Menepati Janji

Janji memang harus ditepati. Bagaimana pun sulitnya untuk menepati janji, kita tetap harus menepati janji. Makanya kita jangan mudah untuk berjanji he he he. Namun, untuk janji yang satu ini, saya harus menepatinya. Ya, itulah pengalaman saya ketika ke Jakarta pada hari Senin, 28 Maret 2011 kemarin. Jadwal “acara janjian”-nya sih jam 08.00 WIB.

Perencanaan yang saya lakukan sesungguhnya hampir mendekati kenyataan. Mengapa mesti ada tambahan kata-kata “hampir mendekati kenyataan”? Ya, saya kurang bisa memprediksi perkembangan jaman. Perkembangan apa? Perkembangan suasana kemacetan di kawasan ibu kota yang berubah secara signifikan dari waktu ke waktu.

Padahal saya sudah berangkat dari rumah (Bandung) jam 02.00 WIB. Maksudnya, agar berangkat dari terminal Leuwipanjang (Bandung) ke Jakarta sudah diprediksi waktu tibanya. Sayang, ternyata suasana kelancaran di jalan tol tidak sama dengan suasana kemacetan kawasan kotanya.

Setiba di Jakarta, rute perjalanan saya berubah rencana dari semula naik metromini Kopaja menjadi naik ojeg. Apa boleh buat, ongkos naik ojeg yang berlipat-lipat pun harus saya keluarkan. Bagi saya, ongkos yang tinggi itu tidak sebanding dengan upaya menepati janji.

Namun, sebetulnya, tukang ojeg pun belum tentu mampu memenuhi permintaan saya agar waktu perjalanannya cepat. Dia pun tampak terlihat sambil “berdiskusi” dengan sesama tukang ojeg. Tukar saran, istilah keren-nya. Maklum, tukang ojeg paham betul dengan suasana kemacetan saat itu. Saya pun tidak punya banyak pilihan. “OK-lah Bang yang penting kita coba dulu. Abang kan tahu ‘jalan-jalan tikus’,” ujar saya. Meskipun agak berat, tukang ojeng pun tampaknya menyetujui saja. Yang penting ada pemasukan dari si penumpang.

Ya, setelah melewati “jalan-jalan tikus”, saya pun tiba di suatu tempat. Tepat waktu? Sayang, terlambat 3-5 menit. Namun, saya bersyukur, kalau naik metromini Kopaja boleh jadi saya tiba 1,5-2 jam kemudian. Karena “kehebatannya”, saya pun memberi bonus tambahan untuk tukang ojeg itu. Maklum, di dalam suasana deg-deg-an sambil melihat-lihat jam tangan selama perjalanan naik ojeg, saya sudah berniat untuk memberi bonus seandainya dia mampu memenuhi permintaan saya. Meskipun hasilnya saya tetap terlambat, saya tetap memberikannya juga.

Singkat kata, hari Selasa, 29 Maret 2011, saya ada di Bandung (pulang hari Senin, 28 Maret 2011 malam).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: