Kiat-kiat Membuat Mading

Selama ini, disadari atau tidak, kita sepertinya menganggap sepele terhadap mading. Ia hanya dianggap sebagai sebuah papan pengumuman biasa, yang sekadar ada. Namun demikian, jika kita ingin menciptakan mading tersebut sebagai media pada umumnya, maka kita harus mengubah cara pandang terhadapnya.

Nilailah mading sebagai salah satu media massa, selain media yang kita kenal. Jika kita telah menilainya dengan baik, maka citra terhadap mading pun menjadi baik. Dengan demikian, kita mempunyai semangat untuk melaksanakan kegiatan jurnalistik melalui mading yang kita kelola. Karena memang ada kebanggaan terhadapnya.

Mading harus terbit teratur (rutin). Suatu media, termasuk mading, agar mendapat tanggapan pembaca haruslah terbit teratur (periodik). Sejelek-jeleknya sebuah media, jika terbit teratur maka pembaca pun akan menanggapinya (termasuk pemasang iklan).

Karenanya, mading tersebut harus diupayakan bisa terbit sesuai dengan periode yang disepakati seperti seminggu sekali, sepuluh hari sekali, dua minggu sekali, sebulan sekali, dan seterusnya. Jika periode tersebut telah dipilih, maka jangka waktu terbit itu harus dipertahankan sesuai dengan program kegiatan (agenda) yang disepakati.

Untuk periode sepuluh harian, waktu terbit yang baik adalah setiap angka yang sama seperti tanggal 1, 11, dan 21, atau 2, 12, dan 22, dan seterusnya. Seperti halnya periode yang lain, waktu (angka) yang sama pun akan mengingatkan pembaca tentang akan terbitnya sebuah media yang kita kelola.

Sebagai catatan, hindarilah periode terbit tiga mingguan. Karena, jika edisi perdana terbit pada minggu pertama, misalnya, untuk edisi berikutnya cukup membingungkan. Karena mading tersebut harus terbit pada minggu keempat pada bulan yang sama, serta minggu ketiga untuk bulan selanjutnya. Hal ini akan membingungkan pembaca tentang terbitnya mading karena adanya minggu yang berbeda setiap terbitnya.

Mading harus aktual. Dalam hal ini, pengertian aktual (baru) mengandung arti relatif. Berita yang baru terjadi, yang masih hangat, tentunya akan menarik perhatian pembaca. Selain karena waktunya, berita lama pun akan menarik lagi jika mempunyai substansi yang baru.

Upayakan adanya kedekatan geografis dan psikologis. Suatu karya jurnalistik yang baik harus mengandung unsur kedekatan geografis dan psikologis. Misalnya, mading di sekolah A tentunya akan memberitakan berbagai peristiwa yang ada di seputar lokasi sekolah A tersebut. Inilah yang dimaksud dengan kedekatan geografis.

Lengkapilah karya jurnalistik dengan data dan pustaka. Dalam upayanya mencerdaskan kehidupan bangsa, setiap media dituntut untuk dapat memberikan karya tulis yang mendalam. Karya jurnalistik bukan hanya diisi dengan berita-berita yang bersifat melaporkan saja, tetapi juga harus dapat menyajikannya (menganalisisnya) dari berbagai sudut pandang, pada jenis karya jurnalistik lainnya. Jika karya jurnalistik tersebut cukup mendalam, maka pembaca pun akan tertarik dengan mading yang kita buat. Mading tersebut dapat dijadikan salah satu referensi (sumber rujukan) bagi pembacanya.

Mading harus bersifat interaktif. Setiap media dapat berperan untuk menjabarkan kebijakan dari atas dan menampung aspirasi dari bawah. Dengan demikian, mading tersebut dapat berperan sebagai jembatan antara atasan dan bawahannya.

Dalam lingkungan sekolah misalnya, terdapat kepala sekolah, guru, karyawan tata usaha, siswa, penjaga/pengurus sekolah, dan sebagainya. Antarkomponen itu tentunya mempunyai kepentingan yang berbeda-beda. Karenanya, mading ini dapat dimanfaatkan sebagai forum pemuatan unek-unek dari para komponen tersebut. Oleh karena itu, rubrik-rubrik seperti surat pembaca, konsultasi, dan salam pesan sangat dianjurkan.

Karya jurnalistik yang dipaparkan harus singkat, padat, dan jelas. Secara sepintas, karakteristik mading hampir mirip dengan internet. Jika internet membutuhkan fasilitas komputer, maka mading membutuhkan fasilitas papan (pengumuman). Ciri khas lainnya adalah bahwa untuk membaca mading perlu berdiri, sehingga pembaca mempunyai waktu singkat untuk memperhatikan (membacanya). Oleh karena itu, karya jurnalistik yang dipaparkan harus singkat, padat, dan jelas. Dalam hal ini, susunlah karya jurnalistik itu sebanyak 5-10 paragraf dengan kalimat yang pendek-pendek dalam setiap paragrafnya.

Pemaparan yang singkat dan padat di sini bukan bermaksud hendak membatasi penuangan ide (gagasan) si penulis (reporter dan pembaca). Maksudnya, untuk menghindari kejenuhan pembaca pada karya tulis yang kita buat. Hal ini, mungkin terkecuali bagi artikel (tulisan yang mengadung opini). Dengan demikian, pembaca dapat mencerna berita yang dilaporkan itu secara cepat. Walaupun berita itu singkat, tetapi bukankah penyampaian maksud berita itu yang penting?

Tulislah identitas penulis secara jelas dan konsisten. Bagi para pemula, identitas penulis biasanya tidak ditulis secara jelas. Hal itu paling tidak, ada dua kemungkinan, yaitu karena takut atau karena malu. Takut karena tulisan yang kritis (bersifat idealisme) bisa ditanggapi pula oleh pembacanya (bahkan dicap so kritis), sedangkan malu karena merupakan cerminan dari seorang penulis yang kurang percaya diri.

Selain itu, akan sangat mudah ditemukan bagaimana identitas penulis dimuat tidak konsisten. Dalam satu edisi yang sama, misalnya, ada identitas yang ditulis lengkap (seperti Ade Rahmat, ade rahmat), tetapi di halaman lainnya hanya ditulis inisialnya saja (AR, ar, Ar). Bisa dimaklumi seandainya identitas itu merupakan pembeda antara penulisan berita dan artikel, seperti Ade Rahmat atau ade rahmat (dalam artikel) dan AR atau ar (berita). Kecuali itu, bukankah perbedaan penulisan yang tidak konsisten itu ada kalanya justru mencerminkan sikap kurang profesional (kurang cermat serta check and recheck pada karya tulis yang dieditnya) oleh si pengedit.

Buatlah mading dengan desain grafis (lay-out) yang menarik. Suatu tulisan yang bagus belum tentu dibaca oleh pembaca seandainya desain grafisnya kurang menarik (kurang artistik). Tidak jarang para pembaca yang menganggap tulisan tidak bagus oleh karena kurang menariknya desain grafis suatu mading. Maklumlah, sudah apriori terlebih dahulu.

Selain itu, manajemen (organisasi) pers, sumber daya manusia, dan sumber dana tentunya menjadi faktor yang menentukan. Jika kesemua kiat dipraktikkan, maka mading pun akan dianggap (dinilai) sebagai media massa pada umumnya. Dengan demikian, banyak khalayak (pembaca) yang memperhatikannya. Kita pun (para pelajar) sebagai pengelola mempunyai kebanggaan terhadapnya.

Novan Herfiyana

*) Tulisan ini dimuat di Harian Umum Pikiran Rakyat edisi Minggu, 15 Juli 2001.

5 Comments »

  1. 1
    Orang Aneh Says:

    baca dulu ya

    salam sayang😆
    mampir sini ya
    yang aneh disini
    pengetahuan unik disini

  2. 2
    tira Says:

    iya memang tetapi sering nya bikinmading lebih banyak hiasannya daripd tulisannya

    • 3
      novanherfiyana Says:

      Itu cerminan bahwa setiap siswa kurang tertarik dengan pelajaran “mengarang”. Padahal kalau mau, mading bisa dimanfaatkan oleh siswa untuk mengetahui apa yang tidak diketahui. Misalnya, kelulusan itu diperoleh dari UN atau nilai di sekolah? Kalau anak SMA, cari tahu kelebihan dan kekurangan antara jurusan IPA dan IPS dan sebagainya. Pokoknya segala permasalahan di dunia pendidikan. Pokoknya, segalanya harus diketahui agar kita mampu menghadapi apa yang akan kita hadapi kelak. Kalau sudah tahu dan siap, kita enak untuk melangkah, bukan?

      Bagaimana pun, kalau hiasan (gambar) itu dibuat secara periodik tetap bagus. Artinya, mading tetap hidup. Tidak mandeg. Kesannya masih ada kegiatan (aktif).

    • 4
      atune Says:

      bener banget tuhhhh!!

  3. 5
    rodhiatun Says:

    yang pertama bukan lah yang terbaik..
    tapi yg terbaik pasti yang terakhir ……

    rodhiatune_


RSS Feed for this entry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: