Anak Muda Kurang Hargai HaKI

Bisa tampil modis dan trendy pada usia muda memang menjadi idaman banyak orang. Tidak jarang kita lihat, anak-anak muda senantiasa bergaya agar diperhatikan oleh orang lain.

Pada dasarnya setiap orang, apalagi anak muda, akan senang jika dirinya diperhatikan, terutama oleh sesamanya. Mereka seolah-olah hendak menunjukkan pada lingkungannya, “Inilah aku, anak muda yang modis dan trendy”, bukan “Inilah kepribadianku!”.

Adalah hal yang wajar kalau anak muda lebih mengedepankan penampilan, karena penampilan akan menciptakan kesan pertama bagi lingkungannya. Namun penampilan saja belum cukup jika kepribadian aslinya yang kelak akan dimunculkan kurang baik.

Di dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa melihat bagaimana anak-anak muda tampil bergaya dengan cara memakai baju dan celana bermerek, termasuk aksesorisnya. Begitu pun dengan sepatu yang dipakainya.

Bukan hanya itu, mereka pun berusaha agar tidak ketinggalan zaman dengan cara mengikuti perkembangan informasi, khususnya musik dan film, baik melalui compact disc (CD) maupun video compact disc (VCD). Sayangnya, untuk bisa menampilkan gaya seperti itu tentunya sangat membutuhkan biaya yang tidak sedikit, sehingga tidak semua anak muda bisa melakukannya.

Dengan kondisi kocek anak muda yang kurang memadai, akhirnya ditempuh berbagai macam cara. Mereka melakukan jalan pintas untuk memenuhi keinginannya. Misalnya, hanya dengan uang sebesar Rp 50.000,00 mereka bisa mendapatkan celana jeans bermerek seharga Rp 200.000,00 sampai Rp 300.000,00. Padahal mereka tahu bahwa barang itu merupakan tiruan dari barang aslinya.

Selain itu, dengan harga yang cukup murah, mereka bisa memperoleh CD/VCD walaupun berupa barang hasil bajakan. Namun, mereka tetap tidak peduli. “Pokoknya bisa tampil gaya dan trendy,” ujar salah seorang dari mereka.

Kenyataan itu dipicu pula oleh para penjual. “Ini dijamin asli. Kalau palsu saya akan kembalikan tiga kali lipat,” ungkap salah seorang penjual celana jeans, seperti pernah dialami penulis di Cibadak Mall (Cimol), beberapa waktu lalu ketika Cimol masih berdiri.

Melihat kenyataan ini, anak muda terperangkap ke dalam “alam” pelanggaran hukum, dalam hal ini Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI). Ironis memang, karena di satu pihak mereka sebagai sosok anak muda yang selalu menonjolkan sikap idealismenya dengan mengkritisi sesuatu hal yang melanggar hukum, tetapi di pihak lain mereka sendiri justru melanggarnya.

Seperti diketahui, dalam beberapa tahun terakhir ini, Indonesia banyak dikritik oleh masyarakat internasional (terutama oleh Amerika Serikat dan Masyarakat Eropa), sebagai negara yang kurang memberikan perlindungan hukum yang memadai terhadap HaKI. Bahkan United States Trade Representative (USTR) mendudukkan kita sebagai negara yang masuk ke dalam kelompok “Priority Watch List” dengan sanksi Special 301 (ketentuan yang ditujukan terhadap negara-negara pelanggar HaKI Amerika Serikat) berupa kemungkinan ancaman pembalasan dagang.

Jika kita perhatikan, sikap kurang terpuji itu sebenarnya timbul dari kebiasaan keseharian di kalangan anak muda. Mereka memang telah menanamkan pola perilaku yang kurang menghargai prestasi diri sendiri dan orang lain dalam berbagai aktivitasnya. Ketika ujian berlangsung, misalnya, mereka tidak segan-segan mencontek hasil ujian teman sekelasnya. Bukankah hal itu merupakan cerminan dari sikap seseorang (yang kurang percaya pada kemampuan intelektual diri sendiri), yang menjiplak hasil karya orang lain? Lalu, tidak jarang pula kita lihat banyak anak muda yang meminjam catatan kuliah temannya (mungkin karena sikap malasnya) untuk sekedar memfotokopinya. Mereka begitu enak dan mudahnya memperoleh “karya tulis” milik temannya, yang mungkin catatan kuliah itu telah diberi disain berupa gambar, garis, warna, dan sebagainya dengan menggunakan spidol atau stabilo yang menjadikan disainnya menjadi karya seni yang indah.

Dalam menghadapi tantangan globalisasi (era perdagangan bebas) ini, anak muda semestinya sadar akan sikapnya yang kurang terpuji itu. Sikap-sikap tersebut harus segera dihentikan, karena akan merugikan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Ingatlah pada sanksi Special 301 yang secara tidak langsung akan menghambat perekonomian negara. Bukankah anak muda turut berperan dalam proses penghancurannya? Hal ini merupakan kebalikan dari semangat anak muda yang hendak membangun bangsa dan negaranya.

Apalagi persetujuan TRIPs (Trade Related Aspects of Intellectual Property Rights/Aspek-aspek Dagang yang Berkaitan dengan Hak atas Kekayaan Intelektual) yang merupakan annex (lampiran) dari persetujuan WTO (World Trade Organization), telah diratifikasi oleh Indonesia melalui Undang-undang No. 7 tahun 1994 tentang Pengesahan Persetujuan Pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Dengan diratifikasinya persetujuan WTO, otomatis TRIPs yang tercantum di dalamnya telah berlaku sejak tanggal 1 Januari 1995 lalu. Khusus bagi Indonesia, sebagai negara berkembang, diberi kesempatan selama lima tahun untuk menyesuaikan diri terhadap ketentuan-ketentuan persetujuan TRIPs. Dengan demikian mulai tanggal 1 Januari 2000 ketentuan-ketentuan itu telah berlaku efektif.

Salah satu alasan mengapa HaKI perlu dilindungi? Karena HaKI merupakan hak yang diberikan kepada seorang pencipta di bidang ilmu pengetahuan, seni dan sastra, ataupun inventor di bidang teknologi baru yang mengandung langkah inovatif, merupakan wujud dari pemberian suatu penghargaan dan pengakuan atas keberhasilan manusia dalam melahirkan karya-karya inovatifnya. (Perlindungan Hak atas Kekayaan Intelektual Masa Kini dan Tantangan Menghadapi Era Globalisasi Abad 21, Mieke Komar Kantaatmadja dan Ahmad M. Ramli, 1998).

Berbicara tentang HaKI, memang kita akan membicarakan sumber daya manusia (SDM) berikut hasil karyanya. Bagi Indonesia, yang kaya akan sumber daya alamnya (Jeopang punya apa?) penyediaan SDM mutlak perlu lebih ditingkatkan.

Perlindungan itu merupakan wujud dari penghargaan terhadap kemampuan intelektual manusia, karena HaKI sendiri berarti hak atas kekayaan yang timbul dari kemampuan intelektual manusia. Berkaca pada keberhasilan Jepang, bukankah dengan SDM-nya suatu bangsa bisa maju dan bersaing dengan bangsa-bangsa lainnya?

Oleh karena itu, sebagai langkah awal, anak muda semestinya sadar akan sikapnya selama ini. Mereka harus meningkatkan kesadaran hukumnya, dalam hal ini yang berkaitan dengan HaKI. Namun kita tidak bisa menyalahkan semuanya kepada anak muda. Rendahnya tingkat kesadaran hukum anak muda disebabkan oleh lingkungannya yang tidak kondusif, karena sistem hukumnya kurang mendukung.

Banyak anak muda yang sering melihat ketidaktegasan para aparat penegak hukum, seperti dalam kasus KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme), narkoba (narkotika dan obat-obatan terlarang) dan pembajakan hak atas kekayaan intelektual. Mengingat bahwa hukum itu memerlukan paksaan dalam penataan ketentuan-ketentuannya, maka dapat dikatakan bahwa hukum memerlukan kekuasaan bagi penegaknya.

Tanpa kekuasaan, hukum itu tak lain akan merupakan kaidah sosial yang berisikan anjuran belaka. Sebaliknya, kekuasaan memaksa itu sendiri, baik mengenai cara maupun ruang gerak atau pelaksanaannya diatur oleh hukum (Fungsi dan Perkembangan Hukum dalam Pembangunan Nasional, Mochtar Kusumaatmadja, 1970). Dalam hal ini, beliau menyatakan bahwa hukum tanpa kekuasaan adalah angan-angan, sedangkan kekuasaan tanpa hukum adalah kelaliman.

Ketidaktegasan para aparat penegak hukum dalam menegakkan hukum HaKI, bukan berarti anak muda harus menjadi apatis. Justru mereka harus bisa meningkatkan kesadaran hukumnya, untuk belajar menghargai prestasi (karya cipta hasil kemampuan intelektual manusia). Sebab dengan prestasi (kualitas SDM) anak muda, yang merupakan generasi penerus harapan bangsa, Indonesia akan tetap eksis dan mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lainnya.

Novan Herfiyana

*) Tulisan ini dimuat di Harian Umum Galamedia edisi Rabu, 23 Februari 2000.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: