Padalarang untuk melihat keadaan.

Berjalan ke luar Stasiun Padalarang, tampak ada pasar di seberang jalan. Stasiun Padalarang memang berada di sisi jalan. Di jalan ini pun melintas tiga trayek angkot yaitu angkot Stasiun Hall-Cimahi-Padalarang (berwarna hijau strip putih-orange), angkot Leuwipanjang-Cimahi-Padalarang (juga berwarna hijau strip putih-orange), dan angkot Padalarang-Cimahi via Dustira (berwarna merah strip hitam). Khusus untuk angkot dari Stasiun Hall dan Leuwipanjang, biasanya kedua angkot ini dibagi ke dalam dua trayek yaitu Stasiun Hall-Cimahi dan Cimahi-Padalarang serta Leuwipanjang-Cimahi dan Cimahi Padalarang. Hal itu tergantung pada sedikit atau banyaknya penumpang. (Sebetulnya, di kawasan Stasiun Padalarang ini ada juga angkot Padalarang-Parongpong yang berwarna kuning strip biru. Namun, lokasi antara Stasiun Padalarang dan “terminal” angkot ini dipisah oleh perumahan/pemukiman penduduk sehingga kita harus melewati perumahan/pemukiman penduduk tersebut).

Ketika melihat kereta api lokal Padalarang-Cianjur yang sedang parkir di jalur rel 1 (baca: kereta api ini merupakan kereta api pemberangkatan dari Stasiun Cianjur pada pukul 05.00 WIB), saya melihat tempat duduk sudah penuh. Saya kira, ini merupakan “strategi” calon penumpang untuk menguasai tempat duduk lebih dahulu. “Biarlah saudara atau temannya yang nanti beli tiket/karcis ketika loket tiket/karcis sudah dibuka,” pikir saya dalam hati. Kereta api lokal trayek ini memang hanya menyediakan dua gerbong penumpang.

Setelah petugas tiket/karcis melayani, saya pun segera membeli tiket/karcis kereta api lokal Padalarang-Cianjur dan diberi tiket/karcis bertuliskan “Padalarang-Cianjur” seharga Rp 1.500,- (seribu lima ratus rupiah). Setelah KRD Ekonomi Padalarang-Cicalengka diberangkatkan dari Stasiun Padalarang pada pukul 07.30 WIB dan Kereta Api Kahuripan trayek Kediri-Padalarang tiba di Stasiun Padalarang pada pukul 07.45 WIB (dari jadwal jam 07.57 WIB), Kereta api lokal Padalarang-Cianjur yang saya naiki mulai berjalan pada pukul 08.30 WIB. O…ow…, ada beberapa penumpang yang baru datang ketinggalan, tetapi kereta api ini tetap berjalan sesuai jadwal. Tampaknya, mereka harus kecewa karena harus menunggu pemberangkatan pukul 16.30 WIB yang merupakan kereta api yang diberangkatkan dari Stasiun Cianjur pada pukul 11.30 WIB.

Selama perjalanan, tampak para penjual makanan/minuman dan barang kebutuhan lainnya hilir mudik. Dalam perjalanan kali ini, saya hanya bisa berdiri di belakang meskipun di dalam masih kosong, kecuali para penumpang yang duduk di tempat duduk. Posisi berdiri di belakang pun sebenarnya ada maksud. Saya ingin melihat keadaan baik ke depan maupun ke belakang. Itu saja. Namun, mulai Stasiun Rajamandala, kereta api ini dipenuhi penumpang.

Kereta api lokal Padalarang-Cianjur yang saya naiki berhenti di setiap stasiun yaitu Stasiun Tagogapu (pukul 08.41 WIB), Stasiun Cipatat (09.01), Stasiun Rajamandala (09.10), Stasiun Cipeuyeum (09.21), Stasiun Ciranjang (09.31), Stasiun Selajambe (09.40), Stasiun Maleber (09.51), dan terakhir Stasiun Cianjur (09.59). Ada satu hal menarik dalam perjalanan kali ini yaitu di antara Stasiun Tagogapu dan Stasiun Cipatat terdapat dua peristiwa ketika kereta api berhenti sejenak untuk menurunkan beberapa penumpang. Seperti naik angkot ya? Ada untungnya saya berdiri di belakang sehingga bisa mengalami apa yang terjadi.

Secara umum, kedaan alam yang dilewati kareta api lokal Padalarang-Cianjur ini terdiri dari dua bagian besar. Jika di wilayah Kabupaten Bandung Barat alamnya adalah bukit dan hutan maka di wilayah Kabupaten Cianjur alamnya adalah persawahan. Oh ya, ada pemandangan yang cukup menarik yaitu dilewatinya dua sungai besar.

Setibanya di Stasiun Cianjur pada pukul 09.59 WIB, saya tidak “berani” untuk berjalan jauh meninggalkan Stasiun Cianjur. Bukan apa-apa, untuk pulang ke Bandung, saya harus naik kereta api yang sama dengan pemberangkatan pukul 11.30 WIB. Kalau tidak, maka saya harus pulang naik kereta api yang sama besok pagi (pukul 05.00 WIB). Sebenarnya untuk pulang ke Bandung bisa naik bus dan akses ke terminal bus dari Stasiun Cianjur pun cukup terbuka. Tampak ada tiga trayek angkot yang berada di luar Stasiun Cianjur. Namun, dalam perjalanan kali ini, saya kan hanya berencana untuk menikmati jalur rel kereta api lokal Padalarang-Cianjur dan sebaliknya.

Setelah loket tiket/karcis dibuka, saya dan beberapa calon penumpang lain turut mengantre untuk membeli tiket/karcis kereta api lokal Cianjur-Padalarang. Saya berhasil mendapatkan tiket/karcis yang bertuliskan “Cianjur-Ciroyom” seharga Rp 1.500,- (seribu lima ratus rupiah). Meskipun ada tulisan “Ciroyom”, kereta api lokal ini tetap berakhir di Stasiun Padalarang.

Perjalanan pulang kali ini benar-benar sesak. Banyak penumpang yang naik. Harap maklum, ada beberapa keluarga beserta anak-anaknya turut berwisata (baca: jalan-jalan) menikmati jalur rel kereta api lokal Cianjur-Padalarang. Mungkin hari Sabtu ini merupakan hari Sabtu terakhir selama liburan sekolah kali ini. Setidaknya, itulah komentar yang disampaikan beberapa penumpang dalam obrolan. Tentu saja, mereka berkesempatan untuk balik lagi ke Cianjur pada pukul 16.30 WIB dari Stasiun Padalarang.

Kereta api lokal Cianjur-Padalarang yang saya naiki mulai berjalan pada pukul 11.34 WIB. Lambat empat menit dari jadwal. Seperti biasa, para penjual makanan/minuman dan barang kebutuhan lainnya hilir mudik, termasuk seorang penyapu sampah. Kereta api lokal Cianjur-Padalarang ini berhenti di setiap stasiun yaitu Stasiun Maleber (pukul 11.42 WIB), Stasiun Selajambe (11.51), Stasiun Ciranjang (11.59), Stasiun Cipeuyeum (12.11), Stasiun Rajamandala (12.23), Stasiun Cipatat (12.32), Stasiun Tagogapu (12.56), dan terakhir di Stasiun Padalarang (13.13).

Perjalanan wisata saya kali ini tampak berjalan lancar. Setelah tiba di Stasiun Padalarang, saya membeli tiket/karcis KRD Ekonomi Padalarang-Cicalengka untuk tujuan Stasiun Bandung. Saya pun mendapatkan tiket/karcis bertuliskan “Padalarang-Kiaracondong” seharga Rp 1.000,- (seribu rupiah) dan beristirahat sejenak.

Setelah Kereta Api Argo Parahyangan trayek Jakarta-Bandung (Stasiun Gambir-Stasiun Bandung) langsung melewati Stasiun Padalarang pada pukul 13.42 WIB, KRD Ekonomi Cicalengka-Padalarang yang baru tiba di Stasiun Padalarang, diberangkatkan kembali di Stasiun Padalarang pada pukul 13.47 WIB (dari jadwal pukul 13.45 WIB). Mengiringi langkah para penjual makanan/minuman dan barang kebutuhan lainnya serta kelompok pengamen dan seorang penyapu sampah, KRD Ekonomi Padalarang-Cicalengka yang saya naiki berhenti di setiap stasiun, kecuali Stasiun Andir, yaitu Stasiun Gadobangkong (pukul 13.53 WIB), Stasiun Cimahi (14.00), Stasiun Cimindi (14.06), Stasiun Andir (14.14), Stasiun Ciroyom (14.18), dan Stasiun Bandung (14.25). Sebetulnya, sesuai jadwal, KRD Ekonomi Padalarang-Cicalengka yang berangkat dari Stasiun Padalarang pada pukul 13.45 WIB ini akan tiba di Stasiun Bandung padapukul 14.19 WIB.

Turun di Stasiun Bandung, saya melihat Kereta Api Malabar Ekspres trayek Bandung-Malang yang menurut jadwal akan berangkat pada pukul 15.30 WIB. Sampai di Stasiun Bandung, saya bergegas untuk kembali ke rumah dengan menaiki angkot Stasiun Hall-Sarijadi. Diiringi hujan dan kemacetan di jalan, saya menikmati angkot ini dari pukul 14.33 WIB sampai pukul 15.45 WIB. Sungguh perjalanan wisata menikmati jalur rel Padalarang-Cianjur yang mengasyikkan.

Jadwal Kereta Api Lokal trayek Padalarang-Cianjur dan Cianjur Padalarang:

Dari Stasiun Cianjur pukul 05.00 WIB dan 11.30 WIB.

Dari Stasiun Padalarang pukul 08.30 WIB dan 16.30 WIB.

Iklan

7 Comments »

  1. 1
    ratna Says:

    nanti kalo wisata naik kereta lagi,mampir ya…dikampung wisata LOKOMOTIF yang berada di kampung CICUKANG II RW 07 JATAYU BANDUNG
    letaknya sekitar 400m dari setasiun Andir Baru/Ciroyom ke arah barat atau 400m dari setasiun Andir ke arah timur…
    Kampung kami di lalui kereta jurusan Bandung-Jakarta,Bandung-Padalarang

    • 2
      novanherfiyana Says:

      Suatu tempat yang merupakan kampung kreatif itu ya?! Nanti deh sekalian memarkirkan keretanya 🙂

      • 3
        ratna Says:

        Betul…
        kampung yang sedang di bangun menuju kampung wisata
        parkir kereta bisa di stasiun ciroyom…hihihi

  2. Saat ini kereta api Argo Peuyeum sudah lama tidak beroperasi lagi sejak bulan Nopember 2012 dengan alasan rel sepanjang perjalanan Padalarang sampai Cianjur tengah mengalami perbaikan dan penambahan balast. Yang terakhir perjalanan KA Argo Peuyeum ini menggunakan gerbong kelas 2 dan tarifnya berubah dari Rp. 1500,- menjadi Rp. 10.000,-. Entah benar atau tidak sejak kenaikan tarif dan penggunaan gerbong bisnis ini tingkat okupansi penumpang menurun drastis sehingga pihak PT. KAI menghentikan sementara perjalanan Argo Peuyeum ini hingga waktu yang belum ditentukan. Namun sementara itu, pemeliharaan dan perbaikan rel2 terus dilakukan bahkan bantalan rel banyak yang diganti dengan bantalan besi.
    Sesungguhnya, rute KA Padalarang – Cianjur ini masih dibutuhkan oleh masyarakat, setidaknya untuk kereta wisata, yang memang pernah diinstruksikan oleh Wagub Jawa Barat Dede Yusuf agar trayek PDL – CJ ini diaktifkan kembali setelah Wagub melakukan perjalan dengan KA Argo Peuyeum ini beberapa waktu yang lalu. Semoga saja instruksi Wagub tsb dapat ditindaklanjuti oleh pihak PT. KAI Daop 2 untuk kembali dibuka sebagai KA reguler maupun wisata…..

    • 5
      novanherfiyana Says:

      Ya, berhenti beroperasi (untuk sementara?!). Namun, menurut pandangan saya, jika diperhatikan, sejak pimpinan PT KAI “diperbarui”, sikap-sikapnya terkesan men-stop “rakyat kecil”. Akan tetapi, terlepas dari itu, (mudah-mudahan) saya paham maksudnya, yaitu mengumpulkan uang dulu dari tiket mahal, untuk kemudian membenahi kereta “mewah” dan kereta “murah”. Daripada membuat tiket murah, tetapi kedua kereta tersebut tidak kelar-kelar dibenahi dengan alasan beban biaya 🙂

  3. 6
    Adhitya Fajar Prasetya Says:

    Yth. Pak Novan Herfiyana,
    lewat komentar ini, saya minta izin untuk dapat menggunakan foto-foto yang telah Anda upload di situs novanherfiyana.blogspot.com untuk memperkaya artikel-artikel yang ada di situs Wikipedia. Alasan kenapa saya harus meminta izin dari Anda adalah karena kebijakan di Wikipedia mengenai hak cipta sangat ketat. Wikipedia sangat menghargai hal ini. Harap dimengerti bahwa situs ini sama sekali bersifat non-profit, tanpa ada tendensi ekonomi, dan benar-benar ditujukan sebagai sesuatu sumber informasi bebas bagi semua orang.

    Jika Anda mengizinkan, yang akan dilakukan adalah, di semua foto karya Anda akan diberi kredit “(c)Novan Herfiyana” dan akan diberi pranala ke akun Anda di novanherfiyana.blogspot.com.
    Mohon dipertimbangkan.

    Terima kasih sebelumnya,

    Adhitya Fajar Prasetya

    • 7
      novanherfiyana Says:

      Ya, silakan Mas Adhitya. Mungkin maksudnya novanherfiyana.wordpress dan bukannya novanherfiyana.blogspot 🙂


RSS Feed for this entry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: