Galamedia Genap 10 Tahun: Pendekatan Lokal Media (2)

 

PENULIS mencatat, sampai diundangkannya Undang-undang No. 13/2009 tertanggal 16 Januari 2009 tentang Pembentukan Kabupaten Maybrat di Provinsi Papua Barat, negara Indonesia memiliki 33 provinsi dan 497 kabupaten/kota, yang terdiri atas 403 kabupaten dan 94 kota.

Dalam masa reformasi ini, banyak media telah lahir. Ada yang tumbuh lalu berkembang dan ada pula yang akhirnya mati lagi. Itu sudah hukum alam. Kualitas konsep media dan paradigma pengelolanya turut berperan. Harian Umum Pikiran Rakyat sebagai media terbesar di Jawa Barat pun tidak tinggal diam dan mulai menerbitkan Galamedia “baru” sebagai media lokal Bandung pada 14 Oktober 1999.

Dari sekian banyak segmen media yang tumbuh bak cendawan di musim hujan itu, ada juga media-media lokal. Pada masa ini, menurut pandangan penulis, media lokal tidak hanya berisi laporan-laporan peristiwa dari daerah-daerah yang bersangkutan, tetapi juga menu-menu rubriknya harus bersimbol lokal. Sebutlah nuansa “demografis” Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kota Cimahi, dan Kabupaten Bandung Barat. Pemetaan ini cukup ampuh dilakukan.

Namun seiring dengan “egoisme” masyarakat yang semakin kental nuansa lokalnya, justru kini pendekatan yang sublokal lagi harus disajikan. Bagi sudut pandang warga Kota Bandung, sebutlah Bandung Utara, Bandung Selatan, Bandung Barat, Bandung Timur, dan sebagainya. Dengan sudut pandang pendekatan itu, masyarakat daerah yang bersangkutan akan merasa lebih dekat dengan medianya karena ada faktor kedekatan demografis dan psikografis. Dengan demikian, masyarakat akan lebih memetakan kebaikan dan keburukan daerahnya sehingga dari pemetaan itu pula akan lebih fokus lagi pada daerah yang akan dibangunnya. Tentu saja, pendekatan lokal ini tidak tersaji 100%, karena berita-berita tentang daerah lain masih tetap dapat disajikan sebagai pembanding daerahnya. Dalam hal ini, masyarakat dapat “meneropong” atau “menerawang” daerah lain yang berguna bagi daerahnya sebagai contoh pembanding.

Bahkan bisa saja menu yang lebih lokal lagi. Katakanlah menu kelurahan A (dalam menu Bandung Utara). Seorang pembaca akan langsung tertarik pada berita kelurahan di mana pembaca itu tinggal. Ia pun dapat melihat perkembangan daerahnya karena merasa dekat dengan dirinya. Dengan membaca menu daerah (kelurahan)-nya, ia tidak bermaksud berpikir sempit pada daerahnya saja, karena dengan melihat menu kelurahan (atau kota/kabupaten) di daerah lain, ia dapat melihat perkembangan daerah lain tersebut sebagai contoh pembanding. Adanya pembanding ini diharapkan akan menciptakan kompetisi antardaerah yang semakin meningkat dalam membangun daerahnya.

Novan Herfiyana

*) Tulisan ini dimuat di Harian Umum Galamedia edisi Jumat, 16 Oktober 2009.

Iklan

2 Comments »

  1. 1

    wah oke euy blog-nya… saya Agus Suhanto, senang berkenalan dgn Anda melalui blog ini 🙂


RSS Feed for this entry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: