Prospek Bahasa Indonesia di Dunia Internasional

Dalam memasuki era globalisasi ini, kebanggaan para pengusaha dalam menggunakan bahasa Indonesia cenderung menurun. Mereka dalam menyampaikan informasinya lebih tertarik menggunakan bahasa asing. Hal ini memang cukup dimengerti. Mereka menggunakan bahasa asing itu semata-mata hanya sebagai prestise, lambang kemajuan, dan tingkat kehidupan modern. (Pikiran Rakyat, 25 Juli 1995)

Namun jika kita perhatikan, sebenarnya penggunaan istilah asing pada media iklan dan reklame itu tidak mesti dilakukan semasa masih ada padanan katanya dalam bahasa Indonesia. Bahkan masyarakat pun menilai bahwa penggunaan bahasa Indonesia pada nama-nama kompleks perumahan, toko-toko, dan lain-lain, masih terkesan indah.

Sebaliknya, penggunaan istilah asing yang berlebihan dalam bahasa nasional tanpa mencoba memperhatikan apakah istilah itu mempunyai padanan dalam bahasa Indonesia mencerminkan sikap masa bodoh terhadap bahasa sendiri. (Mutiara No. 767, 4-10 Juli 1995)

Hal ini dapat kita lihat bagaimana sibuknya para pengusaha dalam mencari padanan kata untuk mengganti istilah asing “ciptaannya”.

Padahal, kita sebagai bangsa dan warganegara Indonesia semestinya bangga memiliki bahasa negaranya sendiri, yakni bahasa Indonesia. Bagaimana tidak, sebagian besar negara mempunyai bahasa negara dari bangsa yang pernah menjajahnya. Beberapa negara di kawasan Pasifik Selatan, misalnya. Negara-negara seperti Australia, Selandia Baru, dan Fiji itu menggunakan bahasa Inggris, bahasa dari bangsa yang pernah menjajahnya.

Bisa juga kita lihat di Afrika. Sebagian besar negara di Afrika itu menggunakan bahasa Perancis, sebuah bahasa yang diperoleh dari bangsa yang pernah menjajahnya. Atau beberapa negara Amerika Latin yang menggunakan bahasa Latin. Sebab negara-negara kawasan Amerika Selatan itu pernah disinggahi bangsa Spanyol dan Portugis.

Dengan melihat kenyataan itulah, kita patut bangga memiliki bahasa Indonesia. Bahkan bahasa Indonesia memiliki nilai lebih daripada bahasa negara lainnya. Nilai-nilai lebih itu bisa dijadikan syarat sebagai bahasa internasional.

Syarat-syarat untuk menjadi bahasa internasional itu, seperti dikutip dalam buku “Membina Bahasa Indonesia” karya Asis Safioedin, SH. (sebagian pernah dikemukakan oleh Guru Besar Ilmu Bahasa Umum dari Republik Demokrasi Jerman, Harry Spitzbardt) adalah: Pertama, bahasa Indonesia merupakan bahasa perhubungan sehari-hari yang digunakan oleh lebih dari 180 juta penduduk, suatu jumlah penduduk bahasa yang cukup besar.

Kedua, bahasa Indonesia memiliki bentuk dan susunan bahasa yang sangat sederhana, sehingga orang asing akan jauh lebih mudah mempelajarinya. Ketiga, penggunaan bahasa Indonesia di negara Indonesia merupakan penggunaan yang tidak dibuat-buat, tapi merupakan sesuatu yang wajar karena kesadaran rakyatnya.

Keempat, di dalam bahasa Indonesia boleh dikatakan tidak terdapat perbedaan sama sekali antara ucapan dengan tulisan kata-katanya. Kelima, bahasa Indonesia dengan senang hati menerima kata-kata asing dalam perbendaharaan kata-katanya terutama untuk kepentingan pengetahuan.

Keenam, bahasa Indonesia diberikan sebagai bahasa pengantar dalam perwujudannya sebagai bahasa resmi pada semua tingkat pendidikan dari taman kanak-kanak sampai ke perguruan tinggi. Dan yang ketujuh, bahasa Indonesia digunakan sebagai sarana untuk menuliskan segala sesuatu yang diperlukan dalam bidang ilmiah.

Dengan demikian bahasa Indonesia tersebut memiliki standar yang seimbang dengan bahasa internasional, yaitu bahasa Inggris. Bahkan bukan tidak mungkin bisa dijadikan sebagai calon bahasa internasional di samping bahasa Inggris. Atas dasar bahwa bahasa Indonesia sebagai calon bahasa internasional itulah, Australia menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa asing pertama yang diajarkan di Sekolah Menengah Australia.

Di Indonesia sendiri, sejak tahun 1970 pemerintah memberi penghargaan penting dengan menjadikan bahasa Indonesia sebagai mata kuliah di beberapa perguruan tinggi.

Oleh karena itu, kita semestinya bangga memiliki bahasa Indonesia yang diperhatikan dunia.

Novan Herfiyana

*) Tulisan ini dimuat di Harian Umum Pikiran Rakyat edisi Minggu, 30 Juli 1995.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: