Perjalanan Wisata Bandung-Bayah via Palabuhanratu

6 Juli 2018

Salah satu bagian di kawasan pantai wilayah Bayah.

Dua kali menemukan marka bundaran –salah satunya Bundaran Terminal Pasirhayam– dan dua kali pula memutarinya 360 derajat merupakan pengalaman lucu saya dalam perjalanan wisata kali ini. Ya, setelah memutar, saya lupa belok ke arah yang seharusnya sehingga saya pun memutarinya sekali lagi. Itu perjalanan malam ketika pulang. Soalnya, papan petunjuk arahnya sulit terbaca. Agak gelap. Mungkin juga saya-nya eror kalau malam ha ha ha. Itulah pengalaman saya ketika melakukan perjalanan wisata Bandung-Bayah via Palabuhanratu, Kamis, 5 Juli 2018.

Oh ya, dalam perjalanan kali ini, saya menyaksikan dua kali insiden secara langsung ketika pengendara motor menabrak motor dan mobil. Ini soal jaga jarak para pengendara.

Selain itu, saya sering merasa sebal ketika sebagian pengendara motor membunyikan klakson untuk tujuan menyalip kendaraan di depannya, termasuk pada kendaraan (motor) saya. Motor menyalip motor. (Kalau mobil sih jarang karena mobil jarang menyalip. Peluangnya sedikit he he he). Klakson memang memiliki fungsinya, tetapi bagi saya, kalau tidak mampu menyalip ya sudah, sabar saja. Berhati-hati saja. Nanti juga ada waktunya. [Baca juga: Bunyi Klakson yang Membuat Berisik.]

Terlepas dari fungsinya, bunyi klakson itu sebetulnya mengganggu konsentrasi pengendara di depannya karena tidak mengetahui bunyi klakson itu untuk pengendara yang mana. Saya masih memaklumi kepada rombongan touring yang menyalakan dan/atau membunyikan “sirene”. Untuk hal seperti ini, saya biasanya memberikan jalan. Satu lagi, bunyi klakson untuk mobil, OK-lah karena pengendara mobil biasanya memberikan “peringatan” kepada motor untuk berhati-hati karena motor itu berkesempatan besar untuk menyalip selap-selip (meskipun tidak harus membunyikannya juga).

Soal bunyi klakson memang tidak hanya terjadi di waktu touring. Di keseharian juga termasuk fenomena yang mencengangkan! Bahkan cenderung irrasional. Memangnya bisa menerobos kemacetan? Apa boleh buat, kalau sudah kebiasaan, diterapkan di mana dan kapan saja.

Bandung-Palabuhanratu

Untuk menuju Bayah, sesuai dengan rencana perjalanan saya, saya melintasi jalur Bandung-Palabuhanratu. Sebelum itu, untuk menuju Palabuhanratu, saya melintasi jalur Bandung-Cianjur-Sukabumi.

Saya mulai berangkat dari rumah di kawasan utara Kota Bandung pada pukul tujuh lebih tiga puluh dua menit. Saat itu, secara keseluruhan, cuaca cerah dan bahkan hingga pulang. Cuaca mendung ketika saya melintasi Bantargadung (Sukabumi).

Untuk menuju Cianjur, saya melintasi Jalan Raya Bandung-Cianjur (baca juga: Jalan Raya Bandung-Padalarang-Rajamandala). Saya pun tiba di jembatan sungai Citarum (Rajamandala) pada pukul delapan lebih empat puluh tujuh menit setelah menghimpun jarak 37,8 km dari rumah. Lalu, ikuti terus arah Sukabumi. (Kali ini, saya tidak memasuki jalur Cianjur [Kota]. Kalau pun masuk Cianjur [Kota], tetap masih ada petunjuk arah Sukabumi).

Lebih kurang 27 km dari jembatan sungai Citarum (Rajamandala), saya tiba di Bundaran Terminal Pasirhayam pada pukul sembilan lebih tiga puluh sembilan menit. Dari Bundaran Terminal Pasirhayam, saya belok kiri dan melintasi jalur Cianjur-Sukabumi.

Jika perjalanan Bandung-Palabuhanratu terdahulu (Minggu, 24 Juni 2018), di jalur Cianjur-Sukabumi, terutama di kawasan Kota Sukabumi, saya sempat belok kiri ke jalan alternatif Pelabuhanratu daripada Bogor/Jakarta maka perjalanan kali ini saya berjalan lurus dan kemudian akhirnya tetap memilih jalan alternatif Pelabuhanratu. Soalnya, kalau lurus, akan menuju Bogor dan pusat kota.

Melalui jalur alternatif Pelabuhanratu yang “kedua” (sebut saja begitu) berujung di awal Jalan Lingkar Sukabumi (Jalan Raya Baros) untuk kemudian melewati Terminal Kota Sukabumi. Saya kira, jalur alternatif “kedua” ini, jalannya relatif sempit. Jadi, lebih baik memasuki jalan alternatif “pertama”. (Pertama di sini maksudnya persimpangan pertama yang ditemui, sedangkan kedua maksudnya persimpangan kedua yang ditemui. Itu merupakan persimpangan [belok kiri] untuk melintasi jalur alternatif Pelabuhanratu).

Jalur Sukabumi-Palabuhanratu pun dilintasi. Ada jalan raya Situmekar, Cikembar, Cikembang, Bantargadung, dan Palabuhanratu.

Hingga akhirnya, saya tiba di persimpangan (pertigaan): lurus ke Palabuhanratu dan kiri ke Surade (Geopark). Persimpangan ini ditandai dengan adanya Sungai Cimandiri. (Jika ke Surade/Ujunggenteng tentu akan melewati jembatan Sungai Cimandiri). Di papan petunjuk persimpangan ini terdapat tulisan: Surade (55 km) dan Ujunggenteng (77 km). Karenanya, saya pun berjalan lurus menuju Palabuhanratu.

Di balik perbukitan, muncullah kawasan kota Palabuhanratu. Saya pun tiba di Pantai Palabuhanratu (Pantai Citepus) pada pukul 12.35 WIB. Berarti perjalanan Bandung-Palabuhanratu mencapai lima jam lebih tiga menit. (Kelak, pulangnya, setengah jam lebih cepat. Lebih banyak menyalip kendaraan di waktu malam).

Palabuhanratu-Bayah

Perjalanan wisata dari Palabuhanratu ke Bayah sungguh mengasyikkan. Apalagi keadaan jalan Palabuhanratu-Cisolok yang bagus beraspal mulus. Kelak, ketika saya melintasi Bayah, keadaan jalan sedang diperbaiki. Dicor beton (mungkin juga sekaligus diaspal). Ketika saya melintas, jika kecepatan motor di Palabuhanratu-Cisolok bisa 60-80 km/jam maka di Bayah hanya bisa 10-30 km/jam.

Laut yang terlihat di Jalan Raya Palabuhanratu-Cisolok. Sejatinya pemandangan ini dipotret di jalan di atas bukit.

Palabuhanratu merupakan nama kecamatan di Kabupaten Sukabumi Provinsi Jawa Barat, sedangkan Bayah merupakan nama kecamatan di Kabupaten Lebak Provinsi Banten. Sesudah Palabuhanratu, kita masih akan melintasi Kecamatan Cisolok (Kabupaten Sukabumi), sedangkan sebelum Bayah, kita masih akan melintasi Kecamatan Cilograng (Banten).

Di Jalan Raya Palabuhanratu-Cisolok, keadaan jalan bagus beraspal mulus. Jalan menanjak dan menurun sekaligus berkelok-kelok. Tanjakan dan turunan serta belokannya curam. Di jalur ini pemandangan lautnya menarik.

Di jalur Palabuhanratu-Cisolok ini terdapat Pantai Citepus (Pantai Palabuhanratu) dan Pantai Karanghawu (Pantai Cisolok). Pantainya bisa dilihat di pinggir jalan. Ada juga rumah makan dan/atau hotel yang tentu memiliki (pemandangan) pantainya.

Oh ya, perjalanan di jalur Palabuhanratu-Cisolok ini seperti di jalan perkebunan Miramare dan/atau perkebunan Agrabinta. Soalnya, keadaan jalan relatif sepi. Jadinya, seperti mengendarai kendaraan di sirkuit sendiri he he he. Relatif tanpa rintangan dari arah berlawanan.

Keadaan jalan raya Palabuhanratu-Cisolok seperti di perkebunan Miramare dan perkebunan Agrabinta.

Untuk menuju Bayah, di jalur Palabuhanratu-Cisolok ini terdapat dua persimpangan besar yaitu ke (Terminal) Cikotok dan (Terminal) Cipanas. Namun, saya tetap mengikuti arah RKS Bitung. Artinya, lurus atau ke kiri terus. Kelak, ada juga persimpangan menuju Pantai Sawarna/Pantai Bayah. Sementara di ujung, terdapat, antara lain Pantai Karangtaraje. Di jalur ini mobil elf trayek Palabuhanratu-Cikotok-Bayah cukup banyak yang melintas.

Memasuki wilayah Bayah, perjalanan saya terhambat keadaan jalan yang rusak. Ada juga jalan yang sedang dicor beton. Saya “beruntung” karena motor dibiarkan berjalan daripada mobil di jalan yang buka-tutup atau bergiliran. Terlepas dari itu, ada juga “jalan raya” batu bara. Itu salah satu pemandangan yang menarik di jalur ini.

“Jalan raya” untuk pengangkutan batubara di kawasan Bayah.

Perjalanan saya “berakhir” di Terminal Bayah yang beralamat di Jalan Raya Bayah-Cikotok Km 1 Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Saya tiba di Terminal Bayah pada pukul 14.32 WIB. (Waktu perjalanan Bandung-Bayah tepat selama tujuh jam, termasuk istirahat sejenak dan jalan rusak di Bayah). Di sini terdapat persimpangan, antara lain menuju Rangkasbitung (137 km), Malingping (37 km), Pelabuhanratu (62 km), dan Sukabumi (125 km).

Tadinya, sebetulnya, saya merencanakan perjalanan Bandung-Bayah-Malingping. (Teringat peta Atlas tahun 1983). Namun, waktu belum mengizinkan. Maklum, saya biasa P.P. (Pergi-Pulang) dalam sehari.

Singkat cerita, saya tiba kembali di Bandung pada pukul 21.09 WIB setelah menghimpun jarak 438,2 km. Jaraknya relatif tepat karena dalam perjalanan Bandung-Bayah-Bandung kali ini cenderung tidak tersesat. [REVISI]

Iklan