Galamedia Genap 10 Tahun: Pendekatan Lokal Media

PADA 14 Oktober kemarin, Harian Umum Galamedia, sejak berganti nama dari Gala pada 14 Oktober 1999, genap berusia 10 tahun. Sayang, penulis merasa menyesal ketika satu-satunya koleksi Galamedia edisi perdana itu harus digunting untuk mendokumentasikan salah satu artikelnya. Akhirnya, satu-satunya koleksi Galamedia (meskipun berupa artikel tertanggal 14 Oktober 1999: “Bandung Punya Potensi Wisata Kota”) berhasil “diselamatkan”. Padahal, semestinya Galamedia edisi inilah yang mengandung nilai sejarah karena sehari sebelumnya (13 Oktober 1999) masih bernama Gala tanpa tambahan Media.

Penulis masih ingat ketika 1-2 hari sebelum Gala berganti nama dan format, dua pengelola dari Grup Pikiran Rakyat, Pak Yoyo S. Adiredja dan Pak Heri Askari saling bertukar pendapat (dan tentunya sambil berpromosi) dengan masyarakat melalui salah satu program acara di Radio PR 107,55 FM (kini, 107,5 FM). Segala keinginan masyarakat ditampung dan dituangkan dalam sebuah media bernama Galamedia, meskipun tentu saja konsepnya memang telah direncanakan jauh-jauh hari. “Pokoknya lihat sajalah pada hari Kamis, 14 Oktober 1999 nanti,” ujar Pak Heri pada saat itu.

Berbicara tentang media (surat kabar), penulis menerawang kembali ke masa-masa sebelum reformasi. Pada tahun 1997 itulah penulis tertarik dengan kisah surat kabar The Longboat Observers di Longboat Key (dimuat di majalah Eksekutif Nomor 218, Agustus 1997). Longboat Key hanyalah sebuah pulau kecil di selatan Florida, Amerika Serikat. Luasnya 15 x 1,5 km. Penghuninya pun hanya 9.600 kepala keluarga. Peluang bisnis? Ah paling-paling hanya restoran atau toko serba ada kecil-kecilan.

Namun dalam keadaan kecil-kecilan itu, keluarga Matt Walsh melihat peluang untuk menerbitkan media lokal: The Longboat Observers yang dicetak rata-rata 20.000 sampai 30.000 eksemplar. Selidik punya selidik, keluarga Matt Walsh menilai kawasan pulau ini sebagai sebuah pulau peristirahatan orang-orang berduit, yang pada musim dingin memang diserbu para pendatang yang ingin berlibur. Mereka merupakan pasar pembaca yang potensial. Akhirnya, berdasarkan keuntungan pendapatan inilah keluarga Matt Walsh mulai berekspansi menerbitkan media ekonomi The Gulf Coast Review.

Kisah sukses itu tentu menambah wawasan dan inspirasi bahwa kelak di Indonesia akan semakin diramaikan lagi oleh media-media lokal. Selain karena sudah bebas izin penerbitan, mereka beranak pinak dan mengembangkan jaringan sampai ke pelosok-pelosok daerah. Maklumlah negara kita dapat dikatakan berprovinsi-provinsi dan bahkan ber-kota/kabupaten yang banyak.

Novan Herfiyana

*) Tulisan ini dimuat di Harian Umum Galamedia, Kamis, 15 Oktober 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: