Perjalanan Wisata Bandung-Sindangbarang via Ciwidey

1 Januari 2018

Berharap keramaian oleh rombongan touring yang hilir mudik di akhir pekan, terlebih di libur panjang pengujung tahun (2017), saya melakukan perjalanan wisata Bandung-Sindangbarang via Ciwidey pada hari Minggu, 31 Desember 2017. Bahkan saya memberi “bonus” sampai Agrabinta.

Sayang, meskipun ada belasan rombongan touring (ceileee, ngitung darimana?), saya menganggapnya masih sepi. Tidak seramai ketika libur lebaran (2017). Paling tidak, keadaan “sepi” itu ketika saya melintas. Entah kalau siang/sore. Entah pula kalau mereka melintasi jalur lain. Pokoknya, saya jarang dilewati oleh kendaraan (motor) dari belakang, kecuali oleh iring-iringan kecil. Padahal, jika ramai, banyak rombongan touring yang melintas atau berpapasan dengan saya. Ada juga rombongan touring yang saling menunggu di pinggir jalan, semacam warung-warung. (Bedakan antara “rombongan touring” dan “perseorangan”).

Berangkat dari rumah di kawasan utara Kota Bandung pada pukul tujuh lewat dua puluh delapan menit. Karena saya akan melintasi jalur Soreang-Ciwidey-Rancabali, tentu salah satu jalan utama yang saya lintasi yaitu Jalan Kopo-Soreang. Perjalanan lebih kurang 27 km itu, saya sudah tiba di Soreang pada pukul 08.33 WIB.

Ketika saya melintas, Jalan Kopo-Soreang tampak relatif lengang. Maksudnya, kendaraan jalan terus, kecuali di persimpangan. Biasanya, motor dan mobil berbagi jalan sehingga tampak lambat. Apakah ini dampak Tol Soroja? Entahlah! (Ini pengalaman ketika saya melintasi. Jadi, bukan “kesimpulan”. Toh saya tidak setiap waktu berada di jalan ini).

Memasuki Soreang, antrean kendaraan cukup panjang. Ada banyak petugas lalu lintas. Polri (Polantas) dan Dishub-lah he he he. Oh ya, ini kan hari Minggu, tentu ada juga pasar kaget. “Beruntung” kalau naik motor sehingga saya bisa berjalan di sebelah kiri yang sempit. Namun, harus berbagi jalan juga dengan beberapa pengendara sepeda. Tidak mudah menyalip. Jika di arah berlawanan tampak jalan lengang yang cukup panjang, saya biasanya beralih ke kanan. Itu pun kalau mobil di sampingnya memberi celah jalan untuk menuju jalur kanan. Bagaimana pun, semua dilakukan secara spontan mengingat situasi dan kondisi yang dihadapi oleh para pengguna jalan (motor).

Antrean kendaraan yang panjang itu terjadi hingga Ciwidey-Rancabali. Paling tidak, sampai pintu gerbang Wisata Kawah Putih. Ya, iyalah, saya kan sudah mendahului iring-iringan mobil. Nah, setelah Kawah Putih, perjalanan saya tidak sesibuk berbagi jalan. Lancar.

Sebelumnya, di jalur Ciwidey-Rancabali, saya beristirahat sambil mengisi BBM. Kini, di jalur Ciwidey-Rancabali sudah ada empat SPBU: di kanan, di kiri, di kanan, dan di kiri lagi. Saya mengisi BBM di SPBU pertama yang saya temui. Sebetulnya sih BBM masih penuh. Saya hanya mengisi “satu garis” saja. Namanya juga sambil beristirahat.

Saya tentu ingat dengan jalur Ciwidey-Rancabali. Di sini terdapat lima tempat wisata “legendaris”: Kawah Putih (kiri), Ranca Upas (kanan), Cimanggu (kiri), dan Walini (kanan), serta Situ Patengan (lurus atau kanan setelah persimpangan menuju Naringgul/Cidaun). Kalau Ciwidey Valley atau Green Hill Park sih termasuk baru.

Menuju Naringgul

Mulai dari Ciwidey Valley (kanan), udara cukup sejuk. Rimbun oleh pepohonan yang menjulang. Dalam perjalanan kali ini, saya menyebutnya ceudeum. Tidak cerah sebagaimana saya pernah melintas ke sini beberapa kali.

Setelah Cimanggu, kita pun memasuki jalan di wilayah perkebunan teh Rancabali. Indah dipandang mata. Pada pukul 09.59 WIB, tibalah saya di persimpangan (pertigaan): ke Situ Patengan (lurus atau kanan) dan ke Naringgul/Cidaun (kiri). Berdasarkan speedometer motor yang saya pakai, jarak dari Soreang ke persimpangan ini lebih kurang 30,5 kilometer. Soreang yang saya maksud yaitu Pasar/Terminal Soreang, bukan Kantor Pemerintah Kabupaten Bandung (sebelumnya) atau Alun-alun Soreang (sesudahnya).

Perkebunan teh Rancabali terhampar luas. Di perkebunan teh ini tampak bangunan-bangunan khas berwarna putih-biru. Sebagian besar perjalanan disajikan perkebunan teh yang diselingi sebagian kecil hutan yang carencang. Maksudnya, ada pancaran sinar matahari. Udara cukup sejuk. Ketika saya melintas, ada kabut.

Lebih kurang 17 km dari persimpangan Situ Patengan tadi (sebutlah begitu), saya memasuki Kecamatan Naringgul, Kabupaten Cianjur. Tampaknya sedang ada pembangunan. Sepertinya membuat gapura (pintu gerbang) Kecamatan Naringgul. Saya hapal daerah ini karena jalan sudah diiringi hutan. “Gelap”. Jika tidak ada kendaraan yang melintas atau berpapasan tampak sepi. Saya mengalaminya.

Diselingi warung-warung dan perumahan warga, jarak dari  gapura Kecamatan Naringgul ke gapura Kecamatan Cidaun ini ternyata 29,7 km. Selain berkelok-kelok, ada jalan-jalan menanjak (ke utara) dan menurun (ke selatan) yang curam. Saya menyebutnya sangat curam. Kondisi kendaraan (terutama mobil) mesti fit. Rem mesti pakem. Apalagi jika keadaan jalan macet karena musim liburan. Jika kosong, kan bisa ancang-ancang. Ngawahan. Kalau motor, jika darurat, minimal bisa dituntun. Begitulah kira-kira. (Kalau motor, nggak usah diomonginlah. Saya berbicara tentang mobil).

Saya kira, selain berkelok-kelok dan tanjakan/turunan curam, mungkin sempit itulah yang menjadi kendala. Bersyukur, biasanya, ada beberapa warga yang mengatur giliran ketika berpapasan. Di wilayah ini, saya berpapasan dengan mobil elf trayek Ciwidey-Cidaun yang berwarna pink. (Oh ya, ketika saya melintas, keadaan jalan sudah dibeton dan diaspal sehingga menurut pandangan saya bisa “mengurangi” curam tadi. Bisa dikatakan ada perbaikan).

Sebelumnya, di Naringgul pula saya beristirahat sejenak di Curug Ceret. Warga menyebutnya begitu. Curug yang berada di pinggir jalan (belokan). Di warung “dadakan”. Ngopi-ngopi dulu. Saya memang sudah merencanakannya. Minimal bisa mengamati curug he he he. Ternyata, saat itu, airnya tidak besar. Dalam perjalanan terdahulu, saya pernah menyaksikan curug ini dengan aliran air yang besar. Saat itu, ada beberapa orang dari rombongan touring yang mandi ha ha ha. Mungkin airnya sejuk. Ada kalanya pula curug ini kering ketika kemarau.

Perjalanan dilanjutkan. Dari Curug Ceret, lebih kurang 18,4 km kemudian, saya memasuki gapura Kecamatan Cidaun. Oh ya, jika sejak dari Bandung, saya menggunakan kecepatan 30-40 km/jam, sejak dari Curug Ceret ini, saya sering menggunakan kecepatan 50-60 km/jam. Ini bukan soal kecepatan “balapan”, tetapi untuk menggambarkan saking lengangnya lalu lintas. Lagipula, itu secara tak sengaja muncul di speedometer. Biasanya kita suka tak menyadari. Kecepatan berkurang biasanya ketika permukaan jalan tidak rata. Garinjul.

Persimpangan Cidaun

Lebih kurang 29,7 km melintasi jalan di wilayah Kecamatan Naringgul, saya sudah melewati gapura Kecamatan Cidaun. Lebih kurang 6,9 km kemudian, saya sudah tiba di persimpangan (pertigaan) Cidaun pada pukul 11.54 WIB. Ya, persimpangan Cidaun. Sebut saja begitu.

Kira-kira 50-100 meter sebelum persimpangan (pertigaan), kita sudah bisa menyaksikan keindahan laut lepas dari kejauhan. Dari persimpangan (pertigaan) ini: ke kiri, Pantai Jayanti (4 km) dan Rancabuaya (26 km), atau balik lagi ke Bandung via Cisewu/Talegong/Pangalengan atau ke Cikelet/Pameungpeuk (Garut); ke kanan, Sindangbarang, ke belakang, ke Bandung via Cidaun/Naringgul.

Karena tujuannya ke Sindangbarang, saya tentu belok kanan atau ke arah barat. Lebih kurang 200-300 meter di sebelah kiri hampir sepanjang perjalanan tampak pantai. Hal yang berbeda dari Garut, di Cianjur ini sudah banyak perumahan warga, meskipun kebanyakan di pinggir jalan. Ada kalanya pantai atau laut terhalang oleh bukit pasir. Saya kira, mirip di Pantai Parangtritis, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta. Namun, di Cianjur ini bukanlah tempat wisata. Selain itu, berbeda dari Garut, perjalanan motor saya tidak merasakan adanya tiupan angin dari laut. Paling tidak, itu yang saya rasakan. Sebetulnya, lebih banyak pepohonan juga.

Pemandangan di Jalan Cidaun (sebutlah begitu), selain perumahan warga, diiringi pula oleh pepohonan (hutan/kebun) dan persawahan. Di Jalan Cidaun ini, lalu lintas kendaraan lebih ramai lagi. Sebagian besar jalan beraspal mulus, juga (masih) dibeton saja. Berapa kecepatan motor yang saya naiki? Bisa 70-80 km/jam atau bahkan lebih. Soalnya, jalan lurus dan belokannya relatif lurus. Saya tidak memaksakan lebih dari 80-90 km/jam. Mur-nya sieun muruluk seperti di film kartun he he he. Paling-paling 50-60 km/jam saja.

Dari persimpangan (pertigaan) Cidaun tadi, lebih kurang 15,5 km kemudian, saya memasuki gapura Kecamatan Sindangbarang. Dari gapura Kecamatan Sindangbarang ini, 8,1 km kemudian, saya mengisi BBM di SPBU untuk mengisi “dua garis” yang terpakai. Inilah SPBU pertama yang saya temui sejak dari Ciwidey-Rancabali tadi. Sebetulnya, ada SPBU satu lagi yaitu di Pantai Jayanti. Kalau Pertamini atau warung bensin eceran banyak ditemukan. Beristirahat sejenak di SPBU ini.

Setelah beristirahat di SPBU, lebih kurang 2,9 km kemudian, saya sudah berada di Alun-alun Sindangbarang, Kabupaten Cianjur. Di persimpangan ini, jika belok kanan maka akan menuju kawasan utara Kabupaten Cianjur, sedangkan jika lurus maka akan menuju Agrabinta.

(Catatan: Pada papan petunjuk jalan di persimpangan Cidaun tertulis: Sindangbarang [26 km]. Itu berarti ke Alun-alun Sindangbarang dan bukan ke gapura Kecamatan Sindangbarang. Coba perhatikan: 15,5 km + 8,1 km + 2,9 km = 26,5 km. Sementara itu, ke Cianjur [maksudnya ke kawasan utara Kabupaten Cianjur], 136 km. Saya mencatatnya 26,5 km + 106,5 km = 133 km. Tidak berbeda jauh. Berbeda 3 km he he he. Ya, sudahlah, nikmati saja perjalanannya…).

Berkelana ke Agrabinta

Di Alun-alun Sindangbarang, waktu menunjukkan pukul satu siang. Mau langsung ke kawasan utara Kabupaten Cianjur? Saya malah berkelana ke Agrabinta. Ya, dari Alun-alun Sindangbarang, saya berjalan lurus ke Agrabinta, bukan belok kanan ke kawasan utara Kabupaten Cianjur. Lebih kurang 200-300 meter dari arah Alun-alun Sindangbarang tampak dua sungai besar yaitu Sungai Cisedah dan Sungai Ciselang. Jalan di jembatannya sedang diperbaiki.

Awalnya, jalannya rusak. Setelah itu, sebagian besar jalannya bagus. Beraspal mulus. Bahkan jalannya cenderung masih hitam dan bukan abu-abu. Terlihat masih baru, begitulah kira-kira. Marka garisnya masih bagus. Di jalur Perkebunan Agrabinta ini seperti sirkuit balapan. Saya menyebutnya seperti sirkuit sendiri. Jalanan lengang. Saking lengangnya, 3-4 penggembala menggembalakan sapinya melintas jalanan. Keadaan seperti itu hampir sama ketika saya melintasi jalan di perkebunan Miramare. Di perkebunan Agrabinta, sesekali berpapasan dengan mobil/motor dari arah berlawanan. Saya menikmati saja. Kecepatan motor bisa tinggi. Terbawa arus sih hi hi hi. Sadar atau tidak sadar biasanya turut berpengaruh. Saya mengurangi kecepatan. Sekali lagi, mur-nya sieun muruluk he he he. Wuih, ada satu pengendara motor yang berkecepatan lebih tinggi mendahului saya. Jauh melesat!

Di jalan perkebunan Agrabinta ini diiringi pepohonan. Setelah itu, jalan “biasa”. Pemandangannya indah. Di sebelah kanan (utara) tampak pegunungan dan di sebelah kiri (selatan) tampak laut dari kejauhan.

Singkat cerita, setelah melewati jembatan Sungai Cibuni, sungai besar, saya sudah berada di Kecamatan Tegalbuleud, Kabupaten Sukabumi. Jarak dari Alun-alun Sindangbarang ke Tegalbuleud ini lebih kurang 53 km. Berarti jika balik lagi ke Alun-alun Sindangbarang, perjalanan saya akan menempuh 53 km lagi. Total, 106 km.

Di Tegalbuleud, waktu sudah menunjukkan pukul 14.01 WIB. Di sini terdapat persimpangan (pertigaan): Surade/Ujunggenteng (lurus) atau Sagaranten/Sukabumi (kanan).

Sukabumi-Bandung atau Cianjur-Bandung sama jauhnya. Khawatir kemalaman, karena saya tidak menginap (biasa juga begitu he he he), saya balik lagi ke Alun-alun Sindangbarang. Menempuh perjalanan 53 km lagi, saya tiba di Alun-alun  Sindangbarang pada pukul 15.10 WIB.

Saya langsung belok kiri saja menuju kawasan utara Kabupaten Cianjur yang berujung di Terminal Pasir Hayam. Di persimpangan (Alun-alun Sindangbarang) ini terdapat bus trayek Pangandaran-Sindangbarang yang sedang mengetem.

Kawasan Utara Kabupaten Cianjur

Perjalanan dari Alun-alun Sindangbarang menuju kawasan utara Kabupaten Cianjur, saya menempuh jarak lebih kurang 106,5 km. Kira-kira setengah dari total perjalanan, ada beberapa persimpangan yang dilengkapi papan petunjuk jalan berwarna hijau.

Jalur perjalanan yang saya lintasi yaitu Sindangbarang-Cibinong-Tanggeung-Pagelaran-Sukanagara-Campaka-Cibeber-Cilaku. Itulah nama-nama kecamatan di Kabupaten Cianjur yang saya lewati. Semuanya dilengkapi gapura sehingga saya bisa menghapalnya.

Keadaan jalan jauh lebih ramai. Agar tidak kemalaman, saya sering menyalip kendaraan, terutama mobil. Sayang, permukaan jalan banyak yang tidak rata. Namun, ada juga yang mulus. Silih berganti.

Di awal perjalanan tampak sungai. Selain perumahan warga dan warung-warung, tampak pepohonan. Hutan. Ada juga curug di pinggir jalan seperti di Naringgul tadi. Juga, jauh di depan, ada perkebunan teh.

Setelah perjalanan dari Agrabinta tadi, BBM motor yang saya pakai menipis. Tinggal “1-2 garis” lagi. Bahkan tinggal “satu garis”, tetapi belum kedap-kedip. Sejak SPBU di Sindangbarang, saya tidak menemukan SPBU lagi. Saya baru menemukan SPBU di Sukanagara. Oh ya, saya mencari SPBU karena seru saja. Harap-harap cemas, begitu. Berimajinasi. Padahal, di sepanjang perjalanan terdapat Pertamini, khusus di “jalur pulang” ini lebih banyak bensin eceran yang sudah dimasukkan ke dalam botol.

Beristirahat di SPBU Sukanagara sambil mengisi penuh BBM. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.02 WIB. Kelak, hingga ke kawasan utara Kabupaten Cianjur, ada 4-6 SPBU yang bisa ditemui.

Setelah beristirahat, saya meneruskan perjalanan. Ada drumband Satpol PP dari arah berlawanan. Iring-iringan kendaraan, terutama mobil, terhambat. Beruntung, saya berjalan ke arah sebaliknya.

Sampai akhirnya, saya tiba di persimpangan Terminal Pasir Hayam pada pukul 18.12 WIB. Ada marka bundaran di sini. Saya mengikuti arah putaran menuju Bandung. Sejak itu, setiap di persimpangan (perempatan) lampu merah (dua kali), saya belok kanan (dua kali) menuju Bandung.

Sungguh bingung. Saya pangling. Lampu merahnya “aneh”. (Wah, saya perlu “penelitian” nih he he he). Asyik, ada bus MGI trayek Bandung-Sukabumi. Ya, saya ikuti saja. Dari persimpangan Terminal Pasir Hayam menuju jembatan Sungai Citarum (Rajamandala) berjarak lebih kurang 26,6 km. Lalu, 42,7 km kemudian, saya sudah tiba di rumah di kawasan utara Kota Bandung pada pukul 20.23 WIB. Perjalanan saya hari ini sudah menempuh jarak 418,6 km.

Perihal kegiatan (perjalanan) ini, saya biasa mengatakan guyon kepada teman-teman: “ngukur jalan”.

Iklan