Penegakan Hukum Lewat Kesadaran Hukum Masyarakat

Semakin maraknya aksi kekerasan, kejahatan, dan kerusuhan yang terjadi di lingkungan masyarakat akhir-akhir ini, sempat menimbulkan keprihatinan banyak pihak. Pihak pemerintah dan tentunya masyarakat luas sangat mencemaskan dengan semakin meluasnya serangkaian aksi kejahatan, kekerasan, dan kerusuhan yang melibatkan massa cukup banyak tersebut, mulai dari kasus kerusuhan Situbondo, Tasikmalaya, serta Sanggau Ledo Kabupaten Sambas, misalnya.

Jika sebelumnya masyarakat menganggap bahwa kasus-kasus kejahatan itu dirasakan masih jauh dari lingkungan tempat tinggal kita, maka kini berbagai aksi kejahatan itu seakan-akan berada di tengah-tengah lingkungan kita sendiri.

Namun, jika kita perhatikan, terjadinya berbagai aksi pelanggaran hukum yang merebak akhir-akhir ini, bukan hanya disebabkan oleh kurang tegasnya para penegak hukum di dalam usahanya untuk melaksanakan penegakan hukum, tetapi juga disebabkan oleh rendahnya kesadaran hukum masyarakat itu sendiri dalam mematuhi hukum.

Banyaknya pelanggaran hukum itu bisa dikatakan sebagai akibat dari norma-norma hukum (yang meliputi perintah-perintah, larangan-larangan, berikut sanksi-sanksinya) yang diciptakan tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Setidaknya hal itulah yang mendapat perhatian dari Panglima ABRI Jenderal TNI Feisal Tanjung pada pengarahannya di hadapan peserta Rakernas Mahkamah Agung di Yogyakarta, baru-baru ini. Ia mengatakan bahwa selama ini, masyarakat merasakan perjalanan hukum belum seperti apa yang diharapkannya.

Dia mengungkapkan bahwa timbulnya berbagai gejolak dan meningkatnya perbuatan anarkhi yang terjadi akhir-akhir ini, tidak lepas dari adanya penumpukan rasa tidak puas yang makin meluas. Semua itu merupakan bukti dari adanya kesenjangan antara kesadaran hukum masyarakat yang makin meningkat dengan segelintir aparat pemerintah yang cenderung bersifat statis serta tidak berupaya meningkatkan profesionalisme di bidang tugasnya. (Media Indonesia, 8 Januari 1997)

Jika dibiarkan berlarut-larut, banyaknya pelanggaran hukum itu tentu saja bisa menimbulkan kebobrokan. Dalam hal ini timbul pertanyaan: apakah karena penegak hukumnya bobrok sehingga berakibat masyarakat menjadi bobrok, atau malah sebaliknya.

Untuk menjawab pertanyaan ini, menurut Pakar Hukum Tata Negara Yusril Ihza Mahendra yang dimuat dalam Harian “Merdeka” edisi 5 Januari 1997, setidaknya ada tiga faktor yang saling berkaitan, yaitu:

Pertama, mungkin hukum yang diciptakan itu tidak adil, sehingga hukum itu sendiri tidak mempunyai kekuatan filosofis yang berlaku atau mungkin hukum yang diciptakan itu bertentangan dengan kesadaran hukum masyarakat sendiri.

Kedua, kelemahan aparatur penegak hukum yang tidak mampu untuk menegakkan hukum, sehingga menyebabkan krisis kepercayaan. Dan yang ketiga, adalah kurangnya kesadaran hukum masyarakat.

Krisis kepercayaan yang menghinggapi masyarakat itu misalnya, adanya perasaan takut terhadap polisi. Masyarakat sudah tidak merasa terlindungi lagi oleh polisi. Bahkan masyarakat awam beranggapan lebih baik tidak berurusan dengan polisi jika tak ingin susah.

Selain itu, kurangnya kesadaran masyarakat pun bisa terlihat dari kesadaran berlalu lintas, misalnya. Atau ketika kita ingin cepat-cepat menyelesaikan masalah seperti dalam membuat surat izin yang terkadang melewati jalan belakang. Hal itu mencerminkan sikap egois yang melanda masyarakat. Sikap arogansi pribadi sangat nyata. Di satu sisi masyarakat menginginkan adanya kepastian hukum dalam bidang yang satu, namun di sisi lain masyarakat justru selalu melanggarnya.

Kita tentunya sangat mendambakan suatu hukum yang sesuai dengan keinginan kita. Dalam arti bahwa hukum itu, mampu menciptakan peraturan-peraturan yang mengatur hubungan-hubungan dan melindungi kepentingan-kepentingan kita (masyarakat) di dalam pergaulan hidupnya yang damai dan adil untuk mencapai ketertiban hidup bermasyarakat.

Namun untuk sementara ini, hal itu nampaknya cukup sulit untuk dilakukan. Timbulnya keinginan untuk menciptakan hukum yang sesuai dengan keinginan kita bisa saja berubah dari waktu ke waktu. Hal itu sangat beralasan karena hukum itu sangat banyak seginya. Yang perlu diingat adalah bahwa kehidupan manusia itu bersifat dinamis. Ia berkembang sesuai roda kehidupan. Konsekuensinya, apa yang diinginkan oleh kita pada saat ini, bisa saja berubah pada masa yang akan datang. Upaya pembentukan hukum senantiasa selalu kalah cepat dengan kemajuan waktu.

Mengingat permasalahannya yang cukup kompleks ini, kita mesti introspeksi. Segala sikap dan tindakan kita memang selalu dipengaruhi oleh lingkungan kita sendiri. Kita selalu sulit untuk menjadi diri sendiri yang taat hukum.

Sikap ini timbul mungkin dari adanya kesenjangan antara tuntutan idealisme dengan kenyataan yang ada. Ironisnya, adanya perilaku korupsi, kolusi, dan manipulasi itu membuat kita terpengaruh. Kita selalu merasa rugi jika tidak mengikuti sikap yang melanggar hukum tersebut, bukan sebaliknya. Sikap taat hukum untuk menciptakan kehidupan yang tertib sudah digantikan oleh sikap curang dengan menghalalkan segala cara.

Kesadaran hukum tentunya harus tertanam dalam diri kita sendiri. Karena diri pribadi (individu, mengambil istilah sosiologi) merupakan subyek yang bisa melakukan sesuatu, berkehendak, bahkan menilai segala tindakannya sendiri. Dengan kata lain adalah bahwa individu merupakan subyek yang bertindak.

Jika sekumpulan orang taat hukum bisa terwujud, maka semakin banyak orang yang taat hukum, negara kita akan hidup dalam suasana yang damai dan adil. Pada gilirannya doktrin rule of law dalam konstruksi negara hukum bisa segera terwujud sebagaimana mestinya.

Novan Herfiyana

*) Tulisan ini dimuat di Harian Umum Pikiran Rakyat edisi Sabtu, 22 Februari 1997.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: